
Meninggalkan sang istri yang tengah terduduk syok meneteskan air mata, berat rasanya namun Firhan bukanlah pria pengecut. Ia wajib bertanggung jawab untuk tetap meneruskan semuanya. Lillia sudah ia sentuh dengan perasaan yang sadar, bagaimana mungkin Firhan meninggalkan wanita itu begitu saja.
Mobil yang ia kendarai pun tiba di rumah sederhana milik Lillia, tanpa salam pria itu mengetuk terus menerus pintu rumah itu. Belum ****** ia mengetuk ke sekian kalinya, tiba-tiba saja pintu terbuka dari dalam.
"Mas Firhan?" Lillia menunduk enggan menatap wajah pria di depannya saat ini. Baginya ia tak ingin lagi menganggap hubungan mereka suami istri. Semua sudah cukup untuk Lillia dan demi Zaniah ia akan meninggalkan perjanjian konyol itu.
"Lia, kenapa harus pergi tanpa bicara dulu? Ayo pulang." ajak Firhan yang menggenggam erat tangan sang istri, namun kasar Lillia menepis tangan suaminya itu.
"Maaf, Mas. Aku hanya ingin di rumah ini dan tolong jangan pikirkan perjanjian itu lagi. Aku ingin hidup sendiri di sini dan aku membatalkan semuanya." tutur Lillia yang berterus terang tak ingin lagi melanjutkan semuanya.
Sudah lelah ia menjalani ini semua penuh dengan drama bahkan sampai lupa bagaimana ia memikirkan masa depannya sendiri. Mendengar itu tentu saja Firhan tak setuju. Ia menggelengkan kepala dan menggenggam kembali tangan Lillia.
"Tolong jangan seperti ini, Mas." peringat Lillia seakan ia menegaskan jika tak ingin di sentuh lagi. Firhan mengangkat kedua tangan.
__ADS_1
"Baik, kita bicara dulu. Tolong Lia kembali ke rumah. Ini bukan mengenai perjanjian itu. Tapi Mas sudah sah menjadi suamimu secara keseluruhan. Tolong, kita tetap pertahankan pernikahan ini. Mas sangat tidak mau yang namanya cerai."
Baru saat itu juga Lillia mengangkat wajah menatap Firhan kaget. "Mas sudah bicara terus terang dengan Zaniah. Semuanya tidak akan muda tapi ini memang sudah yang terjadi." Air mata Lillia menetes begitu saja kala mendengar Zaniah tengah mengetahui hubungan mereka. Tentu saja hubungan yang tidak ada dalam kesepakatan tentunya.
"Pergilah, Mas. Saya tidak mau berurusan dengan kalian. Tolong jangan paksa saya, saya akan mencari kehidupan saya sendiri. Berusahalah kalian berdua untuk mendapatkan anak, biarkan saya tenang di sini. Saya tidak akan sanggup melihat wajah Zaniah yang kecewa pada saya." Tanpa memberikan Firhan waktu bicara, Lillia langsung menutup pintu rumah.
Beberapa kali Firhan mengetuk pintu rumah itu, Lillia masih kekeuh tak kunjung membukanya. Ia menangis di balik pintu mengetahui Zaniah telah mendengar dari Firhan. Sungguh rasanya telah menjadi orang paling jahat. Bagaimana bisa Lillia berperan dalam merusak rumah tangga orang.
Beberapa kali mengetuk, Firhan akhirnya menyerah. Ia memilih untuk pergi dan melakukan sesuatu. Satu jam berlalu dari waktu ia mengunjungi rumah Lillia, siapa sangka justru Firhan kembali lagi dan melihat mobil sang suami datang, Lillia berlari masuk ke dalam rumah mengunci rumah itu rapat-rapat.
Pelan Lillia mengintip dari jendela memastikan tak ada orang di luar. Seketika keningnya mengernyit melihat tumpukan barang di depan pintu rumahnya. "Apa itu?" tanyanya dan membuka pintu rumah.
Terkejut tentu saja, Lillia melihat banyaknya kebutuhan sembako serta sayur buah dan lainnya yang berkualitas tentunya. Sayur dan bahan lainnya yang terpacking rapi dengan plastik-plastik bersih.
__ADS_1
"Gunakan semua dengan baik kalau tidak Mas akan memaksa kamu kembali ke rumah. Besok-besok Mas akan datang lagi. Jangan pergi kemana pun beristirahat yang banyak untuk anak kita." Bukan senang yang Lillia rasakan melainkan miris dengan hidupnya saat ini.
Firhan tampaknya tak akan lepas tanggung jawab begitu saja pada Lillia mau pun anak dari pria yang tak tahu siapa itu. Mengangkat sati persatu barang, Lillia lakukan seorang diri. Semua kebutuhan begitu lengkap di bawakan oleh sang suami.
Hingga tiga hari dari kejadian hari itu, kini Firhan kembali datang dengan barang belanjaan yang lainnya. Mobilnya terparkir dengan satu mobil khusus pengantar barang elektronik. Kening Lillia kembali mengernyit, saat ini wanita hamil itu tak bisa berlari sebab ia tengah menjemur pakaian siang itu.
"Lia, ini kulkas untuk kamu menyimpan buah biar lebih segar. Bagaimana kamu ada keluhan?" tanya Firhan dengan baik seolah tak terjadi apa-apa antara mereka.
Tanpa keduanya sadari dari jauh ada sepasang mata yang memperhatikan percakapan itu. Matanya tampak menyipit dan tangannya terkepal begitu erat.
Firhan dan Lillia tampak berbicara di depan rumah duduk di teras dengan kursi seadanya. "Malam ini Mas akan datang. Masakin sayur asam yang seperti biasa yah?" ujar Firhan yang terasa berat untuk Lillia menolaknya.
Tak apalah, sebab mereka memang suami istri. Lillia pun hanya bisa menganggukkan kepala tanpa bersuara sedikit pun.
__ADS_1
Jam istirahat kantor sebentar lagi akan berakhir, yang artinya Firhan harus segera kembali ke kantor. "Mas akan kerja dulu. Nanti pulang ke rumah, baru ke sini. Baik-baik di rumah yah?" lagi Lillia hanya patuh tanpa bicara.
Firhan pergi dan Lillia hanya menatap dengan tatapan nanar. Ini bukan kehidupan yang ia inginkan. Bukan pernikahan yang ia harapkan. Namun menghindar rasanya tak bisa lagi, sebab pernikahan mereka sudah sah dan Firhan tentu tak akan menceraikannya begitu saja.