
Satu
punggung tangan yang selalu tertuju pada bibir satu wanita yaitu Zaniah,
akhirnya kini terpaksa harus di sentuh oleh wanita lain yang merupakan istri
kedua. Penghulu turut menyaksikan kejadian mencium punggung dan mencium kening
itu.
Meski wajah
kedua mempelai pengantin nampak sangat datar tak ada raut bahagia yang
terpancar di sana. Tanpa bisa menahan, Zaniah meneteskan air mata dan sekuat
tenaga ia pun menahan suara tangis itu.
Pernikahan
sederhana telah usai, kini saatnya mereka kembali ke rumah dengan status yang
baru. Zaniah berstatus istri pertama, Lillia Zeni berstatus istri kedua, dan
Firhan berstatus memiliki dua istri. Sungguh miris bukan?
"Zan,
aku bisa tinggal di rumahku saja..." tutur Lillia Zeni saat mereka sudah
berada di dalam mobil hendak menuju kediaman Zaniah dan Firhan.
Di depan
sana Zaniah dan Firhan saling pandang sebelum akhirnya Zaniah bersuara.
"Zen, kita sama-sama istri Mas Firhan. Dan kau sedang mengandung,
tinggallah di rumah kami. Aku ingin anak itu akan terbiasa berada di rumah
sebelum ia lahir. Aku percaya padamu, dan kau juga harus mementingkan anak itu.
Kasihan dia." tutur Zaniah tak ingin mendapatkan penolakan dari sang
sahabat.
Firhan hanya
diam tanpa berucap apa pun, ia tahu bagaimana sang istri egoisnya saat ini.
Semua tentu demi pernikahan mereka.
"Baiklah,"
jawab Lillia Zeni dengan pasrah.
Ia hanya
duduk menikmati perjalanan menuju kediaman sang sahabat yang kini sudah
memiliki suami yang sama dengannya.
Perjalanan
pun tak ada suara dari ketiganya. Mereka larut dalam pikiran masing-masing
hingga beberapa menit berlalu mobil itu tiba di halaman rumah yang asing
bagi Lillia Zeni. Yah, rumah yang sejak dulu menjadi tempat Zaniah dan sang
suami tinggal namun tak pernah Lillia Zeni sekali pun datang berkunjung selain
di rumah orangtua Zaniah.
"Kamarmu
akan ku tunjukkan, ayo." Zaniah menggandeng tangan Lillia Zeni yang sejak
__ADS_1
tadi hanya diam.
Pemandangan
gandengan tangan itu membuat Firhan hanya mampu menghela napas kasar. Matanya
menelusuri sudut rumah yang selalu menjadi saksi setiap momen dalam
pernikahannya. Rasanya sungguh asing ada orang lain yang tinggal di rumah itu.
"Semoga
ini bukanlah sebuah masalah, Tuhan." gumam Firhan lalu memilih berjalan
masuk ke dalam kamarnya.
Tak berbeda
jauh dengan Firhan, di sini Zaniah pun menatap sang sahabat penuh harapan.
"Ya Allah semoga pilihanku tepat. Aku percaya dengan Zeni, dia wanita yang
baik. Aku yakin semua ini akan berakhir indah." batin Zaniah.
Tanpa mereka
tahu bagaimana rasanya menjadi Lillia Zeni yang merasa seperti parasit di rumah
itu, sungguh ia begitu tidak nyaman tinggal satu atap dengan pasangan suami
istri yang baru saja ia masuki pernikahannya itu.
Selepas
perginya Zaniah, kini Lillia Zeni duduk di sisi ranjang dengan mengusap
perutnya yang sedikit buncit itu. Air matanya jatuh.
"Nak,
mengapa harus seperti ini jalan kita? Ibu sangat menantikan status menjadi
tanpa menjadi istri seutuhnya." Sungguh miris mendengar keluhan Lillia
Zeni saat ini.
Sahabat yang
selalu menjadi sandarannya pun nyatanya tengah rapuh, dan Lillia Zeni tak
sanggup menyakitinya lebih dalam seperti mertua Zaniah.
Hari itu
semua berjalan dengan semestinya. Lillia Zeni turut membantu memasak dan
menyiapkan makan malam. Meski rasanya sungguh tak nyaman berada di rumah dalam
keadaan sang tuan rumah sama-sama membisu. Lillia Zeni tahu betul jika
pernikahannya tanpa terasa menyakiti perasaan Zaniah.
"Mas
Firhan, Zan, makannya sudah siap. Silahkan di makan." pintahnya tanpa
berani berucap lebih panjang lagi.
Usai tak
mendapatkan jawaban selain anggukan dan senyuman samar dari Zaniah, Lillia Zeni
memilih menuju kamarnya. Ia tak ingin ikut bergabung di meja makan yang akan
menambah kesan semakin mencekam.
Sementara
__ADS_1
Zaniah yang duduk di meja makan menahan sakit yang tanpa alasan. Panggilan
Lillia Zeni pada sang suami tanpa sadar membuatnya sangat cemburu. Air matanya
menetes mendengar itu. Padahal di hari-hari sebelumnya itulah panggilan Lillia
Zeni pada suaminya juga.
"Niah!"
Firhan memanggil Zaniah yang meninggalkan meja makan tanpa mau makan saat itu.
Wanita itu
meneteskan air matanya di dalam kamar dan berbaring memeluk selimut yang ia
gulung tanpa bentuk. Firhan semula hanya berdecak, kemudian ia bergerak
menyusul Zaniah ke dalam kamar.
"Niah,
ada apa? Kenapa kau menangis?" pertanyaan Firhan rasanya membuat Zaniah
muak.
Mengapa
harus bertanya? Ia seharusnya tahu apa sebabnya.
"Aku
sakit, Mas." keluh Zaniah menangis terisak.
Firhan duduk
di belakang sang istri yang berbaring memunggunginya. "Sakit? memang apa
yang kami lakukan? Ini atas permintaanmu, bukan? Bukankah seharusnya dari awal
mendengarku? Aku sudah katakan ini tidak benar, Niah." ujar Firhan
mengingatkan sang istri.
Jika dirinya
adalah penolak pertama jalan yang Zaniah pilih ini.
"Keluarlah,
Mas. Aku ingin sendiri malam ini. Aku mohon...biarkan aku menenangkan diriku
sendiri dulu." pintah Zaniah membuat Firhan semakin habis kesabaran
rasanya.
Di sini
bukan Zaniah sendiri yang menderita, Firhan pun merasa sakit sekali rasanya
harus menikahi wanita yang tidak ia inginkan. Bahkan sebagai seorang pria, ia
harus merelakan tekadnya untuk menikah seumur hidup hanya sekali demi
permohonan sang istri pula.
Tak ingin
berdebat, Firhan memilih keluar kamar dan tidur di sofa. Tak perduli bagaimana
Zaniah menangis sepanjang malam di kamarnya seorang diri.
Ingin marah,
Zaniah tak tahu marah pada siapa. Sebab ini semua terjadi atas keinginannya.
Bahkan Lillia Zeni pun sangat menolak dari awal, jika saja bukan Zaniah yang
__ADS_1
memohon untuk meminta pertolongan wanita hamil itu.