
Beberapa
kali berusaha menggapai tubuh sang istri, nyatanya Firhan kini menyerah kala
Zaniah terus menolaknya. Harapannya pagi ini tidak pergi bekerja hanya ingin
mengunjungi sang Mamah untuk membicarakan masalah yang terjadi, sayangnya
Zaniah berkeras tidak ingin pergi.
"Tidak
ada salahnya jika kita membicarakan ini semua pada Mamah, Niah." ucap
Firhan lemah lembut.
Zaniah yang
terus sesenggukan usai menangis kini hanya menggelengkan kepalanya. Zaniah
tidak percaya kedatangan mereka akan membuahkan hasil, terlebih saat ia tahu
jika sang mertua tengah berpihak pada wanita yang bernama Sela Agnes. Sungguh,
ia sangat murka jika sampai Firhan bertemu wanita itu di rumah orangtuanya.
Belum
bertemu saja, Zaniah sudah membayangkan bagaimana Sela Agnes akan menertawakan
mereka yang belum memiliki anak dan menawarkan dirinya menjadi istri pencetak
anak. Di mana Zaniah menaruh wajahnya lagi?
"Aku
tidak akan mau pergi ke sana, Mas. Tolong jangan membuatku semakin sakit, Mamah
pasti bersama wanita itu di sana. Apa Mas Firhan sengaja ingin mengolok-olok
diriku?" Tatapan tajam Zaniah membuat Firhan enggan menambah masalah.
Dengan berat
hati pria itu akhirnya menyetujui permintaan sang istri untuk menikah.
Setidaknya ia tidak akan berkhianat. Yah, hanya sebatas pernikahan tanpa
sentuhan fisik. Sebab, Zaniah sudah menceritakan tujuannya semua tanpa ada yang
di tutup-tutupi.
"Baiklah,
Niah. Mas akan ikuti permintaanmu. Tapi, hanya menikah. Tidak ada hal lain
lagi. Mas sangat mencintaimu dan menghargai pernikahan ini. Asal kamu tahu, di
sini bukan hanya kamu yang sakit. Mas juga sangat sakit melakukan hal ini,
Niah." Air mata akhirnya Firhan jatuhkan saat mengatakan cukup panjang
lebar kali ini.
Zaniah tahu
bagaimana hati sang suami sakitnya. Namun, ia berpikir ini tidak akan lama dan
hanya sementara selama Lillia Zeni hamil saja. Sebab ia tidak ingin terjadi
fitnah selama sang sahabat tinggal di rumahnya.
__ADS_1
"Aku
harap ini adalah awal yang baik, Mas. Kita bukan hanya meminta anak itu, tetapi
kita menolongnya juga. Aku berjanji akan menjadi ibu yang baik dan mencintai
anak itu saat ia lahir nanti. Tapi, aku harap Mas tidak akan membocorkan siapa
ayah janin itu pada Mamah." tutur Zaniah menunduk tanpa kuasa menatap
wajah sang suami.
Firhan
membungkam bibirnya rapat dan mengangguk. Sedetik kemudian ia memeluk sang
istri dan beberapa kali mencium kening sang istri.
"Kita
akan bahagia, Niah. Kita akan menolong sahabatmu dan kita akan menjadi orangtua
yang baik pada anak itu. Mas janji." Itulah kata-kata yang Firhan
keluarkan dan cukup meyakinkan sang istri jika semuanya akan baik-baik saja.
Saling melampiaskan
kesedihan masing-masing, akhirnya Zaniah dan Firhan bergegas merapikan wajah
mereka lalu pergi dari rumah. Bukan ke rumah sang mamah, tetapi tujuan mereka
kini adalah rumah Lillia Zeni. Sebelumnya Zaniah telah menghubungi sang sahabat
untuk tidak pergi, sayangnya Lillia Zeni yang sudah terlanjur berjualan di luar
terpaksa pulang siang itu.
mual sekali..." keluh wanita itu dengan mengusap peluh di keningnya.
Bahkan wajahnya pun sangat pucat siang itu.
Lillia Zeni
tak kuasa menahan gejolak dalam perutnya, ia pun berlari memuntahkan seluruh
isi perut di kamar mandi. Kelelahan dan perut yang terlambat di isi membuatnya
tak bisa lagi menahan mual.
Suara muntah
di kamar mandi tampaknya menggema sampai di depan pintu rumah yang terbuka.
"Dia
sepertinya di kamar mandi, aku masuk dulu yah, Mas?" Di sini Zaniah baru
saja tiba dengan sang suami.
Firhan yang
tengah menatap sekeliling rumah sahabat istrinya pun hanya mengangguk. Berusaha
menetralkan perasaan jantungnya yang tidak tenang.
"Kasihan
sekali wanita itu, hamil masih harus bekerja serabutan seperti itu. Tuhan,
biarkanlah niat baik kami ini menjadi jalan untuk pernikahan kami kedepannya
__ADS_1
bahagia. Kami ikhlas jika engkau tidak memberikan kami anugrah anak. Tetapi
ijinkan aku tetap bersama Zaniah." gumam Firhan memohon pada sang kuasa.
Sementara di
dalam sana, Zaniah mendapati sang sahabat duduk berjongkok di lantai sembari
menunduk.
"Zen?"
suara Zaniah begitu panik.
Segera ia
berlari ke dapur untuk mengambilkan minum untuk sang sahabat. "Ayo minum
dulu." Lillia Zeni menurut usai membersihkan mulutnya.
Ia sangat
lemas kala itu, "Zaniah?" tuturnya lemah.
Zaniah tak
menjawab sapaan sang sahabat. Ia hanya membantu Lillia Zeni berdiri dan
memapahnya. "Ayo aku bantu, kamu kami bawa ke rumah sakit yah?"
Begitu
baiknya Zaniah padanya, Lillia Zeni sungguh tidak akan mau merepotkan sang
sahabat lagi. Lantas ia pun menggelengkan kepala menolak tawaran Zaniah.
"Tidak,
ini normal kok. Aku baik-baik saja, Zan." tutur Lillia Zeni.
Hingga
langkah keduanya akhirnya tiba di ruang tamu kecil sederhana. Di sana tampak
pria tampan dengan setelan kerja tengah duduk menatap dua wanita yang saling
berdampingan jalan. Zaniah masih terus membantunya memapah Lillia Zeni.
"Ayo
duduk, pelan-pelan." pintah Zaniah penuh perhatian.
Ia sadar
sejak tadi beberapa kali tatapan sang suami dan Lillia Zeni bertemu. Zaniah
tahu, mungkin mereka menjadi canggung lantaran hal yang akan terjadi atas
permintaannya.
"Mas
Firhan..." Lillia Zeni menyapa lebih dulu.
Firhan hanya
mengangguk lirih tanpa berniat mengeluarkan suara. Ia sungguh tidak marah atau
pun kesal pada Lillia Zeni, sebab nasib wanita itu pun sudah cukup membuatnya
prihatin. Namun, Firhan masih sangat kesal pada keadaan yang mengharuskan
__ADS_1
dirinya mengkhianati pernikahan sucinya bersama Zaniah.