
Hotel yang
berada di tengah kota dengan bangunan tinggi menjulang, menjadi tempat peraduan
kesedihan sosok pria tampan itu. Firhan menggulung lengan kemejanya, air
matanya luruh sembari menatap ke depan sana.
Gedung-gedung
tinggi tampak sangat rapi tertata. Sayangnya fokusnya kali ini terus pada
kata-kata dan wajah sang istri barusan. Hatinya sesak sekali mendengar ucapan
Zaniah.
“Nikahi
Zeni, Mas. Dengan begitu kita akan memiliki anak yang ia kandung. Cukup nikahi
dia, Mas. Zeni sedang mengandung.” Firhan menggelengkan kepala saat mengingat
ucapan Zaniah.
“Tidak. Aku
tidak mungkin menikah lagi meski itu hanya pernikahan tanpa sentuhan. Aku tidak
akan pernah mau. Zaniah, apa yang membuat kamu menyerah seperti ini?” Ia
menunduk sedih.
Bagaimana
pun ia menginginkan anak, itu hanya dari tubuh dan rahim sang istri. Bukan dari
wanita mana pun.
“Bicara
dengan ibu pasti selalu sama saja hasilnya. Dengan cara apa aku membuat Ibu
berhenti?” batin Firhan bingung sekali.
Masalah ini
bukanlah perkara besar dalam rumah tangganya. Sebab Firhan pun tak masalah jika
mereka tak secepatnya punya anak atau bahkan tak memiliki anak. Namun, sang ibu
selalu menjadi duri dalam rumah tangga mereka.
Perlahan ia
pun merebahkan tubuh di atas kasur melepaskan lelah tubuhnya. Tak ada wine atau
wanita yang membantunya melepaskan kesedihan kala itu. Firhan hanya ingin
sendiri tanpa ada yang mengganggu. Ia ingin mendinginkan pikirannya sejenak.
“Aku
__ADS_1
suamimu, Zaniah. Bagaimana bisa kau rela membagi status mu dengan yang lain.
Bahkan dia sahabatmu?” lirih Firhan bertanya setelah itu ia terlelap dalam
diamnya.
Berbeda
dengan keadaan di tempat lain.
Malam yang
mulai menyapa membuat Zaniah tak ingin membuang waktu. Setelah puas menangis,
wanita itu memutuskan segera datang ke rumah sang sahabat, Lillia Zeni.
“Zen, aku
mohon terima permintaan ku ini. Aku benar-benar butuh kamu banget, Zen.” Di
perjalanan Zaniah menangis berharap tujuannya malam ini ke rumah sang sahabat
akan membuahkan hasil.
Hingga dua
puluh menit pun berlalu, kini mobil yang di kendarai oleh Zaniah tiba di depan
halaman rumah sang sahabat.
“Bismillah…”
Tok tok tok
Ketukan
pintu beberapa kali terdengar di depan rumah tersebut.
“Zen! Zeni!”
Panggil Zaniah berusaha di depan pintu rumah sederhana.
Sayangnya
beberapa kali ketukan, Zaniah masih tak mendapatkan hasil.
“Zan,”
tiba-tiba Zaniah menoleh ke belakang. Di sana ia tersenyum meski dengan mata
sembab melihat sang sahabat berdiri dengan keranjang yang kosong di tangannya.
“Zeni, kamu
baru pulang? Syukurlah. Aku harus bicara padamu.” ujar Zaniah langsung tanpa
basa basi.
Mendengar
penuturan sang sahabat, Zeni hanya mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
“Zaniah,
malam-malam begini kamu ke sini. Ada apa? Ayo sebentar aku buka kunci dulu
yah?” Setelah itu mereka pun masuk ke dalam rumah hingga di sanalah Zaniah
menumpahkan tangisannya.
Zaniah
menangis menutup wajah saat Zeni membantunya duduk di kursi kayu dalam rumah.
“Zan, ada
apa? Ceritakan padaku.” tutur Zeni memeluk sembari mengusap punggung sang
sahabat.
“Zen, aku
mohon dengarkan aku kali ini. Aku mohon bantu aku, Zen. Aku nggak tahu lagi
mohon sama siapa.” Zaniah bahkan terlihat sampai menangkupkan kedua tangan di
depan dadanya.
Segera Zeni
mengangguk. “Katakan, Zan. Ada apa? Aku pasti akan membantu mu. Aku usahakan.”
jawab Zeni.
“Mertuaku
memaksaku untuk merestui suamiku menikah dengan mantannya, Zen.” Air mata
Zaniah semakin jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.
Mulut Lillia
Zeni menganga tak percaya mendengar itu semua. Yah, ia tahu ini pasti terjadi
saat siang tadi Zaniah pulang dari rumahnya setelah mendapat telepon sang
mertua.
“Ya
Allah…serius mertua kamu bicara seperti itu, Zan? Mas Firhan gimana responnya?
Dia nggak mungkin mau kan? Aku tahu kalian saling mencintai. Kalian pasti akan
baik-baik saja.” ujar Zeni memberikan semangat.
Zaniah hanya
terisak menggelengkan kepala. “Menikahlah dengan Mas Firhan, Zen. Bantulah aku.
Aku juga dan Mas Firhan membantumu. Aku mohon, Zen.” Zaniah dengan hati yang
sakit dan wajah yang sangat sedih ia menangkup kedua tangan Zeni.
__ADS_1