Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Keegoisan Zaniah


__ADS_3

Sarapan


dengan keadaan hening nyatanya membuat Firhan sadar jika ia tidak boleh


menunjukkan rasa kagum akan masakan istri mudanya kali ini. Keadaan Zaniah


sedang tidak baik, tentu sebagai suami Firhan tak ingin menambah masalah lagi


dalam rumah tangganya. Hingga akhirnya pria itu memilih untuk menyudahi makan


pagi itu.


"Aku


harus secepatnya ke kantor. Lillia, aku titip Zaniah di rumah." tutur


Firhan yang sebenarnya tak ada niat mengatakan itu. Sebab ia tahu apa saja


kebiasaan sang istri di rumah yang sangat tidak membuatnya khawatir.


Namun,


lagi-lagi Firhan harus berusaha membangun hubungan yang baik kembali pada sang


istri pertama dengan kehadiran Lillia Zeni. Jangan sampai pikiran Zaniah yang


kacau bertambah dengan sikap Firhan yang mungkin saja menurutnya acuh.


"Iya,


Mas." jawab Lillia Zeni patuh tanpa mengatakan apa pun lagi.


Zaniah tak


bicara apa pun selain ikut pergi ke luar rumah mengantar kepergian sang suami.


Dua wanita berdiri mengantar kepergian Firhan pagi itu. Sungguh Firhan


benar-benar canggung rasanya.


"Hati-hati."


ujar Zaniah usai mencium punggung tangan sang suami.


Lain halnya


dengan Firhan yang beralih menatap istri keduanya. Rasanya sebagai seorang


suami yang sah, Firhan sadar akan hak dari seorang istri. Sudah sepatutnya


Lillia Zeni turut mencium punggung tangannya.


Sejenak


keadaan canggung hingga akhirnya pria itu memutuskan masuk ke dalam mobil tanpa


mendekat pada istri keduanya.


Wajah dua


sahabat yang selalu hangat kini tak nampak lagi. Zaniah melangkah masuk ke


dalam rumah tanpa bersuara apa pun pada Lillia Zeni. Melihat itu, Lillia Zeni


tak ingin tinggal diam. Ia berhak menyelesaikan masalah yang timbul.


"Zan,


tunggu." panggilnya menyusul sang sahabat yang sudah di dalam lebih dulu.


Baru saja


Zaniah hendak menutup pintu kamar, Lillia Zeni sudah menahan pintu itu.


"Zan, kita harus bicara." tuturnya tegas.


"Aku


ingin istirahat, Zen." jawab Zaniah pada akhirnya.


Lillia Zeni


menghela napasnya kasar. "Apa aku salah menerima permintaanmu itu? Jika


iya benar, aku akan meminta Mas Firhan menceraikan aku." ucapan Lillia


Zeni membuat kedua bola mata Zaniah membulat sempurna.


Yang benar


saja baru menikah kemarin dan sekarang sudah meminta cerai? Tidak. Zaniah tidak


setuju itu.


"Zen,


kamu berniat mempermainkan rumah tanggaku dan Mas Firhan? Kamu sudah


menyetujuinya, mengapa harus bercerai sebelum waktunya?" pertanyaan Zaniah


seolah tak sadar jika sikapnya pada sahabatnya telah berubah drastis.

__ADS_1


Lillia Zeni memerah


matanya menahan tangis. "Zan, aku adalah sahabatmu. Aku menikah hanya


mengikuti mu, aku salah apa aku tidak tahu. Tapi lihatlah bagaimana kau


memusuhi ku semalaman ini." terang Lillia Zeni.


Zaniah


terdiam menyadari bagaimana ia bersikap membuat sang sahabat merasa tak nyaman


kala itu. Pelan ia menghela napasnya kasar. Agaknya masalah yang ia hadapi


membuat pikirannya sedikit kacau. Zaniah mendekat lalu memeluk tiba-tiba tubuh


sang sahabat.


"Zen,


maafkan aku. Aku juga tidak tahu mengapa aku seperti ini. Maafkan aku, aku


mohon bantu aku kali ini. Aku berjanji tidak akan membuat mu seperti ini lagi.


Aku salah, aku terlalu takut Mas Firhan berpaling dari ku, Zen. Aku benar-benar


tidak siap jika itu terjadi. Aku tidak bisa memberikan dia anak." ujar Zaniah


mencurahkan segala kegundahan hatinya selama ini.


Bagaimana ia


tidak cemburu dan was-was, Lillia Zeni adalah sosok sahabat yang menyandang


kata sempurna. Ia cantik, lemah lembut, bisa memiliki anak, serta pandai


memasak. Semua yang ada pada diri Lillia Zeni nyatanya tanpa sadar membuat


Zaniah ketakutan saat sadar akan nilai itu.


Ia


benar-benar takut jika tersaingi oleh sahabatnya sendiri di hadapan sang suami.


"Aku


sebaiknya tinggal di rumah ku saja, Zan. Aku tidak bisa jika tinggal di sini


seperti menjadi orang ketiga di rumah tangga sahabatku sendiri. Sungguh, aku


tidak ingin seperti ini." Lillia Zeni menangis di pelukan sang sahabat.


Sayangnya


sang sahabat mendiamkannya dan memasang wajah ketus seperti itu.


Zaniah yang


mendengar itu menggelengkan kepalanya cepat.


Hingga sejak


hari itu pun hubungan keduanya sudah membaik. Firhan dan Zaniah pun kembali


harmonis lagi, sementara setiap pagi selama satu minggu tampak Zaniah dan


Lillia Zeni memasak bersama. Banyak hal yang Zaniah dapatkan dari sahabatnya


itu tentang memasak mau pun membuat kue.


"Zen,


apa ini masih kurang rata adonannya?" tanya Zaniah menunjukkan pada adonan


kue bolu.


Suara hujan


di luar rumah pagi itu membuat Zaniah harus sedikit berteriak. Lillia Zeni pun


mendekat usai mencuci tangannya.


"Iya,


sedikit lagi gerakan tanganmu juga harus sedikit kuat. Atau biar aku saja yang


membuatnya?" tutur Lillia Zeni ingin mengambil alih adonan kue yang di


kocok tanpa mixer.


Menurutnya


sih cara sederhana rasanya akan jauh lebih nikmat tentunya. Segera Zaniah


mencegah tangan sahabatnya.


"Jangan,


nanti kau kelelahan. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak kita."


tutur Zaniah tersenyum penuh perhatian.

__ADS_1


Lillia Zeni


hanya menggelengkan kepalanya.


"Wah


wah lagi buat apa sih? sepertinya seru sekali?" Firhan yang baru saja


mandi usai berolah raga di sekitar perumahan tampak menghampiri kedua istrinya


yang sama-sama cantik. Namun, hatinya masih tetap jatuh pada istri tercinta.


"Ini


loh, Mas. Zeni ngajarin aku buat kue. Mumpung lagi hujan katanya enak makan


yang hangat-hangat." jawab Zaniah tersenyum lebar.


Firhan pun


tersenyum senang, kekhawatirannya mengenai rumah tangganya yang terancam hancur


nyatanya tidak terjadi. Kini semua tampak baik-baik saja selama satu minggu


ini. Lillia Zeni benar-benar menunjukkan ketulusannya pada sang sahabat.


"Sayang,


Mamah hari ini mau kesini mumpung aku libur kerja. Sekalian kuenya di buat


lebih yah?" pintah Firhan sukses membuat wajah ceria Zaniah menjadi


murung.


Niat awal


ingin merahasiakan ini semua sepertinya akan sulit. Awalnya Zaniah berpikir


akan merahasiakan pernikahan kedua suaminya. Dan setelah lahir barulah ia


memberi tahu mertua jika Zaniah sendiri lah yang tengah mengandung anak itu.


Sayangya, tidak akan semudah itu mengingat jarak tinggal mereka berada di kota


yang sama.


"Mas,"


panggil Zaniah sesaat setelah menghentikan kegiatan di dapur.


Firhan


menatapnya menunggu ucapan berikutnya.


"Apa


kita jujur pada Mamah saja? Biarkan Mamah tahu pernikahan kalian, dan kehamilan


Zeni katakan saja sudah terjadi sebelum kalian menikah. Itu sebabnya Mas


menikahi Zeni karena tanpa sengaja menghamilinya." Kedua mata Lillia Zeni


dan Firhan sama-sama membulat penuh.


Sungguh


mereka tak mengira Zaniah dengan mudah menyusun rencana itu sendiri.


"Niah,


Mas tidak sanggup membohongi Mamah." tolak Firhan keras.


Lillia Zeni


terdiam tak tahu harus berbuat apa saat ini. "Ya Tuhan...sepertinya aku


telah masuk terlalu dalam di rumah tangga ini. Mengapa jadi seperti ini?"


gumam Lillia Zeni merasa dirinya tak bisa melakukan apa pun.


Ingin


rasanya Lillia pergi, namun mengingat statusnya yang tidak menikah dan hamil


tanpa tahu siapa pria yang menghamilinya, sungguh Lillia tidak tahu harus


berbuat apa ke depannya. Ia benar-benar tidak sanggup jika menanggung aib itu


seorang diri.


"Mas,


hanya itu satu-satunya cara agar kita bisa merawat bayi Zeni. Kalau tidak,


Mamah akan tetap menikahkan kamu Mas sama Sela Agnes. Aku nggak akan rela itu


terjadi, Mas Firhan." desak Zaniah mulai egois.


Firhan diam


sejenak memikirkan ucapan sang istri. Ia tahu bagaimana Zaniah dan Mamahnya

__ADS_1


yang sama-sama keras kepala.


__ADS_2