Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Nama Kenangan


__ADS_3

Kota besar telah terlewatkan dengan sebuah mobil truk. Kini perjalanan mulai terasa melewati jalanan bebatuan. Sebuah desa yang tidak begitu jauh dari kota menjadi tempat persinggahan terakhir untuk Lillia. Ia menatap pilu tempat yang ia pilih saat ini.


“Pak, terimakasih banyak tumpangannya.” Lillia berucap pada sang pemilik mobil yang baik hati memberikan tumpangan gratis padanya.


“Hati-hati, Non.” Pria itu melihat kepergian Lillia yang tanpa tujuan.


Sejenak langkah kakinya terhenti, manik mata wanita itu menatap sekitaran pemukiman warga. Kedatangannya tampak mendapat sambutan ramah dari beberapa warga yang melihat.


Begitu pun Lillia membalasnya dengan senyum yang sedikit canggung.


“Desa ini akan aku jadikan pilihan untuk kita hidup, Nak. Semoga dengan kita di sini kita bisa bahagia bersama.” Air mata menetes membasahi wajah Lillia.


Ingatannya akan sosok sang suami yang begitu ia cintai dalam diam terasa sangat menyakitkan.


Langkah demi langkah, ia tak tahu harus kemana berteduh. Tak ada satu pun yang ia kenal di desa ini.

__ADS_1


“Ayah, maafkan Lia yang tidak bisa dekat dengan makam ayah lagi. Suatu saat Lillia janji akan menjenguk makam ayah.” Ia menangis terisak membayangkan kehidupan yang sama sekali tak pernah terlintas di benaknya akan sepahit ini.


Satu-satunya yang ia miliki adalah ibu tirinya. Namun, kesalahan sang ayah yang memilih wanita seperti Windi justru membuat sang anak begitu sengsara.


“Neng, maaf. Orang baru yah?” Seorang wanita tua yang berjalan tak sengaja melihat Lillia berdiri menangis mengusap air matanya berkali-kali.


Berhubung desa itu sangat kecil, tentu saja mereka saling mengenal satu sama lain. Dan terlihat jelas jika ada orang asing datang ke desa mereka.


“Em iya, Nek. Ada apa, Nek?” Lillia bertanya balik usai memastikan wajahnya kering dari air mata.


Ia terdiam kaku dan tersenyum samar. “Tidak ada Nek. Saya mau cari kerja dan tempat tinggal di sini.” Dengan lembut Lillia berucap.


Sejenak nenek itu melihat Lillia, sama sekali tak ada barang bawaan di tangannya.


Iba tentu saja ia tak tega melihat keadaan Lillia. Wajah yang pucat serta kedua mata yang cekung. Sepertinya Lillia begitu tersiksa.

__ADS_1


“Ikut nenek ayo. Tapi, hanya kerjaan di ladang ikut panen sayur orang.” terangnya terasa membawa angin segar di telinga Lillia.


Tanpa pikir panjang Lillia pun senang hati mengikuti wanita tua itu menuju ke rumahnya.


Bersyukur di tempat baru ia justru di pertemukan dengan orang yang baik. Lillia terus mengikuti langkah wanita tua itu hingga keduanya tiba di rumah yang tidak begitu kecil. Cukup besar namun sudah terlihat bangunan tua.


“Nenek tinggal sama siapa?” tanyanya kala melihat halaman rumah yang sangat bersih.


Rumah itu tampak nyaman di mata Lillia. Bersih dan sangat terawat.


“Nenek hanya sendiri. Kamu ada di sini jadi tidak sendiri lagi. Siapa nama kamu, Nak?”


“Zeni, Nek. Nama saya Zeni.” Lillia sengaja menyebut nama itu seolah tengah mengenang persahabatannya dengan Zaniah.


Meski hubungan mereka tak lagi baik, tapi Lillia tetap merindukan momen dimana ia saling berbagi kebahagiaan dan kesedihan oleh sang sahabat. Sayang, semua hanya tinggal kenangan saat ini. Sebab Zaniah pasti akan selalu membenci dirinya yang berkhianat dengan Firhan.

__ADS_1


__ADS_2