
Sarapan
dengan keadaan hening nyatanya membuat Firhan sadar jika ia tidak boleh
menunjukkan rasa kagum akan masakan istri mudanya kali ini. Keadaan Zaniah
sedang tidak baik, tentu sebagai suami Firhan tak ingin menambah masalah lagi
dalam rumah tangganya. Hingga akhirnya pria itu memilih untuk menyudahi makan
pagi itu.
"Aku
harus secepatnya ke kantor. Lillia, aku titip Zaniah di rumah." tutur
Firhan yang sebenarnya tak ada niat mengatakan itu. Sebab ia tahu apa saja
kebiasaan sang istri di rumah yang sangat tidak membuatnya khawatir.
Namun,
lagi-lagi Firhan harus berusaha membangun hubungan yang baik kembali pada sang
istri pertama dengan kehadiran Lillia Zeni. Jangan sampai pikiran Zaniah yang
kacau bertambah dengan sikap Firhan yang mungkin saja menurutnya acuh.
"Iya,
Mas." jawab Lillia Zeni patuh tanpa mengatakan apa pun lagi.
Zaniah tak
bicara apa pun selain ikut pergi ke luar rumah mengantar kepergian sang suami.
Dua wanita berdiri mengantar kepergian Firhan pagi itu. Sungguh Firhan
benar-benar canggung rasanya.
"Hati-hati."
ujar Zaniah usai mencium punggung tangan sang suami.
Lain halnya
dengan Firhan yang beralih menatap istri keduanya. Rasanya sebagai seorang
suami yang sah, Firhan sadar akan hak dari seorang istri. Sudah sepatutnya
Lillia Zeni turut mencium punggung tangannya.
Sejenak
keadaan canggung hingga akhirnya pria itu memutuskan masuk ke dalam mobil tanpa
mendekat pada istri keduanya.
Wajah dua
sahabat yang selalu hangat kini tak nampak lagi. Zaniah melangkah masuk ke
dalam rumah tanpa bersuara apa pun pada Lillia Zeni. Melihat itu, Lillia Zeni
tak ingin tinggal diam. Ia berhak menyelesaikan masalah yang timbul.
"Zan,
tunggu." panggilnya menyusul sang sahabat yang sudah di dalam lebih dulu.
Baru saja
Zaniah hendak menutup pintu kamar, Lillia Zeni sudah menahan pintu itu.
"Zan, kita harus bicara." tuturnya tegas.
"Aku
ingin istirahat, Zen." jawab Zaniah pada akhirnya.
Lillia Zeni
menghela napasnya kasar. "Apa aku salah menerima permintaanmu itu? Jika
iya benar, aku akan meminta Mas Firhan menceraikan aku." ucapan Lillia
Zeni membuat kedua bola mata Zaniah membulat sempurna.
Yang benar
saja baru menikah kemarin dan sekarang sudah meminta cerai? Tidak. Zaniah tidak
setuju itu.
"Zen,
kamu berniat mempermainkan rumah tanggaku dan Mas Firhan? Kamu sudah
menyetujuinya, mengapa harus bercerai sebelum waktunya?" pertanyaan Zaniah
seolah tak sadar jika sikapnya pada sahabatnya telah berubah drastis.
__ADS_1
Lillia Zeni memerah
matanya menahan tangis. "Zan, aku adalah sahabatmu. Aku menikah hanya
mengikuti mu, aku salah apa aku tidak tahu. Tapi lihatlah bagaimana kau
memusuhi ku semalaman ini." terang Lillia Zeni.
Zaniah
terdiam menyadari bagaimana ia bersikap membuat sang sahabat merasa tak nyaman
kala itu. Pelan ia menghela napasnya kasar. Agaknya masalah yang ia hadapi
membuat pikirannya sedikit kacau. Zaniah mendekat lalu memeluk tiba-tiba tubuh
sang sahabat.
"Zen,
maafkan aku. Aku juga tidak tahu mengapa aku seperti ini. Maafkan aku, aku
mohon bantu aku kali ini. Aku berjanji tidak akan membuat mu seperti ini lagi.
Aku salah, aku terlalu takut Mas Firhan berpaling dari ku, Zen. Aku benar-benar
tidak siap jika itu terjadi. Aku tidak bisa memberikan dia anak." ujar Zaniah
mencurahkan segala kegundahan hatinya selama ini.
Bagaimana ia
tidak cemburu dan was-was, Lillia Zeni adalah sosok sahabat yang menyandang
kata sempurna. Ia cantik, lemah lembut, bisa memiliki anak, serta pandai
memasak. Semua yang ada pada diri Lillia Zeni nyatanya tanpa sadar membuat
Zaniah ketakutan saat sadar akan nilai itu.
Ia
benar-benar takut jika tersaingi oleh sahabatnya sendiri di hadapan sang suami.
"Aku
sebaiknya tinggal di rumah ku saja, Zan. Aku tidak bisa jika tinggal di sini
seperti menjadi orang ketiga di rumah tangga sahabatku sendiri. Sungguh, aku
tidak ingin seperti ini." Lillia Zeni menangis di pelukan sang sahabat.
Sayangnya
sang sahabat mendiamkannya dan memasang wajah ketus seperti itu.
Zaniah yang
mendengar itu menggelengkan kepalanya cepat.
Hingga sejak
hari itu pun hubungan keduanya sudah membaik. Firhan dan Zaniah pun kembali
harmonis lagi, sementara setiap pagi selama satu minggu tampak Zaniah dan
Lillia Zeni memasak bersama. Banyak hal yang Zaniah dapatkan dari sahabatnya
itu tentang memasak mau pun membuat kue.
"Zen,
apa ini masih kurang rata adonannya?" tanya Zaniah menunjukkan pada adonan
kue bolu.
Suara hujan
di luar rumah pagi itu membuat Zaniah harus sedikit berteriak. Lillia Zeni pun
mendekat usai mencuci tangannya.
"Iya,
sedikit lagi gerakan tanganmu juga harus sedikit kuat. Atau biar aku saja yang
membuatnya?" tutur Lillia Zeni ingin mengambil alih adonan kue yang di
kocok tanpa mixer.
Menurutnya
sih cara sederhana rasanya akan jauh lebih nikmat tentunya. Segera Zaniah
mencegah tangan sahabatnya.
"Jangan,
nanti kau kelelahan. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak kita."
tutur Zaniah tersenyum penuh perhatian.
__ADS_1
Lillia Zeni
hanya menggelengkan kepalanya.
"Wah
wah lagi buat apa sih? sepertinya seru sekali?" Firhan yang baru saja
mandi usai berolah raga di sekitar perumahan tampak menghampiri kedua istrinya
yang sama-sama cantik. Namun, hatinya masih tetap jatuh pada istri tercinta.
"Ini
loh, Mas. Zeni ngajarin aku buat kue. Mumpung lagi hujan katanya enak makan
yang hangat-hangat." jawab Zaniah tersenyum lebar.
Firhan pun
tersenyum senang, kekhawatirannya mengenai rumah tangganya yang terancam hancur
nyatanya tidak terjadi. Kini semua tampak baik-baik saja selama satu minggu
ini. Lillia Zeni benar-benar menunjukkan ketulusannya pada sang sahabat.
"Sayang,
Mamah hari ini mau kesini mumpung aku libur kerja. Sekalian kuenya di buat
lebih yah?" pintah Firhan sukses membuat wajah ceria Zaniah menjadi
murung.
Niat awal
ingin merahasiakan ini semua sepertinya akan sulit. Awalnya Zaniah berpikir
akan merahasiakan pernikahan kedua suaminya. Dan setelah lahir barulah ia
memberi tahu mertua jika Zaniah sendiri lah yang tengah mengandung anak itu.
Sayangya, tidak akan semudah itu mengingat jarak tinggal mereka berada di kota
yang sama.
"Mas,"
panggil Zaniah sesaat setelah menghentikan kegiatan di dapur.
Firhan
menatapnya menunggu ucapan berikutnya.
"Apa
kita jujur pada Mamah saja? Biarkan Mamah tahu pernikahan kalian, dan kehamilan
Zeni katakan saja sudah terjadi sebelum kalian menikah. Itu sebabnya Mas
menikahi Zeni karena tanpa sengaja menghamilinya." Kedua mata Lillia Zeni
dan Firhan sama-sama membulat penuh.
Sungguh
mereka tak mengira Zaniah dengan mudah menyusun rencana itu sendiri.
"Niah,
Mas tidak sanggup membohongi Mamah." tolak Firhan keras.
Lillia Zeni
terdiam tak tahu harus berbuat apa saat ini. "Ya Tuhan...sepertinya aku
telah masuk terlalu dalam di rumah tangga ini. Mengapa jadi seperti ini?"
gumam Lillia Zeni merasa dirinya tak bisa melakukan apa pun.
Ingin
rasanya Lillia pergi, namun mengingat statusnya yang tidak menikah dan hamil
tanpa tahu siapa pria yang menghamilinya, sungguh Lillia tidak tahu harus
berbuat apa ke depannya. Ia benar-benar tidak sanggup jika menanggung aib itu
seorang diri.
"Mas,
hanya itu satu-satunya cara agar kita bisa merawat bayi Zeni. Kalau tidak,
Mamah akan tetap menikahkan kamu Mas sama Sela Agnes. Aku nggak akan rela itu
terjadi, Mas Firhan." desak Zaniah mulai egois.
Firhan diam
sejenak memikirkan ucapan sang istri. Ia tahu bagaimana Zaniah dan Mamahnya
__ADS_1
yang sama-sama keras kepala.