Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Pengakuan


__ADS_3

"Katakan pada mereka, Mas. Aku ingin mengakhiri semua ini." Zaniah yang merasa tak ingin lagi berdrama ia pun berkata di depan kedua mertuanya. Lantas mendengar ucapan Zaniah, Mamah Wuri dan Papah Dika tampak mengernyitkan kening mereka. Seolah menunggu apa yang sang anak dan menantu bicarakan pada mereka.


"Niah, tolong..." Firhan hendak mencegahnya namun Zaniah menggeleng, air mata wanita itu turut menetes merasakan hatinya yang begitu nyeir. Bibirnya bergetar mempersiapkan apa yang harus ia katakan saat ini dan mulai dari mana ia harus menjelaskan.


"Katakan pada Mamah dan Papah atau aku sendiri yang bicara, Mas?" Semakin bingung saja rasanya mendengar penuturan sang menantu.


"Ada apa sih sebenarnya? Firhan, Niah ada apa?" tanya Papah Dika yang merasa tak sabar lagi.


Namun belum saja perbincangan di mulai, manik mata Mamah Vivi beralih menatap ke arah kamar dimana biasa sang menantu kedua keluar dari sana. Lillia belum juga menampakkan wajahnya dan khawatir jika kekacauan di rumah ini terjadi di sebabkan oleh Lillia, ia pun berlari mendekati pintu kamar sang menantu kedua.

__ADS_1


"Lia," panggilnya mengetuk pintu kamar beberapa kali.


"Lillia, ini Mamah. Buka pintunya." teriak Mamah Vivi yang terasa semakin memuakkan di telinga Zaniah.


Enggan mendengar nama itu kembali keluar dari mulut sang mertua, lantas Zaniah melirik tajam sang suami. Ia menunggu bagaimana Firhan akan bertindak kali ini. Dan akhirnya apa yang ia  tunggu terdengar juga.


"Mah cukup. Lillia sudah tidak ada di rumah ini. Dan kita harus bicara dulu." setelah mengatakan hal itu Firhan melangkah menuju ke arah ruang tengah. Meski berantakan ia tetap duduk di sofa di susul oleh Zaniah. Kemudian kedua orangtuanya pun tampak duduk di sisi lain sofa tersebut.


"Katakan semuanya, Firhan. Ingat, masalah tidak akan baik jika harus di tunda-tunda penyelesaiannya.

__ADS_1


"Pernikahan Firhan dan Lillia tidak berdasarkan perselingkuhan atau hal apa pun, Mah, Pah. Pernikahan itu murni untuk menjadi pria yang bertanggung jawab atas kehamilannya."


Mamah Wuri dan Papah Dika saling pandang menghela napas kasar. "Yah itu kan memang sama saja, Firhan. Kamu menikahi Lia atas pertanggung jawaban yang sudah kamu lakukan. Lalu masalahnya dimana?" tanya Mamah Wuri merasa tak mengerti atas ucapan sang anak yang menurutnya bukanlah hal yang patut jadi masalah.


"Masalahnya itu bukanlah anak Firhan, Mah, Pah." Ucapan yang baru sedikit Firhan katakan seketika membuat kedua bola mata sepasang suami istri paruh baya di depannya membulat sempurna. Bahkan jantung mereka seolah terhantam batu yang begitu besar.


Mamah Wuri yang semula duduk tegap mendadak menyandarkan kepalanya dan tubuhnya di sofa sembari memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Matanya meneteskan cairan bening menggelengkan kepala seolah tidak menerima semua yang Firhan katakan.


"Bukan anak kamu? Firhan jangan bicara yang sembarangan. Bagaimana mungkin?" tanya Papah Dika seolah mewakili rasa penasaran sang mamah.

__ADS_1


Zaniah sedari tadi berdiam kini tak tahan lagi untuk bungkam, ia segera angkat bicara. Jika Firhan yang bicara mungkin saja menurutnya akan terdengar menyedihkan dan membuat sang mertua menjadi iba. Tidak, Zaniah tidak ingin hal itu terjadi lagi dan dirinya akan semakin di pojokkan.


__ADS_2