Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Pilihan Yang Berakhir Menyakiti


__ADS_3

Satu


punggung tangan yang selalu tertuju pada bibir satu wanita yaitu Zaniah,


akhirnya kini terpaksa harus di sentuh oleh wanita lain yang merupakan istri


kedua. Penghulu turut menyaksikan kejadian mencium punggung dan mencium kening


itu.


Meski wajah


kedua mempelai pengantin nampak sangat datar tak ada raut bahagia yang


terpancar di sana. Tanpa bisa menahan, Zaniah meneteskan air mata dan sekuat


tenaga ia pun menahan suara tangis itu.


Pernikahan


sederhana telah usai, kini saatnya mereka kembali ke rumah dengan status yang


baru. Zaniah berstatus istri pertama, Lillia Zeni berstatus istri kedua, dan


Firhan berstatus memiliki dua istri. Sungguh miris bukan?


"Zan,


aku bisa tinggal di rumahku saja..." tutur Lillia Zeni saat mereka sudah


berada di dalam mobil hendak menuju kediaman Zaniah dan Firhan.


Di depan


sana Zaniah dan Firhan saling pandang sebelum akhirnya Zaniah bersuara.


"Zen, kita sama-sama istri Mas Firhan. Dan kau sedang mengandung,


tinggallah di rumah kami. Aku ingin anak itu akan terbiasa berada di rumah


sebelum ia lahir. Aku percaya padamu, dan kau juga harus mementingkan anak itu.


Kasihan dia." tutur Zaniah tak ingin mendapatkan penolakan dari sang


sahabat.


Firhan hanya


diam tanpa berucap apa pun, ia tahu bagaimana sang istri egoisnya saat ini.


Semua tentu demi pernikahan mereka.


"Baiklah,"


jawab Lillia Zeni dengan pasrah.


Ia hanya


duduk menikmati perjalanan menuju kediaman sang sahabat yang kini sudah


memiliki suami yang sama dengannya.


Perjalanan


pun tak ada suara dari ketiganya. Mereka larut dalam pikiran masing-masing


hingga beberapa menit berlalu mobil itu tiba di halaman rumah yang  asing


bagi Lillia Zeni. Yah, rumah yang sejak dulu menjadi tempat Zaniah dan sang


suami tinggal namun tak pernah Lillia Zeni sekali pun datang berkunjung selain


di rumah orangtua Zaniah.


"Kamarmu


akan ku tunjukkan, ayo." Zaniah menggandeng tangan Lillia Zeni yang sejak

__ADS_1


tadi hanya diam.


Pemandangan


gandengan tangan itu membuat Firhan hanya mampu menghela napas kasar. Matanya


menelusuri sudut rumah yang selalu menjadi saksi setiap momen dalam


pernikahannya. Rasanya sungguh asing ada orang lain yang tinggal di rumah itu.


"Semoga


ini bukanlah sebuah masalah, Tuhan." gumam Firhan lalu memilih berjalan


masuk ke dalam kamarnya.


Tak berbeda


jauh dengan Firhan, di sini Zaniah pun menatap sang sahabat penuh harapan.


"Ya Allah semoga pilihanku tepat. Aku percaya dengan Zeni, dia wanita yang


baik. Aku yakin semua ini akan berakhir indah." batin Zaniah.


Tanpa mereka


tahu bagaimana rasanya menjadi Lillia Zeni yang merasa seperti parasit di rumah


itu, sungguh ia begitu tidak nyaman tinggal satu atap dengan pasangan suami


istri yang baru saja ia masuki pernikahannya itu.


Selepas


perginya Zaniah, kini Lillia Zeni duduk di sisi ranjang dengan mengusap


perutnya yang sedikit buncit itu. Air matanya jatuh.


"Nak,


mengapa harus seperti ini jalan kita? Ibu sangat menantikan status menjadi


tanpa menjadi istri seutuhnya." Sungguh miris mendengar keluhan Lillia


Zeni saat ini.


Sahabat yang


selalu menjadi sandarannya pun nyatanya tengah rapuh, dan Lillia Zeni tak


sanggup menyakitinya lebih dalam seperti mertua Zaniah.


Hari itu


semua berjalan dengan semestinya. Lillia Zeni turut membantu memasak dan


menyiapkan makan malam. Meski rasanya sungguh tak nyaman berada di rumah dalam


keadaan sang tuan rumah sama-sama membisu. Lillia Zeni tahu betul jika


pernikahannya tanpa terasa menyakiti perasaan Zaniah.


"Mas


Firhan, Zan, makannya sudah siap. Silahkan di makan." pintahnya tanpa


berani berucap lebih panjang lagi.


Usai tak


mendapatkan jawaban selain anggukan dan senyuman samar dari Zaniah, Lillia Zeni


memilih menuju kamarnya. Ia tak ingin ikut bergabung di meja makan yang akan


menambah kesan semakin mencekam.


Sementara

__ADS_1


Zaniah yang duduk di meja makan menahan sakit yang tanpa alasan. Panggilan


Lillia Zeni pada sang suami tanpa sadar membuatnya sangat cemburu. Air matanya


menetes mendengar itu. Padahal di hari-hari sebelumnya itulah panggilan Lillia


Zeni pada suaminya juga.


"Niah!"


Firhan memanggil Zaniah yang meninggalkan meja makan tanpa mau makan saat itu.


Wanita itu


meneteskan air matanya di dalam kamar dan berbaring memeluk selimut yang ia


gulung tanpa bentuk. Firhan semula hanya berdecak, kemudian ia bergerak


menyusul Zaniah ke dalam kamar.


"Niah,


ada apa? Kenapa kau menangis?" pertanyaan Firhan rasanya membuat Zaniah


muak.


Mengapa


harus bertanya? Ia seharusnya tahu apa sebabnya.


"Aku


sakit, Mas." keluh Zaniah menangis terisak.


Firhan duduk


di belakang sang istri yang berbaring memunggunginya. "Sakit? memang apa


yang kami lakukan? Ini atas permintaanmu, bukan? Bukankah seharusnya dari awal


mendengarku? Aku sudah katakan ini tidak benar, Niah." ujar Firhan


mengingatkan sang istri.


Jika dirinya


adalah penolak pertama jalan yang Zaniah pilih ini.


"Keluarlah,


Mas. Aku ingin sendiri malam ini. Aku mohon...biarkan aku menenangkan diriku


sendiri dulu." pintah Zaniah membuat Firhan semakin habis kesabaran


rasanya.


Di sini


bukan Zaniah sendiri yang menderita, Firhan pun merasa sakit sekali rasanya


harus menikahi wanita yang tidak ia inginkan. Bahkan sebagai seorang pria, ia


harus merelakan tekadnya untuk menikah seumur hidup hanya sekali demi


permohonan sang istri pula.


Tak ingin


berdebat, Firhan memilih keluar kamar dan tidur di sofa. Tak perduli bagaimana


Zaniah menangis sepanjang malam di kamarnya seorang diri.


Ingin marah,


Zaniah tak tahu marah pada siapa. Sebab ini semua terjadi atas keinginannya.


Bahkan Lillia Zeni pun sangat menolak dari awal, jika saja bukan Zaniah yang

__ADS_1


memohon untuk meminta pertolongan wanita hamil itu.


__ADS_2