
Hari pertama keadaan semua masih tampak baik-baik saja. Zaniah dan Lillia Zeni masih
sama-sama saling membantu seperti dulu lagi. Bahkan mereka menghabiskan malam pertama dengan tidur di kamar utama berdua.
“Zan, aku balik ke kamar saja yah?” Lillia Zeni sangat tak nyaman berada di kamar utama sahabatnya.
Jika Zaniah masih single, tentu akan sah-sah saja membawa orang masuk ke kamarnya. Kini berbeda, Zaniah telah memiliki kamar tempatnya tidur dengan sang suami.
“Eeh kenapa, Zen? Kita sama-sana sendiri, lagi pula aku kesepian kalau tidur sendiri. Dulu kita sering seperti ini kan?” Pertanyaan Zaniah membuat Lillia Zeni terdiam. Ia pun tak tahu melawan dengan kata apa pada Zaniah.
Sungguh, menjadi madu sahabat terbaik begitu menyiksa perasaan Lillia Zeni. Ia bahkan tak bisa leluasa mengeluarkan isi hatinya lagi. Ada hati Zaniah yang selalu ia usahakan jaga dengan baik.
“Baiklah.” Pada akhirnya Lillia mengalah.
Keduanya menikmati kembali fiml romantis dari sebuah aplikasi yang Zaniah sengaja sambungkan dengan televisi. Meski filmnya sangat menarik, namun Lillia tidak bisa menikmati keseruan itu.
Hingga waktu kini sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Tring tring tring
Sebuah dering ponsel terdengar menggema di kamar itu. Zaniah tersenyum pada Lillia dan berniat mengambil ponselnya.
“Mas Firhan, Zen.” ujarnya sangat senang melihat nama pemanggil di ponsel itu.
Tanpa kata sahutan dari Lillia, Zaniah mengangkat panggilan suaminya.
“Halo, Mas.” sapanya lembut.
“Sayang, belum tidur? Mas baru pulang ke hotel habis pertemuan tadi.” ujar Firhan memberi tahu penyebab ia baru menelpon. Sebelumnya Zaniah hanya mendapatkan pesan singkat jika sang suami sudah tiba.
“Ini kami baru mau tidur, Mas.” Jawaban Zaniah membuat kening Firhan mengernyit heran.
“Iya Zeni aku suruh tidur di kamar kita temanin aku, Mas.” Zaniah paham dengan raut bingung di wajah suaminya.
Firhan pun menganggukkan kepalanya senang. Setidaknya ia pergi tak membuat dua istrinya akan bertengkar atau perang dingin lagi.
Hingga keduanya pun berniat mengakhiri panggilan. “Niah, Lillia sudah minum susu hamilnya?” Pertanyaan Firhan tiba-tiba yang tak ada maksud apa pun membuat senyum di wajah Zaniah hilang sekejap.
“Em maksud Mas, kamu sering lupa dan Mas takut Lillia juga mengabaikan susu itu, Sayang.”
__ADS_1
“Sudah kok, Mas. Yasudah aku tutup yah panggilan videonya?”
Kini kamar tak seramai sebelumnya. Zaniah pun tak mengatakan apa-apa lagi pada Lillia yang sedari tadi sudah baring menatapnya.
Dalam keadaan lampu yang temaram, manik mata Lillia menatap dalam sahabat yang berbaring membelakangi dirinya.
Setetes air mata jatuh, “Zaniah, aku tidak menginginkan ini semua…tolong jangan membuatku tersiksa seperti ini.” jerit hati Lillia hingga ia melamun sepanjang malam dan berakhir memejamkan matanya.
Pagi yang menyapa keduanya kini terasa sunyi tanpa kehadiran seorang pria tampan yang selalu membuat mereka sibuk biasanya.
“Zan, ayo bangun. Katanya mau joging pagi ini.” Panggil Lillia Zeni beberapa kali menggoyangkan lengan sahabatnya.
“Emh…besok ajalah, Zen. Aku sangat mengantuk.” tutur Zaniah menarik selimut hingga menutup seluruh tubuh hingga kepala.
Tak ingin mengganggu, Lillia memilih bangun meninggalkan kamar yang sangat tak nyaman ia rasa itu.
Membersihkan diri berpakaian rapi lalu menuju dapur. Senyuman pelayan menyapa sosok Lillia pagi itu.
“Nyonya, mau di buatkan sarapan apa? Itu susu hamilnya sudah saya buat barusan.” Pelayan menyambut Lillia begitu hangatnya.
Dengan tersenyum Lillia mengucapkan terimakasih. “Terimakasih yah, Bi. Sarapannya biar saya saja yang buat. Bibi kerjakan lainnya saja, nanti saya yang masak.” pintah Lillia.
“Zaniah pasti suka buatan nasi goreng ikan asin campur pete…semoga dia senang memakannya.” Merindukan momen bahagia persahabatan sungguh membuat Lillia ingin sekali melakukan hal yang membuat Zaniah tak lagi berubah pikiran padanya.
Saat jarum jam menunjuk angka setengah delapan, barulah Lillia usai memasak nasi goreng yang super menggiurkan itu. Ia tampak mengaduk bumbu terakhir di atas pemasak nasi goreng.
“Wah wah…lihat, Pah. Ini nih wanita yang bikin anak Papah salah jalan. Bagaimana?”
Suara wanita yang tak lain adalah Wuri membuat Lillia menoleh ke arah sumber suara.
Disana sepasang suami istri yang tak lagi muda tersenyum memandangi sosok Lillia dengan tatapan memuja.
“Lillia, ini Papah Dika. Ayahnya Firhan,” ujar Wuri memperkenalkan suami pada menantunya.
“Papah selamat pagi dan selamat datang.” Lillia bahkan menyapa sampai menundukkan kepalanya.
“Kamu memang istri idaman, boleh kami coba masakan mu? Rasa lapar tiba-tiba datang lagi padahal kita sudah sarapan yah, Mah?” celetuk Tuan Dika dan Wuri ikut tersenyum senang.
Dengan sigap Lillia pun meminta mereka untuk duduk dan ia menghidangkan nasi goreng dua piring.
__ADS_1
Beruntung ia sengaja memasak banyak sebab untuk pelayan dan pasti Zaniah akan tambah terus. Begitu pikir Lillia.
“Lillia, kamu mau kemana? Ayo duduk di sini. Bawa piring dan makan bersama Mamah dan Papah.” titah Wuri saat melihat Lillia hendak ke dapur untuk membersihkan dapur.
“Em itu Mah. Mau bersihkan dapur sebentar. Soalnya bibi sudah saya minta mengerkan yang lain saja.” jawab Lillia jujur.
“Hala tidak usah. Ada Zaniah kan? Biarkan dia giliran membersihkan. Ayo makan sini.” Kikuk Lillia hanya bisa menurut.
Ketiganya pun tampak sarapan bersama, meski Lillia sangat tidak nyaman. Ia ingin membangunkan Zaniah, namun pasti akan membuat nama sahabatnya buruk di depan mertua.
“Bagaimana ini? Zaniah belum bangun juga. Kalau aku bangunkan, pasti Mamah dan Papah memandang Zaniah tidak baik. Yasudah setelah makan aku harus ke kamar Zaniah.” gumam Lillia menyantap sarapannya.
Namun, saat mereka menikmati sarapan. Tiba-tiba Zaniah keluar dengan wajah bantal.
“Zen, kok kamu nggak bangunin sih? Kan aku pengen joging pagi ini?” Celetuk wanita itu sembari mengusap kedua matanya. Tak sadar jika mertuanya tengah memandang ke arahnya.
“Zaniah? Kamu baru bangun jam begini?” Pertanyaan Wuri sontak membuat wajah Zaniah yang mengantuk benar-benar kaget.
“M-mamah? Papah?” Ia kaget bukan kepalang. Tak menyangka mertuanya akan datang sepagi ini.
Mata Zaniah beralih pada Lillia yang diam menundukkan kepala tak enak hati. Sungguh, Zaniah kesal bukan main melihat sahabatnya bahkan makan dengan tenang bersama mertuanya.
Dengan amarah yang membuncah, Zaniah ingin kembali ke kamar. Menatap mertuanya rasanya ia tak punya keberanian lagi.
“Mau kemana kamu, Zaniah?” Pertanyaan Wuri menghentikan langkah Zaniah yang sudah berbalik.
“Bereskan di dapur dan sarapan bersama Mamah dan Papah. Benar-benar nggak sopan! Pantas saja Firhan menikah lagi.” Perkataan Wuri yang dengan nada pelan nyatanya terasa seperti membentak Zaniah.
Zaniah meneteskan air mata sembari berjalan ke dapur membersihkan sisa wadah memasak Lillia Zeni.
“Tambah lagi, Lillia.” ujar Wuri penuh perhatian.
Lillia menatap Zaniah yang memungguninya. Rasanya ia sangat tidak enak.
“Sudah, Mah. Sudah kenyang.” sungkan untuk sekedar berkata panjang. Lillia memilih diam menunggu Zaniah.
“Itu susunya di minum. Jangan lupa.” ujar Wuri lagi. Zaniah hanya mengangguk tanpa suara.
“Apa ini sifat asli kamu, Zen? Bahkan kamu seperti melempar lumpur di wajahku pagi ini? Kamu benar-benar keterlaluan!” gumam Zaniah sangat dongkol pada sahabatnya.
__ADS_1