
Usai
perbedaan tempat tidur malam itu, kini pagi tanpa terasa membuat sosok Firhan
yang terlelap akhirnya membuka matanya perlahan. Emosi dalam dirinya nyatanya
sudah mereda kala ia tersadar dari tidur panjang. Samar ia melihat sinar
matahari menembus celah gorden berwarna putih gading itu.
Meski
rasanya masih ingin bermalasan, Firhan harus melawan keinginan tubuhnya
lantaran ia ingat jika hari sudah sangat terlambat. Secepat kilat ia keluar
untuk check out dari hotel dan bergegas menuju rumah untuk bersiap ke kantor.
Beruntung
semalam saat keadaan emosi, ia juga memikirkan jarak tempatnya menenangkan diri
dari rumah. Hingga tidak butuh waktu lama pria itu akhirnya tiba di halaman
rumah dengan mobil pribadinya.
"Apa
Zaniah belum bangun juga?" gumamnya kala melihat lampu di teras rumah dan
lainnya masih menyala pagi itu. Padahal matahari sudah terang.
Pelan ia
mengetuk pintu beberapa kali.
Tok Tok Tok
"Zaniah!"
teriaknya terburu-buru.
Merasa tak
mendapatkan jawaban, akhirnya Firhan berusaha mengeluarkan suara di pintu itu
dan memutar handle pintu. Tanpa sadar benda persegi panjang itu ternyata
terbuka. Kening Firhan mengerut melihat pintu tak di kunci.
"Apa
semalaman rumah tidak di kunci?" tanyanya bingung dan perlahan kaki Firhan
melangkah masuk ke dalam rumah sederhana itu.
"Zaniah!"
panggilnya lagi mencoba langsung menuju kamar.
Firhan
terdiam melihat sang istri yang duduk bersandar di kaki ranjang dan memejamkan
matanya yang bengkak. Sakit rasanya Firhan melihat sang istri sedih seperti
itu. Ia tahu ini semua tidak akan mudah untuk pernikahan mereka meski sekeras
__ADS_1
apa pun Firhan berkata tidak masalah tak memiliki anak sekali pun.
Sayangnya
mereka hidup di bumi bukan hanya sepasang suami istri, tetapi banyak hal lain
yang akan membuat sosok Zaniah merasa rendah lantaran tak memiliki anak.
"Niah,"
pelan ia melangkah berjongkok di hadapan sang istri.
Firhan kini
sadar, ia butuh waktu untuk menyelesaikan semuanya. Tidak mungkin dirinya bisa
fokus bekerja sementara masalah rumah tangganya sedang kacau.
Tak ada
jawaban dari sang istri, akhirnya Firhan memilih untuk meraih ponsel dan
menghubungi bagian perusahaan yang sebagai pimpinannya.
"Ya
sudah. Sebaiknya selesaikan dulu urusanmu itu, Firhan. Saya harap besok lusa
anda bisa masuk bekerja dengan baik. Dua hari cukup kan untuk mengurus
semuanya?" Di seberang sana Firhan mendengar jawaban sang atasan kala
dirinya meminta ijin untuk tidak masuk bekerja hari ini. Dan alangkah baiknya
sang atasan saat memberikannya waktu ijin selama dua hari.
setelah sambungan telepon pun berakhir usai Firhan mengucap salam dan
terimakasih, kini ia kembali fokus pada sang istri. Ponsel miliknya ia masukkan
ke dalam saku dan mendekati Zaniah.
"Niah,
bersiaplah. Kita akan ke rumah Mamah sekarang. Aku tidak ingin ini jadi masalah
untuk kita karena Mamah saja. Ayo." tangannya memapah sang istri agar mau
berdiri. Sayangnya Zaniah bersikeras untuk tetap duduk.
"Mas,
tolong. Aku lelah, bagaimana pun Mamah berhak menuntut hak sebagai mertua.
Mamah hanya ingin cucu, Mas. Sampai kapan pun ini tidak akan pernah selesai
sekali pun mamah mengatakan iya pada Mas. Tapi selama aku belum juga hamil, ini
akan terus terjadi. Maka dari itu, aku mohon Mas menikahlah dengan Zeni. Hanya
dia satu-satunya wanita yang aku percaya." Zaniah bahkan sampai memeluk
tangan sang suami guna memohon untuk di setujui.
Firhan
lagi-lagi harus mendengar kata itu, ia sungguh sakit bahkan Firhan memejamkan
__ADS_1
mata guna menahan sesak di dadanya.
"Bagaimana
bisa kau merelakan aku untuk wanita lain, Niah? Aku suami mu. Aku begitu
mencintaimu. Apa kau tidak sadar telah melukai ku?" pertanyaan Firhan
membuat Zaniah menunduk menangis. Ia tak mengatakan apa pun lagi.
Hatinya
sangat gelisah tiap kali mengingat sosok Sela Agnes, wanita yang hadir di
tengah kekurangannya sebagai istri. Wanita yang benar-benar membuat Zaniah
bercermin, bagaimana kurangnya ia menjadi wanita. Kecantikan, penampilan dan
bahkan ia adalah wanita sebelum Zaniah hadir di hidup Firhan. Sungguh, Zaniah
sulit mengendalikan rasa cemburu itu.
"Aku
memohon Mas. Sakitku ini tidak akan ada yang bisa mengerti jika tidak mencoba
di posisiku. Aku benar-benar lemah, Mas. Aku mohon hanya menikah. Zeni sudah
hamil dan kita butuh bantuan anak itu."
Firhan tak
bicara apa pun lagi, hingga akhirnya ia memeluk sang istri. Mata Firhan kembali
merah, namun emosi yang semalam berkobar kini tak nampak lagi. Yah, itulah cara
Firhan menengkan diri dan mengendalikan emosinya. Ia akan rela meninggalkan
sang istri demi menghindari pertengkaran.
"Hanya
menikah? Tidak ada hal lain, Niah?" pertanyaan Firhan seolah membuat
Zaniah sadar akan jawaban apa yang pria itu ingin berikan.
Zaniah
mengangguk lirih. Jujur saja meski ia memohon untuk Firhan setuju dengan
menikahi Zeni, dalam hati yang paling dalam Zaniah begitu sakit saat mendengar
pertanyaan yang menjurus pada persetujuan pernikahan kedua itu.
"Iya,
Mas." jawabnya lirih.
Zaniah bukan
tenang, kini ia justru semakin menangis, dadanya semakin sesak dan sakit
rasanya. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Firhan. Pelukan Firhan pun tak
kalah erat. Hatinya sungguh hancur melontarkan pertanyaan tadi. Dalam artian ia
sudah turut andil mengkhianati pernikahannya ini.
__ADS_1