
Lama berkutat dengan ponsel, merasa bosan di dalam kamar seorang diri. Zaniah memilih segera bangun dan menuju ke luar kamar. Samar-samar ia mendengar tawa sang mertua.
Meski malas bergabung bersama, ia tetap memaksakan langkah kaki mendekat. Dimana suaminya pasti berada di sana. “Suara Mas Firhan kok nggak kedengaran yah?” gumam Zaniah penasaran.
Beberapa langkah akhirnya ia berhenti seketika. Tubuh Zaniah mematung melihat sang suami duduk berdekatan dengan sahabatnya.
Beberapa detik itu mencoba menahan emosi yang ingin meledak. Tidak, Zaniah tidak boleh bersikap arogan di depan sang mertua. Ia harus tetap baik-baik saja.
“Niah, kok di sini? Ayo gabung.” papa mertua tampak muncul dari arah lain dan melihat menantunya yang berdiam diri di sana.
Semua pun menoleh mendengar suara Tuan Dika. Begitu pun dengan Zaniah yang mengangguk canggung tak bisa menolak.
“Em iya, Pah.” tuturnya dan Firhan yang melihat kehadiran sang istri segera bergegas berdiri.
Bukan berpindah duduk, melainkan ia menjemput sang istri dan merangkul pinggang Zaniah. Setidaknya Firhan telah melakukan pembelaan dengan aksinya kali ini yang tidak membiarkan sang istri datang seorang diri.
“Ayo sini, Zaniah. Mamah sama Lia dari tadi nonton. Kamu nggak keluar-keluar.” ucap Mamah Wuri yang seperi tak terjadi apa pun. Sebab dirinya puj menganggap semua baik-baik saja.
Tak sadar jika sang menantu kerap merasakan sakit hati entah dari tutur kata mau pun perilakunya.
“Iya, Mah.” jawab Zaniah singkat.
__ADS_1
Di ruang televisi semua tampak berkumpul tanpa ada yang bermain dengan ponsel. Hingga yang terdengar beberapa kali hanyalah suara Wuri dan Lia yang saling menyumpahi pemain film.
“Sayang kamu kok nggak nonton?” tanya Firhan setengah berbisik. Sedari tadi ia memperhatikan wajah sang istri yang hanya diam melamun saja.
Andai saja hubungannya dengan Lillia masih sekedar sahabat, tentu mereka saat ini paling heboh menonton film. Sayang, semenjak bertambahnya status madu itu membuat Zaniah selalu merasakan emosi yang tiba-tiba hadir. Tanpa sadar persahabatan mereka mulai tak terlihat lagi.
“Mah biar Lia buat minum dulu. Papah sama mamah mau apa? Oh iya Zan, kamu mau cokelat hangat?” Suara Lillia yang bertanya pada semua dan pada sahabatnya tentu minuman favorit mereka dulu.
“Iya.” jawab Zaniah apa adanya.
Lillia bergegas ke dapur usai mendapatkan jawaban dari semuanya. “Mamah senang loh kalian bisa kumpul di sini juga. Jarang-jarang rumah ini ada isinya. Iya kan, Pah? Rasanya rumah kita hidup kembali.” tutur Wuri tersenyum pada Zaniah.
Namun, Zaniah tak bisa tersenyum saat ini. Entah mengapa rasanya sangat sulit baginya tenang. Rasa minder, takut kehilangan, cemburu, semua membuat kepala wanita itu seperti mendidih. Zaniah sangat sulit menahan emosinya. Ingin menangis tanpa bisa ia kendalikan lagi.
“Iya, Mah?” tanyanya.
“Bagaimana kamu kapan kontrol ke dokter lagi? Masih tetap mau promil kan?” Zaniah tampak tersenyum paksa sembari menjawab pertanyaan sang mertua.
“Iya, Mah. Masih kok, periksanya masih bulan depan, Mah. Sekalian sama Mas Firhan juga periksa.” Mendengar hal itu Wuri pun menganggukkan kepalanya paham.
“Nanti Mamah buatkan jamu lagi yah? Biar Lia hamil, Mamah juga lebih senang kalau dapat cucu sekali dua. Kamu wanita hebat bisa berbagi suami. Mamah saja belum tentu bisa. Tapi kalau bisa menerima harus tetap juga saling membantu.” Nasihan Wuri yang semula membuat Zaniah tersenyum senang mendengarnya kini tiba-tiba kesal saat mendengar ucapan di akhir kalimat sang mertua.
__ADS_1
“Mamah keterlaluan, hanya buat minuman saja Zeni nggak boleh dan nyindir aku yang nggak mau bantu.” gerutunya mengumpat kesal.
Firhan yang tidak menangkap ucapan sang mamah dengan sisi buruk hanya tersenyum. Pikirannya yang positif pada sang mamah justru membuatnya senang. Meski ada Lillia yang hamil, mamahnya justru masih perhatian pada Zaniah.
Berbeda dengan pandangan Zaniah yang sudah terlanjur memandang mertuanya berpihak pada Lillia Zeni. Ia justru merasa tersindir saat ini.
“Mah, Pah, Niah ke kamar duluan. Udah ngantuk, nggak papa kan?” tuturnya bersamaan dengan tubuh yang ia angkat dari sofa.
“Kenapa buru-buru? Nanti saja dong. Itu Lia sudah buatkan minuman kita. Mamah kan masih mau ngobrol sama menantu-menantu Mamah, Niah. Nggak papa kan sebentar lagi? Setidaknya sampai minuman kamu datang dan kamu minum.” tutur Wuri memberi keringanan sang menantu yang ingin ke kamar.
Tanpa bisa menolak, Zaniah hanya pasrah kembali duduk.
“Mamah ini kok orang mengantuk di tahan sih?” celetuk Tuan Diko.
Sayangnya Wuri yang menganggap itu hanya candaan tanpa merasa menyakiti sang menantu pun bersuara.
“Nggak papa dong, Pah. Kan lagian si Lia yang hamil saja masih kuat kok di sini bareng kita. Masa Zaniah udah mau ngalah duluan. Biasanya orang hamil itu badannya lebih mudah lelah dari kita wanita yang nggak hamil, Pah.” Wuri berucap dengan nada biasa.
Sayangnya Zaniah yang merasa sudah terlanjur kesal tak bisa lagi memandang dari sisi lain. Ia begitu merasa tersinggung seolah ucapan mertuanya mengatakan jika ia wanita yang tidak bisa hamil dan tidak akan mudah lelah.
“Mah, Pah, Niah ke kamar dulu. Permisi.” tuturnya berlalu begitu saja tanpa berucap lemah lembut lagi.
__ADS_1
Semua menatap kepergian Zaniah dengan tatapan heran. Terlebih Firhan yang sangat sulit memahami isi pikiran sang istri.