Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Bertemu


__ADS_3

Beberapa


kali berusaha menggapai tubuh sang istri, nyatanya Firhan kini menyerah kala


Zaniah terus menolaknya. Harapannya pagi ini tidak pergi bekerja hanya ingin


mengunjungi sang Mamah untuk membicarakan masalah yang terjadi, sayangnya


Zaniah berkeras tidak ingin pergi.


"Tidak


ada salahnya jika kita membicarakan ini semua pada Mamah, Niah." ucap


Firhan lemah lembut.


Zaniah yang


terus sesenggukan usai menangis kini hanya menggelengkan kepalanya. Zaniah


tidak percaya kedatangan mereka akan membuahkan hasil, terlebih saat ia tahu


jika sang mertua tengah berpihak pada wanita yang bernama Sela Agnes. Sungguh,


ia sangat murka jika sampai Firhan bertemu wanita itu di rumah orangtuanya.


Belum


bertemu saja, Zaniah sudah membayangkan bagaimana Sela Agnes akan menertawakan


mereka yang belum memiliki anak dan menawarkan dirinya menjadi istri pencetak


anak. Di mana Zaniah menaruh wajahnya lagi?


"Aku


tidak akan mau pergi ke sana, Mas. Tolong jangan membuatku semakin sakit, Mamah


pasti bersama wanita itu di sana. Apa Mas Firhan sengaja ingin mengolok-olok


diriku?" Tatapan tajam Zaniah membuat Firhan enggan menambah masalah.


Dengan berat


hati pria itu akhirnya menyetujui permintaan sang istri untuk menikah.


Setidaknya ia tidak akan berkhianat. Yah, hanya sebatas pernikahan tanpa


sentuhan fisik. Sebab, Zaniah sudah menceritakan tujuannya semua tanpa ada yang


di tutup-tutupi.


"Baiklah,


Niah. Mas akan ikuti permintaanmu. Tapi, hanya menikah. Tidak ada hal lain


lagi. Mas sangat mencintaimu dan menghargai pernikahan ini. Asal kamu tahu, di


sini bukan hanya kamu yang sakit. Mas juga sangat sakit melakukan hal ini,


Niah." Air mata akhirnya Firhan jatuhkan saat mengatakan cukup panjang


lebar kali ini.


Zaniah tahu


bagaimana hati sang suami sakitnya. Namun, ia berpikir ini tidak akan lama dan


hanya sementara selama Lillia Zeni hamil saja. Sebab ia tidak ingin terjadi


fitnah selama sang sahabat tinggal di rumahnya.

__ADS_1


"Aku


harap ini adalah awal yang baik, Mas. Kita bukan hanya meminta anak itu, tetapi


kita menolongnya juga. Aku berjanji akan menjadi ibu yang baik dan mencintai


anak itu saat ia lahir nanti. Tapi, aku harap Mas tidak akan membocorkan siapa


ayah janin itu pada Mamah." tutur Zaniah menunduk tanpa kuasa menatap


wajah sang suami.


Firhan


membungkam bibirnya rapat dan mengangguk. Sedetik kemudian ia memeluk sang


istri dan beberapa kali mencium kening sang istri.


"Kita


akan bahagia, Niah. Kita akan menolong sahabatmu dan kita akan menjadi orangtua


yang baik pada anak itu. Mas janji." Itulah kata-kata yang Firhan


keluarkan dan cukup meyakinkan sang istri jika semuanya akan baik-baik saja.


Saling melampiaskan


kesedihan masing-masing, akhirnya Zaniah dan Firhan bergegas merapikan wajah


mereka lalu pergi dari rumah. Bukan ke rumah sang mamah, tetapi tujuan mereka


kini adalah rumah Lillia Zeni. Sebelumnya Zaniah telah menghubungi sang sahabat


untuk tidak pergi, sayangnya Lillia Zeni yang sudah terlanjur berjualan di luar


terpaksa pulang siang itu.


mual sekali..." keluh wanita itu dengan mengusap peluh di keningnya.


Bahkan wajahnya pun sangat pucat siang itu.


Lillia Zeni


tak kuasa menahan gejolak dalam perutnya, ia pun berlari memuntahkan seluruh


isi perut di kamar mandi. Kelelahan dan perut yang terlambat di isi membuatnya


tak bisa lagi menahan mual.


Suara muntah


di kamar mandi tampaknya menggema sampai di depan pintu rumah yang terbuka.


"Dia


sepertinya di kamar mandi, aku masuk dulu yah, Mas?" Di sini Zaniah baru


saja tiba dengan sang suami.


Firhan yang


tengah menatap sekeliling rumah sahabat istrinya pun hanya mengangguk. Berusaha


menetralkan perasaan jantungnya yang tidak tenang.


"Kasihan


sekali wanita itu, hamil masih harus bekerja serabutan seperti itu. Tuhan,


biarkanlah niat baik kami ini menjadi jalan untuk pernikahan kami kedepannya

__ADS_1


bahagia. Kami ikhlas jika engkau tidak memberikan kami anugrah anak. Tetapi


ijinkan aku tetap bersama Zaniah." gumam Firhan memohon pada sang kuasa.


Sementara di


dalam sana, Zaniah mendapati sang sahabat duduk berjongkok di lantai sembari


menunduk.


"Zen?"


suara Zaniah begitu panik.


Segera ia


berlari ke dapur untuk mengambilkan minum untuk sang sahabat. "Ayo minum


dulu." Lillia Zeni menurut usai membersihkan mulutnya.


Ia sangat


lemas kala itu, "Zaniah?" tuturnya lemah.


Zaniah tak


menjawab sapaan sang sahabat. Ia hanya membantu Lillia Zeni berdiri dan


memapahnya. "Ayo aku bantu, kamu kami bawa ke rumah sakit yah?"


Begitu


baiknya Zaniah padanya, Lillia Zeni sungguh tidak akan mau merepotkan sang


sahabat lagi. Lantas ia pun menggelengkan kepala menolak tawaran Zaniah.


"Tidak,


ini normal kok. Aku baik-baik saja, Zan." tutur Lillia Zeni.


Hingga


langkah keduanya akhirnya tiba di ruang tamu kecil sederhana. Di sana tampak


pria tampan dengan setelan kerja tengah duduk menatap dua wanita yang saling


berdampingan jalan. Zaniah masih terus membantunya memapah Lillia Zeni.


"Ayo


duduk, pelan-pelan." pintah Zaniah penuh perhatian.


Ia sadar


sejak tadi beberapa kali tatapan sang suami dan Lillia Zeni bertemu. Zaniah


tahu, mungkin mereka menjadi canggung lantaran hal yang akan terjadi atas


permintaannya.


"Mas


Firhan..." Lillia Zeni menyapa lebih dulu.


Firhan hanya


mengangguk lirih tanpa berniat mengeluarkan suara. Ia sungguh tidak marah atau


pun kesal pada Lillia Zeni, sebab nasib wanita itu pun sudah cukup membuatnya


prihatin. Namun, Firhan masih sangat kesal pada keadaan yang mengharuskan

__ADS_1


dirinya mengkhianati pernikahan sucinya bersama Zaniah.


__ADS_2