Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Kebahagiaan Keluarga Firhan


__ADS_3

Hari pertama berada di kebun, wajah putih milik Lillia mulai memerah. Beberapa kali wanita itu mengusap kasar wajahnya yang penuh dengan keringat. Tak ada angin yang bertiup hanya terik matahari yang begitu tajam menembus kulitnya.


“Zeni, kamu pasti lelah. Kemari ikut istirahat di pondok sana.” Wanita tua itu menunjuk pada tempat berteduh beberapa buruh.


Sadar akan kelelahan di tubuhnya Lillia sama sekali tidak menolak. Ia mengikuti langkah kaki Nenek yang biasa di panggil Nenek Tika.


“Nek, apa tidak apa-apa jika kita istirahat?” tanyanya menatap takut pada beberapa mata yang bekerja juga di sana.


Nenek Tika tersenyum lebar. “Sudah jangan perdulikan mereka. Istirahat ini hak kita kok. Kalau memaksa yang ada kita kerja full hari ini, besok kita tidak bisa kerja karena kelelahan.”


Dua wanita berbeda usia itu tampak duduk meneguk air putih mereka sembari menikmati bekal yang sudah Nenek Tika siapkan sejak subuh.


Entah mengapa Lillia merasa keadaannya yang seperti ini justru begitu sangat tenang. Sumpah demi apa pun Lillia meyakini jika kemewahan tidaklah berarti di bandingkan hidup yang penuh dengan ketenangan.

__ADS_1


“Aku harap kehidupan yang aku pilih saat ini adalah jalan yang terbaik. Semoga kamu bahagia, Zan. Aku sangat rindu dengan persahabatan kita dulu. Semoga kelak hubungan kita bisa membaik seperti dulu lagi.” Tak ada siapa pun yang ia ingat. Hanya Zaniah, wanita satu-satunya yang setia sejak dulu di sisinya.


Satu kesalahan besar saat ini sang sahabat padanya bukanlah perihal yang benar-benar fatal menurut Lillia. Bagaimana pun nama Zaniah akan tetap paling indah di hatinya.


Tanpa sadar Lillia tersenyum mengenang sang sahabat di masa lalu. Ia terkejut saat mendapat sapuan hangat di pundaknya.


“Iya, Nek?” Wajahnya menatap wanita tua di depannya.


Sejenak rasa bersyukur menghinggapi diri Lillia. Ia jauh lebih beruntung dari nenek di depannya. Hidupnya kelak saat tua tidak akan sendirian. Sebab ada anak yang akan hidup bersamanya dan berjuang bersama.


“Perut saya terasa penuh sekali, Nek. Takutnya nanti malah tidak bisa kerja.” jawab Lillia.


Keduanya pun lanjut bekerja siang itu, sementara Firhan dan Zaniah sudah tampak berbelanja perlengkapan bayi mereka.

__ADS_1


Wajah antusias Firhan dan Wuri seolah menjadi kebahagiaan tersendiri saat ini. Tanpa ada perhitungan sama sekali mereka mengambil apa pun yang menurutnya sangat menarik dan lucu.


“Mah, apa ini tidak berlebihan?” Dika keheranan melihat belanjaan yang bahkan baru berjalan lima menit sudah sangat banyak.


“Papah diam!” Firhan, Wuri sama-sama bersuara.


Dan Dika saat itu juga membungkam bibirnya. Matanya memutar dengan malas kala melihat tatapan sang istri dan anak.


Zaniah menggelengkan kepala terkekeh, tentu saja wanita itu saat ini bisa tertawa dengan puas. Sebab semua bisa ia handle dengan baik. Dokter kandungan sudah bisa di tangani sebaik mungkin. Dan soal perut, ia mampu membuat seluruh keluarganya percaya jika tidak bisa di sentuh perut kala sedang hamil.


Merasa begitu takut sang janin kenapa-kenapa, dengan bodohnya mereka menuruti semua ucapan Zaniah.


“Sabar yah, Pah. Semoga saja Mamah dan Mas Firhan bisa belanja dengan keadaan sadar hehehe.” Wanita hamil pura-pura itu terkekeh.

__ADS_1


Tangannya bergerak seolah benar menjadi ibu hamil. Mengusap lembut perut buncit itu.


Seluruh pergerakan Zaniah sangat handal. Tak ada satu pun yang curiga. Dari gerakan jalan, gerakan tubuh, hingga seluruh penampilan yang benar-benar nyata seperti wanita hamil sungguhan.


__ADS_2