Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Sakit Yang Paling Dalam


__ADS_3

Usai


perbedaan tempat tidur malam itu, kini pagi tanpa terasa membuat sosok Firhan


yang terlelap akhirnya membuka matanya perlahan. Emosi dalam dirinya nyatanya


sudah mereda kala ia tersadar dari tidur panjang. Samar ia melihat sinar


matahari menembus celah gorden berwarna putih gading itu.


Meski


rasanya masih ingin bermalasan, Firhan harus melawan keinginan tubuhnya


lantaran ia ingat jika hari sudah sangat terlambat. Secepat kilat ia keluar


untuk check out dari hotel dan bergegas menuju rumah untuk bersiap ke kantor.


Beruntung


semalam saat keadaan emosi, ia juga memikirkan jarak tempatnya menenangkan diri


dari rumah. Hingga tidak butuh waktu lama pria itu akhirnya tiba di halaman


rumah dengan mobil pribadinya.


"Apa


Zaniah belum bangun juga?" gumamnya kala melihat lampu di teras rumah dan


lainnya masih menyala pagi itu. Padahal matahari sudah terang.


Pelan ia


mengetuk pintu beberapa kali.


Tok Tok Tok


"Zaniah!"


teriaknya terburu-buru.


Merasa tak


mendapatkan jawaban, akhirnya Firhan berusaha mengeluarkan suara di pintu itu


dan memutar handle pintu. Tanpa sadar benda persegi panjang itu ternyata


terbuka. Kening Firhan mengerut melihat pintu tak di kunci.


"Apa


semalaman rumah tidak di kunci?" tanyanya bingung dan perlahan kaki Firhan


melangkah masuk ke dalam rumah sederhana itu.


"Zaniah!"


panggilnya lagi mencoba langsung menuju kamar.


Firhan


terdiam melihat sang istri yang duduk bersandar di kaki ranjang dan memejamkan


matanya yang bengkak. Sakit rasanya Firhan melihat sang istri sedih seperti


itu. Ia tahu ini semua tidak akan mudah untuk pernikahan mereka meski sekeras

__ADS_1


apa pun Firhan berkata tidak masalah tak memiliki anak sekali pun.


Sayangnya


mereka hidup di bumi bukan hanya sepasang suami istri, tetapi banyak hal lain


yang akan membuat sosok Zaniah merasa rendah lantaran tak memiliki anak.


"Niah,"


pelan ia melangkah berjongkok di hadapan sang istri.


Firhan kini


sadar, ia butuh waktu untuk menyelesaikan semuanya. Tidak mungkin dirinya bisa


fokus bekerja sementara masalah rumah tangganya sedang kacau.


Tak ada


jawaban dari sang istri, akhirnya Firhan memilih untuk meraih ponsel dan


menghubungi bagian perusahaan yang sebagai pimpinannya.


"Ya


sudah. Sebaiknya selesaikan dulu urusanmu itu, Firhan. Saya harap besok lusa


anda bisa masuk bekerja dengan baik. Dua hari cukup kan untuk mengurus


semuanya?" Di seberang sana Firhan mendengar jawaban sang atasan kala


dirinya meminta ijin untuk tidak masuk bekerja hari ini. Dan alangkah baiknya


sang atasan saat memberikannya waktu ijin selama dua hari.


setelah sambungan telepon pun berakhir usai Firhan mengucap salam dan


terimakasih, kini ia kembali fokus pada sang istri. Ponsel miliknya ia masukkan


ke dalam saku dan mendekati Zaniah.


"Niah,


bersiaplah. Kita akan ke rumah Mamah sekarang. Aku tidak ingin ini jadi masalah


untuk kita karena Mamah saja. Ayo." tangannya memapah sang istri agar mau


berdiri. Sayangnya Zaniah bersikeras untuk tetap duduk.


"Mas,


tolong. Aku lelah, bagaimana pun Mamah berhak menuntut hak sebagai mertua.


Mamah hanya ingin cucu, Mas. Sampai kapan pun ini tidak akan pernah selesai


sekali pun mamah mengatakan iya pada Mas. Tapi selama aku belum juga hamil, ini


akan terus terjadi. Maka dari itu, aku mohon Mas menikahlah dengan Zeni. Hanya


dia satu-satunya wanita yang aku percaya." Zaniah bahkan sampai memeluk


tangan sang suami guna memohon untuk di setujui.


Firhan


lagi-lagi harus mendengar kata itu, ia sungguh sakit bahkan Firhan memejamkan

__ADS_1


mata guna menahan sesak di dadanya.


"Bagaimana


bisa kau merelakan aku untuk wanita lain, Niah? Aku suami mu. Aku begitu


mencintaimu. Apa kau tidak sadar telah melukai ku?" pertanyaan Firhan


membuat Zaniah menunduk menangis. Ia tak mengatakan apa pun lagi.


Hatinya


sangat gelisah tiap kali mengingat sosok Sela Agnes, wanita yang hadir di


tengah kekurangannya sebagai istri. Wanita yang benar-benar membuat Zaniah


bercermin, bagaimana kurangnya ia menjadi wanita. Kecantikan, penampilan dan


bahkan ia adalah wanita sebelum Zaniah hadir di hidup Firhan. Sungguh, Zaniah


sulit mengendalikan rasa cemburu itu.


"Aku


memohon Mas. Sakitku ini tidak akan ada yang bisa mengerti jika tidak mencoba


di posisiku. Aku benar-benar lemah, Mas. Aku mohon hanya menikah. Zeni sudah


hamil dan kita butuh bantuan anak itu."


Firhan tak


bicara apa pun lagi, hingga akhirnya ia memeluk sang istri. Mata Firhan kembali


merah, namun emosi yang semalam berkobar kini tak nampak lagi. Yah, itulah cara


Firhan menengkan diri dan mengendalikan emosinya. Ia akan rela meninggalkan


sang istri demi menghindari pertengkaran.


"Hanya


menikah? Tidak ada hal lain, Niah?" pertanyaan Firhan seolah membuat


Zaniah sadar akan jawaban apa yang pria itu ingin berikan.


Zaniah


mengangguk lirih. Jujur saja meski ia memohon untuk Firhan setuju dengan


menikahi Zeni, dalam hati yang paling dalam Zaniah begitu sakit saat mendengar


pertanyaan yang menjurus pada persetujuan pernikahan kedua itu.


"Iya,


Mas." jawabnya lirih.


Zaniah bukan


tenang, kini ia justru semakin menangis, dadanya semakin sesak dan sakit


rasanya. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Firhan. Pelukan Firhan pun tak


kalah erat. Hatinya sungguh hancur melontarkan pertanyaan tadi. Dalam artian ia


sudah turut andil mengkhianati pernikahannya ini.

__ADS_1


__ADS_2