
Hari-hari berlalu sesuai dengan harapan Zaniah. Sang suami yang sudah bekerja kembali kini sama sekali terlihat normal. Tak ada keluhan yang Firhan lontarkan pada Zaniag.
Sesuai rutinitas beberapa hari ini, Zaniah memasuki tempat bekerja suaminya. Senyuman terlukis tatkala ia tiba di perusahaan itu. Kakinya melangkah dengan anggun melewati beberapa pekerja. Tangannya memegang bekal untuk ia makan bersama sang suami. Sungguh kehidupan keduanya benar-benar seperti kembali di masa pengantin baru.
“Mas,” panggil Zaniah saat baru membuka pintu ruang kerja Firhan.
“Sayang.” Firhan meninggalkan kursi kerja secepat mungkin. Pria itu mendekati sang istri memeluk dan mencium keningnya.
Keduanya lalu berjalan dengan searah menuju sofa. Dan Zaniah melayani sang suami makan.
“Kamu kelelahan sayang. Sudah, biarkan Mas makan sendiri dan ambil sendiri.” Firhan mencegah namun Zaniah menolaknya.
“Tidak, Mas. Aku masih ingin melayani kamu.” tuturnya manja.
Alih-alih berkeras, Firhan hanya mengalah sebab ia pikir ini adalah kemauan bayi yang di kandung istrinya.
Entah bagaimana responnya saat mengetahui jika Zaniah ternyata sama sekali tidak mengandung.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, Firhan menyelesaikan makan siangnya begitu juga dengan Zaniah.
“Niah…” lirih pria itu berucap. Tangannya meraih tubuh sang istri, bahkan kedua matanya pun menatap kedua mata Zaniah dengan dalam.
Sudah tiga hari ia terus meminta haknya pada sang istri, namun Zaniah menolak dengan alasan ia mual jika bersentuhan tubuh dengan sang suami.
“Mas, sudah selesai jam istirahatnya. Mas kerja gih. Aku segera pulang perutku rasanya mual.” Zaniah yang paham pun bergegas membereskan bawaannya.
Namun, ia tidak tahu saja jika seorang pria begitu sulit menahan gejolaknya. Firhan tentu tak akan menyerah begitu saja sampai pria itu benar-benar mendapatkan apa yang ia inginkan.
Melihat hal itu Zaniah semakin panik. Tidak, dia tidak boleh bersentuhan dengan sang suami. Firhan bisa tahu jika perutnya saat ini tengah menggunakan spons khusus untuk wanita hamil yang masih dalam usia muda.
“Mas, hentikan Mas!” Sentaknya marah dan melempar kasar tangan sang suami.
Tak perduli bagaimana Firhan memanggilnya, Zaniah seketika meninggalkan ruangan dengan wajah marah yang Firhan lihat. Tanpa ia tahu jika wajah istrinya bukanlah marah melainkan takut.
“Niah!” Teriaknya menyusul keluar.
__ADS_1
Firhan begitu mencemaskan keadaan sang istri yang berjalan tanpa hati-hati.
“Niah, Niah berhenti. Oke Mas tidak akan minta lagi. Tapi, tolong pelan-pelan sayang jalannya. Bahaya, kamu sedang hamil.” ujarnya menatap perut sang istri.
Acuh, Zaniah kembali melanjutkan langkah kakinya.
Melihat kepergian sang istri yang tidak terburu-buru seperti tadi, Firhan pun hanya melihat dari kejauhan. Lalu kemudian pria itu memastikan sang istri naik mobil dengan tenang barulah ia kembali ke ruang kerja.
***
Di siang yang begitu terik, wanita dengan wajah penuh keringat serta perut yang semakin besar berlari sangat cepat. Tatapan matanya beberapa kali menatap ke belakang takut takut jika ada yang mengejarnya.
“Tuhan, lindungi aku. Aku mohon berikan aku kemudahan untuk pergi dari sini.” Dia adalah Lillia Zeni.
Wanita itu menangis tersedu-sedu ketakutan jika sampai dirinya yang berhasil kabur akan di tangkap kembali oleh Panji yang tengah mempersiapkan pernikahan mereka.
Dengan memegang perut yang mulai terasa ngilu, Lillia berjalan cepat mencari kendaraan yang bisa ia tumpangi. Kemana pun itu asal tidak di kota ini, Lillia akan mencari kehidupan yang jauh lebih tenang dari kota ini.
__ADS_1