
Kesal melihat suaminya justru datang mengunjungi sang sahabat. Zaniah menangis pulang ke rumah. Ia menghambur segala perabot rumah beberapa miniatur ia lempar ke sembarang arah hingga pecah berserak.
Menuju kamar, ia kembali melempar isi meja rias. Tangisan tak bisa ia tahan lagi, Zaniah sakit melihat Firhan justru dekat dengan Lillia meski mereka tak tinggal bersama. Hingga menjelang sore ia tak sadar tengah tertidur tanpa menyambut kedatangan sang suami.
Suara Firhan terdengar menutup pintu mobil. Ia berjalan memasuki rumah yang bahkan tak tertutup pintunya. Kening pria itu mengernyit mendapati rumah sangat berantakan. Rasa lelah seharian bekerja membuatnya tak banyak komentar.
“Niah! Zaniah!” Panggilnya beberapa kali namun tak ada sahutan. Tangannya tampak mengusap perut merasa lapar.
“Niah!” Panggilnya lagi menuju kamar.
“Zani…” Firhan menghentikan teriakan saat melihat tubuh sang istri berbaring di kasur dengan membelakangi pintu. Kamar yang berantakan, pelan pria itu melangkah masuk. Ia meletakkan segala barang bawaan dari kantor dan memilih mengambil sapu.
Firhan membersihkan isi kamarnya. “Bi, tolong ini di bawa.” ucapnya menyerahkan pecahan yang sudah ia jadikan satu.
Takut takut pelayan itu mengangguk. Ia pun membersihkan sesuai perintah Firhan seluruh rumah.
“Sayang.” Pelan Firhan memeluk tubuh Zaniah.
__ADS_1
Tak ada respon, hanya air mata yang menetes. “Niah,”
“Pergi dari sini, Mas.” ujar Zaniah lirih. Bahkan bibirnya bergetar saat mengatakan itu.
Firhan melepas pelukan dan berusaha membalikkan tubuh sang istri. “Sayang.”
“Pergi dari sini,” lagi Zaniah memintanya menjauh.
Tak ingin terjadi apa-apa, Firhan justru berkeras. “Tidak, Sayang. Mas tidak akan pergi. Kita akan bersama. Ayo kita bicarakan baik-baik.” ajak Firhan membawa tubuh Zaniah duduk bersandar padanya.
Belum keduanya berbicara, suara di depan sana terdengar.
Tok tok tok
Ketukan pintu yang membuat Firhan menatap pintu tertutup itu. Dari luar tanpa berani membuka pelayan berteriak.
“Tuan, ada Nyonya besar dan Tuan besar datang.” Firhan pun saling tatap dengan Zaniah.
__ADS_1
“Temui mereka. Karena aku benar-benar lelah menghadapi ini semua.” ujar Zaniah terus terang.
Firhan menggeleng. “Kita akan temu bersama, Niah. Mamah dan Papah pasti akan mencarimu.” ujar Firhan yang justru di sambut gelak kekeh oleh Zaniah.
“Mereka mencariku? Bukan yang mereka cari adalah wanita itu dan janinnya?” Ketus Zaniah menjawab.
Firhan terdiam. Ia tahu dirinya sudah melakukan kesalahan. “Niah, Mas minta maaf. Tolong, hormati Mamah dan Papah.”
Enggan terus berdebat dengan wajah sembab Zaniah bangkit untuk keluar kamar. Kali ini rasa hormatnya seakan hilang. Jika ia akan di salahkan akan jauh lebih baik. Zaniah bertekad akan membuka semuanya. Toh merahasiakan tak ada lagi gunanya. Firhan sudah bersama seutuhnya dengan Lillia.
“Firhan, Niah? Ada apa ini? Kenapa wajah kamu? Rumah ini kenapa seperti kapal pecah?” Mamah Wuri menatap sekelilingnya dengan wajah heran.
Zaniah tak menanggapi. Justru Firhan yang bersuara. “Mah, kenapa tidak memberi kabar jika kesini?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Namun tak ada jawaban, Mamah Wuri masih penasaran dengan apa yang terjadi pada sang menantu. “Niah, apa Firhan melukai kamu? Katakan pada Mamah? Biarpun dia anak Mamah kandung tapi seorang pria tidak ada hak melakukan kekerasan pada perempuan apalagi itu istrinya.” Perhatian kecil namun mampu terasa menyayat hati Zaniah.
“Firhan, apa yang kamu lakukan?” Kini berganti Papah yang bertanya.
__ADS_1