Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Sungguh Menyakitkan


__ADS_3

Langkah kaki


berjalan memasuki rumah tampak membuat wajah dua wanita berbeda generasi


tersebut mencari suara alunan sepatu yang bersentuhan dengan lantai rumah.


Wanita cantik dengan penampilan biasa, tak ada kesan mewah dan elegan sangat


berbeda jauh dari wanita yang bersama wanita paruh  baya di rumah itu.


Meski


sedikit penasaran dan heran, namun Zaniah tetap melanjutkan langkahnya mendekat


sang mertua. Saat sampai di depan wanita paruh baya itu, Zaniah mengangkat


tangannya dan mencium punggung tangan sang mertua.


"Mah,


dari tadi datangnya?" tanya Zaniah berusaha ramah.


Tak perduli


bagaimana wanita itu sering kali membuatnya menangis usai pertemuan singkat


mereka. Wuri tampak tersenyum hangat, entah apa yang membuatnya seperti


menyeramkan sekali di mata Zaniah kali ini.


"Duduklah,


Mamah mau bicara serius sama kamu, Zaniah." ucapnya tenang.


Kemudian


matanya melirik pada wanita di sebelahnya yang sejak tadi tak bersuara sama


sekali. "Sel, ayo duduk sayang." ajak Wuri begitu terdengar sangat


dekat dengan wanita cantik dan modis di sebelahnya.


Zaniah


tampak semakin penasaran. "Apa dia sepupu Mas Firhan? Tapi selama ini


kemana saja tidak pernah aku meihatnya?" batin Zaniah bertanya-tanya tanpa


berniat mengeluarkan suaranya.


"Oke,


Tan." ucapnya tersenyum juga sembari tangan mulusnya menyembunyikan anak


rambut di daun telinga yang sangat indah terlihat di mata Zaniah.


Ketiga


wanita itu duduk sejenak dalam keadaan hening. "Zan," suara Wuri


memecah kesunyian yang tercipta.


"Iya,


Mah." sahut Zaniah cepat.

__ADS_1


"Dia


namanya Sela Agnes, Firhan pasti belum pernah cerita sama kamu yah? Dia ini


mantan Firhan yang satu-satunya pernah di kenalkan sama Mamah."


Seketika


hati Zaniah mendadak bergemuruh, entah apa maksud kedatangan sang mertua kali


ini dengan wanita yang ternyata Zaniah baru ketahui jika ia adalah masa lalu


sang suami. Sungguh, tubuh Zaniah terasa begitu panas dan telapak tangannya


dingin seperti es.


"Oh,


gitu Mah?" respon Zaniah sangat datar tanpa berniat menanggapi panjang


lebar lagi.


"Kamu


masih belum hamil, kan?" pertanyaan Wuri membuat wajah Zaniah yang semula


menatap kuat kini menunduk. Rasanya ia menjadi wanita yang di rendahkan di


depan wanita yang tak lain adalah saingannya. Itulah yang Zaniah rasakan.


Bertemu


wanita masa lalu sang suami yang begitu cantik jauh darinya, dan kini sang


mertua membicarakan kekurangannya di depan wanita itu. Sungguh, Zaniah sangat


Bukan


terlalu lebay, namun keadaan Zaniah yang sulit mendapatkan anak menjadikan


dirinya sangat sensitif jika membahas masalah anak.


Pelan Zaniah


menggeleng menjawab pertanyaan sang mertua. Melihat itu tentu saja Wuri dan


Sela sama-sama saling memandang dan tersenyum smirk.


"Mamah


rasa ini sudah waktunya, Zaniah. Sela bisa membantu kalian untuk mendapatkan


itu semua. Dan Mamah rasa tidak ada waktu lagi untuk mengulur waktu, usia Mamah


dan Papah sudah semakin tua." tutur Wuri yang tak melihat bagaimana


rapuhnya sang menantu yang seakan sudah bisa membaca keadaan apa yang akan


terjadi ke depannya.


Ingin


rasanya Zaniah menutup kuat kedua telinganya, namun suara Wuri menyadarkan


penolakan Zaniah saat itu.

__ADS_1


"Biarkan


Firhan menikahi Sela, Zaniah. kalian bisa mendapatkan anak dari Sela. Lagi pula


Sela setuju untuk membantu kalian. Setelah anak itu lahir kalian bisa


merawatnya dan Sela akan pergi dari kalian." itulah janji Wuri pada sang


menantu. Bagaimana pun Zaniah tetaplah wanita yang di pilih Firhan menjadi


istrinya. Kurangnya hanya sulit mendapatkan cucu untuk wanita paruh baya itu.


Sekuat


tenaga Zaniah tegar di depan dua wanita itu, nyatanya air mata wanita itu jatuh


juga mendarat pada tangan yang saling menggenggam memberi kekuatan untuknya.


"Tante


Wuri benar, saya akan membantu kalian. Lagi pula Tante Wuri sudah banyak


membantu saya hingga saya berada di posisi sekarang ini. Menjadi model


internasional tidaklah mudah jika bukan karena bantuan Tante Wuri dan Om


Dika." Sela berucap dengan suara lembutnya.


Namun,


Zaniah tetap tidak bisa menerima itu semua. Wanita mana yang rela jika suaminya


harus di bagi dengan wanita lain. Hingga akhirnya Zaniah pergi tanpa bisa


menjawab ucapan sang mertua.


"Maaf,


Mah. Zaniah tidak bisa membicarakan ini dulu. Zaniah ingin istirahat,


mah." Ia berlari menuju kamar tanpa perduli dengan sopan santun lagi. Ia


tak kuat jika harus terlihat kuat di depan sang mertua.


Setiap hari


pertanyaan yang di bawa mertuanya selalu menanyakan tentang kehamilan yang tak


kunjung tiba. Itu semua sangat sakit bagi Zaniah, namun kali ini kedatangan


sang mertua justru sangat membuatnya semakin sakit tanpa bisa tertahan lagi.


Membawa


wanita masa lalu sang suami untuk menggantikan posisinya sementara dan


mengandung benih dari sang suami, tentu Zaniah tak akan rela sampai kapan pun.


Ia menangis


di dalam kamar tanpa bisa tertahan lagi. Isakan pilu itu membuatnya


menggetarkan seluruh tubuh rapuh itu. "Aku tidak akan rela suamiku di


sentuh wanita lain. Mas Firhan suamiku, aku tak akan rela untuk itu. Aku lebih

__ADS_1


memilih mundur dari pada harus menerima permintaan Mamah." Zaniah kekeh


dengan pendiriannya.


__ADS_2