Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Menikahlah Dengan Mas Firhan


__ADS_3

Hotel yang


berada di tengah kota dengan bangunan tinggi menjulang, menjadi tempat peraduan


kesedihan sosok pria tampan itu. Firhan menggulung lengan kemejanya, air


matanya luruh sembari menatap ke depan sana.


Gedung-gedung


tinggi tampak sangat rapi tertata. Sayangnya fokusnya kali ini terus pada


kata-kata dan wajah sang istri barusan. Hatinya sesak sekali mendengar ucapan


Zaniah.


“Nikahi


Zeni, Mas. Dengan begitu kita akan memiliki anak yang ia kandung. Cukup nikahi


dia, Mas. Zeni sedang mengandung.” Firhan menggelengkan kepala saat mengingat


ucapan Zaniah.


“Tidak. Aku


tidak mungkin menikah lagi meski itu hanya pernikahan tanpa sentuhan. Aku tidak


akan pernah mau. Zaniah, apa yang membuat kamu menyerah seperti ini?” Ia


menunduk sedih.


Bagaimana


pun ia menginginkan anak, itu hanya dari tubuh dan rahim sang istri. Bukan dari


wanita mana pun.


“Bicara


dengan ibu pasti selalu sama saja hasilnya. Dengan cara apa aku membuat Ibu


berhenti?” batin Firhan bingung sekali.


Masalah ini


bukanlah perkara besar dalam rumah tangganya. Sebab Firhan pun tak masalah jika


mereka tak secepatnya punya anak atau bahkan tak memiliki anak. Namun, sang ibu


selalu menjadi duri dalam rumah tangga mereka.


Perlahan ia


pun merebahkan tubuh di atas kasur melepaskan lelah tubuhnya. Tak ada wine atau


wanita yang membantunya melepaskan kesedihan kala itu. Firhan hanya ingin


sendiri tanpa ada yang mengganggu. Ia ingin mendinginkan pikirannya sejenak.


“Aku

__ADS_1


suamimu, Zaniah. Bagaimana bisa kau rela membagi status mu dengan yang lain.


Bahkan dia sahabatmu?” lirih Firhan bertanya setelah itu ia terlelap dalam


diamnya.


Berbeda


dengan keadaan di tempat lain.


Malam yang


mulai menyapa membuat Zaniah tak ingin membuang waktu. Setelah puas menangis,


wanita itu memutuskan segera datang ke rumah sang sahabat, Lillia Zeni.


“Zen, aku


mohon terima permintaan ku ini. Aku benar-benar butuh kamu banget, Zen.” Di


perjalanan Zaniah menangis berharap tujuannya malam ini ke rumah sang sahabat


akan membuahkan hasil.


Hingga dua


puluh menit pun berlalu, kini mobil yang di kendarai oleh Zaniah tiba di depan


halaman rumah sang sahabat.


“Bismillah…”


Tok tok tok


Ketukan


pintu beberapa kali terdengar di depan rumah tersebut.


“Zen! Zeni!”


Panggil Zaniah berusaha di depan pintu rumah sederhana.


Sayangnya


beberapa kali ketukan, Zaniah masih tak mendapatkan hasil.


“Zan,”


tiba-tiba Zaniah menoleh ke belakang. Di sana ia tersenyum meski dengan mata


sembab melihat sang sahabat berdiri dengan keranjang yang kosong di tangannya.


“Zeni, kamu


baru pulang? Syukurlah. Aku harus bicara padamu.” ujar Zaniah langsung tanpa


basa basi.


Mendengar


penuturan sang sahabat, Zeni hanya mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


“Zaniah,


malam-malam begini kamu ke sini. Ada apa? Ayo sebentar aku buka kunci dulu


yah?” Setelah itu mereka pun masuk ke dalam rumah hingga di sanalah Zaniah


menumpahkan tangisannya.


Zaniah


menangis menutup wajah saat Zeni membantunya duduk di kursi kayu dalam rumah.


“Zan, ada


apa? Ceritakan padaku.” tutur Zeni memeluk sembari mengusap punggung sang


sahabat.


“Zen, aku


mohon dengarkan aku kali ini. Aku mohon bantu aku, Zen. Aku nggak tahu lagi


mohon sama siapa.” Zaniah bahkan terlihat sampai menangkupkan kedua tangan di


depan dadanya.


Segera Zeni


mengangguk. “Katakan, Zan. Ada apa? Aku pasti akan membantu mu. Aku usahakan.”


jawab Zeni.


“Mertuaku


memaksaku untuk merestui suamiku menikah dengan mantannya, Zen.” Air mata


Zaniah semakin jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.


Mulut Lillia


Zeni menganga tak percaya mendengar itu semua. Yah, ia tahu ini pasti terjadi


saat siang tadi Zaniah pulang dari rumahnya setelah mendapat telepon sang


mertua.


“Ya


Allah…serius mertua kamu bicara seperti itu, Zan? Mas Firhan gimana responnya?


Dia nggak mungkin mau kan? Aku tahu kalian saling mencintai. Kalian pasti akan


baik-baik saja.” ujar Zeni memberikan semangat.


Zaniah hanya


terisak menggelengkan kepala. “Menikahlah dengan Mas Firhan, Zen. Bantulah aku.


Aku juga dan Mas Firhan membantumu. Aku mohon, Zen.” Zaniah dengan hati yang


sakit dan wajah yang sangat sedih ia menangkup kedua tangan Zeni.

__ADS_1


__ADS_2