
Permohonan maaf dan rasa menyesal sama sekali tak membuat diri Papa Dika menurunkan amarahnya. Kecewa tetap saja masih menguasai hatinya. Firhan tentu saja meminta maaf sebab perbuatannya sungguh tak menggambarkan sosok pria sejati. Menikah dengan diam-diam tanpa seizin kedua orangtua, serta mengikuti permintaan sang istri sungguh tidak benar.
Dimana pria seharusnya menjadi imam dan penegak keputusan dalam rumah tangga. Bahkan dalam keadaan genting pun ia harus tetap memakai akal sehat demi keberlangsung rumah tangga yang akan ia bina sepanjang usianya.
“Apa yang akan kamu jadikah langkah setelah ini? Menceraikan wanita yang sudah kau nikahi? Ingat perceraian sangat tidak di benarkan, Firhan. Papah sangat kecewa denganmu.” Pelan Firhan mengangguk paham.
“Aku tidak akan menceraikan siapa pun, Pah. Meski dia mengandung benih pria lain. Tapi aku mencintainya. Lia wanita yang tidak bersalah sama sekali sampai sejauh ini. Dia hanya korban yang kami jadikan senjata untuk mengambil anaknya.” Sesal Firhan sekali lagi membuat wajah Papa Dika sangat kaget.
“Mencintai? Apa Zaniah tahu itu Firhan?” tanyanya dan Firhan mengangguk.
Kini Papa Dika tahu apa sebab keributan yang baru saja terjadi di rumah sang anak. Pria paruh baya itu pun memijat pelipiskan keras. Lelah mendengar masalah dari sang anak yang benar berada di luar dugaannya.
__ADS_1
“Apa yang di otak kamu, Firhan? Ini sangat memalukan. Bagaimana mungkin kamu sanggup beristri dua? Itu tidak semudah yang kau bayangkan.”
Keheningan pun terjadi beberapa saat. Firhan sadar ini semua tidak mudah. Tetapi semua sudah terjadi dan ia akan menunjukkan jika dirinya pria bertanggung jawab.
Di kamar, Zaniah pun tampak menangis menyesali semua yang ia jalankan. Sahabat yang ia percaya pun nyatanya tetaplah wanita biasa yang bisa larut dalam buaian gairah.
***
Pikirannya menerawang kesana kemari. Memikirkan bagaimanakah nasib dirinya dang sang anak kedepan. Sungguh Lillia tak memiliki jalan apa pun.
“Ya Tuhan? Apa yang harus aku lakukan? Pikiranku benar-benar buntu tak tahu memilih kemana dan melakukan apa? Aku lelah.” tangisnya yang hanya bisa berucap dalam hati.
__ADS_1
Tak memiliki siapa pun lagi sungguh membuat Lillia ingin pergi sejauh mungkin dari bumi ini.
Tangisan wanita berbadan dua itu tiba-tiba saja terhenti kala merasakan gejolak di perutnya kembali menyerang. Berdiri sekuat mungkin ia pun berjalan cepat menuju kamar mandi. Seluruh makan yang baru ia makan keluar kembali tanpa sisa.
Beberapa kali ia memuntahkan isi perut hingga akhirnya Lillia terduduk di lantai kamar mandi. Semakin banjir air matanya mengingat saat seperti ini pun tak ada yang bisa merawatnya. Sakit rasanya menghadapi masa kehamilan seperti ini.
“Ayah, Lilia sakit yah. Lillia lelah bawa Lillia pergi, Ayah.” Tangisnya menjadi di kamar mandi. Rasa pusing lemas dan sakit di sana sini membuat Lillia tak kuasa untuk tetap baik-baik saja.
Ia membasuh wajah dengan tangan yang gemetar. Sekuat mungkin ia bangkit dan melangkah memegang dinding rumah sejengkal demi sejengkal agar sampai di kamar.
Matanya mengedar menatap kamar tak luas itu, pelan Lillia merebahkan tubuhnya. Usai memuntahkan isi perut sungguh ia tak kuat lagi hanya sekedar duduk. Berbaring pilihan terakhir meski perut masih terasa sangat tak nyaman.
__ADS_1