Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Zaniah Pergi


__ADS_3

Rasa lapar hilang sudah berganti muak. Zaniah sangat ingin pergi dari ruangan itu usai membersihkan dapur. Sayangnya, keberadaan kedua mertuanya membuat wanita itu harus kuat bergabung berpura-pura baik-baik saja.


Padahal dalam hatinya sangat ingin berteriak melampiaskan amarah.


“Mas Firhan jemput aku, Mas. Aku benar-benar ingin pergi dari sini.” batin Zaniah saat menatap bagaimana Wuri yang terus memberikan perhatian pada sahabatnya.


Zaniah tahu Lillia menatapnya dengan tatapan yang tak enak. Namun, kecemburuan di dada Zaniah rupanya telah bertumpuk begitu tinggi. Hingga akal sehatnya kembali hilang untuk tidak menyalahkan Lillia Zeni.


“Aduh Zaniah pasti kesal sekali. Aku harus bagaimana ini?” gumam Lillia tersenyum kikuk pada sang mertua.


Dengan keadaan kesal, Zaniah terus memakan nasi goreng yang lezat itu tanpa menikmati rasanya. Lidahnya merasakan hambar semua rasa, dan mendorong makanan itu dengan segelas air.


“Zaniah, makan itu dengan tenang. Lihat Lillia, apa pun yang ia lakukan pasti pelan dan hati-hati. Makanya masakan nasi goreng saja rasanya sangat enak. Kamu harus banyak belajar dari madu kamu ini.”


“Mah,” tegur Dika menyadari ucapan sang istri tak enak di dengar.


Zaniah hanya tersenyum tanpa berniat mengucapkan apa pun.


Sarapan pun akhirnya selesai, kini mereka beralih menuju ruang tengah. Sementara Zaniah pamit untuk mandi.


“Apa seperti itu kebiasaannya Zaniah di rumah bermalas-malasan?” Pertanyaan Wuri membuat Lillia Zeni menggeleng cepat. Tak ingin menimbulkan kesalah pahaman, ia pun menjelaskan.


“Tidak, Mah. Semalam kami bergadang makanya Zaniah kelelahan dan bangun agak terlambat.” jawab Lillia dan mendapat anggukan dari Wuri.


“Bi, tolong itu belanjaan di mobil keluarkan dan berikan sama Lillia yah?” Perintah Wuri sontak membuat mata Lillia menatap penasaran. Belanjaan apa itu? Pikirnya.


“Mah itu apa kok banyak sekali?” Lillia terkejut melihat beberapa paperbag yang di gendong oleh pelayan. Semua ia letakkan di depan Lillia.


“Kemarin Mamah sudah belanjakan semua pakaian yang nyaman untuk kamu. Si Firhan pasti nggak sempat mikir itu kan? Perempuan hamil pasti bawaannya gerah, jadi baju-baju itu sangat dingin untuk kamu pakai hari-hari dan jalan juga.” Sungguh Lillia terharu mendengarnya.


Untuk pertama kali ia mendapat perhatian lagi setelah kepergian sang ibu dan ayahnya. Refleks terlalu senang, Lillia memeluk erat tubuh Wuri yang duduk tak jauh darinya.


Ia memenamkan wajah di dada wanita paruh baya itu layaknya seorang anak dan ibu.

__ADS_1


“Makasih yah, Mah. Lillia senang sekali, Mamah baik dan sayang sama Lillia.” tuturnya tulus tanpa ingat bagaimana statusnya sebenarnya.


Dalam lubuk hati Lillia sangat menyesal telah ikut dalam drama Zaniah. Ia benar-benar tak tega membohongi Wuri lagi. Namun, semua sudah terlanjur berjalan. Ia tak mungkin membongkar semuanya. Lillia sangat takut.


Pelukan keduanya tanpa sadar telah melukai hati Zaniah. Wanita itu berdiri mematung tak jauh dari ruangan usai mandi dan berpakaian rapi. Matanya memerah dan panas melihat keakraban sahabat dan mertuanya. Jujur selama menikah dengan Firhan, Zaniah hanya berpelukan bersama mertuanya saat mereka menikah saja. Itupun pelukan dalam momen sungkem. Bukan pelukan seperti Lillia dan Wuri saat ini.


Tak ingin semakin terluka, Zaniah memilih untuk pergi ke kamar kembali. Ia tidak sanggup melihat hal lainnya lagi di ruang tengah itu.


Di kamarnya, Zaniah menangis. Tangannya bergetar menahan amarah. Beberapa kali ia menghubungi ponsel sang suami sayang tak juga ada jawaban.


“Angkat telepon aku, Mas. Angkat Mas Firhan!” ucapnya beberapa kali memencet simbol hijau di layar ponsel miliknya.


Tanpa ia sadari, di ruang tengah Wuri semakin kesal padanya.


“Hampir satu jam kok nggak selesai-selesai sih?” Gerutu wanita paruh baya itu.


“Biar saya panggilkan saja dulu, Mah.” ujar Lillia Zeni hendak bangun dari duduknya namun terhenti saat Wuri mencegah.


“Tidak usah, anak itu semakin kesini semakin tidak sopan. Yasudah Mamah dan Papah pulang yah? Kamu hati-hati dan jaga cucu kami. Pokoknya kalau ada apa-apa kabari Mamah atau Papah. Firhan jauh dari sini.” ujar Wuri membuat Lillia seketika tersenyum mengangguk.


Hingga mertua mereka pun pergi dari rumah, Zaniah belum juga keluar kamar.


“Zan, aku benar-benar ingin mengakhiri drama ini. Aku tidak mau terlalu jauh mempermainkan Mamah dan Papah. Aku tidak sanggup.” Lillia menunduk berbicara dalam hati sembari masih duduk di sofa. Dua tangannya saling menggenggam menguatkan diri untuk bicara pada sahabatnya.


Beberapa saat berpikir dan menimbang, Lillia mantap untuk mundur dari permainan ini. Ia ingin hidup tenang tak perduli bagaimana nasibnya dan sang anak kelak.


Tangannya membuka pintu kamar dan alangkah terkejutnya Lillia Zeni melihat Zaniah juga berdiri di pintu kamar itu. Keduanya saling pandang, namun tak ada kehangatan seperti malam tadi.


“Zan, aku mau bicara.” ujar Lillia Zeni tanpa ragu.


“Nggak ada yang perlu di bicarakan. Aku harus berangkat sekarang.” ketus Zaniah melewati sang sahabat dengan mini koper yang ia seret keluar.


“Zan, kamu mau kemana?” tanya Lillia mengejar Zaniah.

__ADS_1


“Aku mau nyusul suamiku. Kamu nggak berniat ikut juga kan?” Lillia Zeni menggelengkan kepalanya bingung melihat perubahan sahabatnya untuk yang kesekian kali.


Sungguh Lillia selalu berusaha menjaga persahabatan mereka, namun entah mengapa Zaniah sering kali membuatnya serba salah.


“Tolong Zen, jangan merebut semua dariku. Tolong, mengerti posisimu. Mas Firhan suami ku, jadi sadarlah kamu bukan istri sungguhan.” Tak memberi kesempatan Lillia bicara, Zaniah sudah berlari keluar.


Lillia berjalan cepat mengejar sahabatnya. “Zan, ada apa sebenarnya? Aku salah apa? Aku minta maaf. Kita bisa bicara baik-baik, Zan.” Air mata Lillia Zeni jatuh saat melihat Zaniah mengemudikan mobil laju tanpa memberinya waktu bicara.


Kini di rumah, Lillia bingung. Apa yang harus ia lakukan? Pergi bukanlah suatu cara menyelesaikan masalah. Berada di rumah juga tentu membuatnya sangat gelisah.


Pemilik rumah itu tak ada yang tinggal bersamanya.


“Kenapa semua jadi seperti ini, Zan? Aku tidak ingin kita bertengkar. Persahabatan kita selama ini baik-baik saja kan?” Lillia menangis sembari terus mengusap air mata memasuki rumah kembali.


Sementara Zaniah nekat membawa mobil seorang diri menyusul sang suami keluar kota. Ia tak perduli dengan perjalanan jauh, yang terpenting saat ini ia butuh menyandarkan tubuhnya pada sang suami.


Usai memberi tahu keberadaan pasti, Firhan tak lagi bisa menghubungi sang istri. Berulang kali ia menelpon Zaniah hingga saat ini, tak juga di angkat.


“Kemana kamu, Niah? Ada apa sebenarnya?” Firhan sangat gelisah.


Pada akhirnya ia memutuskan menghubungi telepon rumah.


“Halo, Bi?” sapa Firhan buru-buru.


“Iya, Tuan.“


“Dimana Zaniah? Apa terjadi sesuatu di rumah, Bi?” tanyanya.


“Tidak terjadi apa-apa di rumah, Tuan. Saya hanya lihat Nyonya Zaniah pergi saat Nyonya Lillia memanggilnya di depan rumah. Tapi,”


“Tapi apa, Bi?” sahut Firhan tidak sabaran.


“Tapi tadi Tuan dan Nyonya besar kemari, Tuan. Mungkin karena itu dan terjadi sesuatunya saya kurang tahu, Tuan.” Mendengar sang mamah dan papah datang. Firhan memijat kepalanya.

__ADS_1


Ia menduga ada perlakuan sang mamah yang membuat istrinya itu marah. Menghubungi orangtua dan menanyakan apa yang terjadi, rasanya tidak mungkin bagi Firhan.


__ADS_2