Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Kedatangan Sang Mertua


__ADS_3

Sebuah kamar


hotel mewah menjadi saksi bisu pergumulan panas seorang wanita paruh baya


dengan seorang pria yang tampak jauh lebih muda darinya. Keringat yang mengucur


deras serta erangan panjang menjadi aksi terakhir keduanya siang itu.


Senyuman


puas dari wanita di bawahnya tampak terbit dengan lebar. "Honey,


terimakasih. Kamu memang selalu terbaik. Tidak rugi aku menjadikan kamu


priaku." ucap wanita itu mengusap rahang berbulu halus milik pria di


atasnya itu.


"Tentu


saja, memang kau pikir aku ini suamimu yang sudah di di kubur itu?" ledek


pria berusia 28 tahun yang bernama Panji.


"Hon,


sudahlah. Jangan membahas pria itu. Aku muak mendengarnya. Aku ingin kau


memuaskan ku sebelum aku berpikir untuk membuka usahaku." wanita yang tak


lain adalah mantan ibu tiri Lillia Zeni itu kini sedang menikmati rasanya


memiliki uang banyak dan mendapat kepuasan dari pria berondngnya.


Windi


Sulastri, wanita berusia 40 tahun yang tengah gila dengan uang yang ia dapatkan


secara tidak adil dari anak tirinya.


"Bicara


tentang usaha, jangan lupa bagianku setiap bulannya. Ingat Win, aku sudah


berperan penting melancarkan aksimu itu. Bahkan jika tidak ada aku, kau pasti


akan selamanya hidup susah dengan si anak tirimu itu." hasut Panji yang


ingin memberi pikiran buruk pada Windi.


"Iya,


ia. Tenang saja. Terimakasih yah, kau sudah membuat Lillia memberikan semua


hartanya padaku. Yah meski sedikit uang itu kau suruh berikan padanya."


Windi kesal mengingat Panji memberikan sekitar lima juta pada Lillia sebelum


mereka pergi dari rumah.


Senyuman di


wajah Panji hanya terlintas sekilas tanpa Windi tahu. Namun, Windi tampak acuh


dan memilih memejamkan matanya dengan tubuh yang lelah. Sejenak Panji menatap


sinis wanita tua di depannya ini.


"Cih,


kalau tidak mengingat pendapatan jangka panjang dari wanita ini. Aku tidak akan


sudi menyentuhnya. Dasar bau tanah." umpat Panji dalam hati sembari


melangkah menuju kamar mandi. Ia ingin segera membersihkan tubuhnya.


Di saat


mandi dengan air di dalam bathup merendam tubuh pria itu, Panji teringat


bagaimana cantiknya wajah Lillia Zeni. Wanita yang sering kali menghinggapi


pikirannya akhir-akhir ini. Senyuman Panji terukir membayangkan bagaimana

__ADS_1


Lillia tersenyum-senyum saat bersapa dengannya sangat sopan.


Sebelum


kejadian di mana Windi pergi dari rumah, Panji sering kali berpapasan dengan


Lillia di sekitar jalan rumah Lillia. Lillia yang memang memiliki sikap ramah terlebih


dengan orang sekitar rumahnya tak perduli penduduk asli atau pun orang ngontrak


mau pun kos.


"Honey!


Panji!" Teriakan Windi membuat Panji tersadar dari lamunannya. Segera ia


mencebik kesal.


"Huh


nenek tua mau apa lagi sih? Kirain sudah tepar!" umpat Panji segera


beranjak dari bathup.


Pintu kamar


mandi terbuka, nampaklah Windi mengerucutkan bibirnya manja. Sungguh wanita tua


itu tidak sadar dengan usia. Bukan menggemaskan yang Panji lihat dengan sikap


manja wanita itu. Yang ia lihat hanyalah wajah penuh keriput dan pori-pori yang


bertebaran di mana.


"Ada


apa?" tanya Panji singkat.


Tanpa


berkata apa-apa, Windi memeluk tubuh kekar dan bersih milik Panji. Ia


bergelayut manja di sana dan sesekali mengecup dada bidang milik Panji.


pergi meninggalkan ku? Aku terbangun, Honey. Aku ingin mandi bersama mu


saja." Windi tanpa tahu malunya menuntun tubuh Panji masuk ke dalam bath


up.


Sebagai pria


yang di bayar, Panji hanya bisa pasrah dan menurut saja. Meski sebenarnya ia


sangat malas sekali.


Sedangkan di


sisi yang berbeda tampak Lillia sudah terisak di hadapan sang sahabat kala ia


menceritakan semua yang terjadi padanya. Bahkan Zeni sampai terbelalak tak


percaya mendengar Zeni sahabatnya di hamili oleh pria yang tidak ia tahu siapa.


"Zen,


apa kau sungguh tidak tahu pria itu?" tanya Zaniah sangat terkejut.


Lillia hanya


bisa mengangguk sembari menahan suara tangisnya. Segera Zaniah memeluk tubuh


sang sahabat, air matanya turut berjatuhan kala itu.


"Ya


Tuhan Zen, aku benar-benar tak menyangka jika hidupmu sesakit ini. Aku sangat


sedih mendengarnya. Bahkan aku berpikir selama ini hidupkulah yang paling


menderita." Zaniah baru merasakan ia tidak begitu menderita perihal sang


mertua dan anak yang belum ia dapatkan.

__ADS_1


Melihat


konsidi Zeni yang menyedihkan hamil tanpa sosok suami, sungguh Zaniah masih


harus bersyukur akan apa yang ia dapat dari sang kuasa.


Setidaknya


masih ada Firhan yang begitu mencintainya sebagai sang suami.


Hingga waktu


yang mereka butuhkan bersama akhirnya terputus kala Zeni menerima sebuah


panggilan dari ponselnya. "Sebentar yah, Zen." ucapnya dan menjauh


kala melihat siapa nama pemanggil di ponsel miliknya.


Zaniah tahu


betul apa tujuan dari sang mertua menelponnya di siang hari ini.


"Iya,


Mah? Ada apa? Zaniah lagi di luar ini." ucapnya masih tetap hormat pada


sang mertua.


Di seberang


sana, tampak wanita paruh baya bernama Wuri Indah yang tak lain adalah mertua


Zaniah memutarkan bola matanya malas.


"Zaniah,


kamu ini lagi program hamil kok jalan tidak jelas sih? Pulang sekarang. Mamah


di depan rumah." tuturnya melihat pintu rumah sang menantu sudah terbuka


oleh asisten rumah tangga.


Segera


Zaniah pun menjauhkan ponsel dari telinganya kala sang mertua mematikan


panggilan telepon usai memarahinya singkat.


Zaniah


berbalik dan melihat Zeni menatapnya sendu. Zaniah tersenyum. "Zen,


maafyah. Aku harus pulang. Mertuaku di rumah ternyata. Besok-besok kita bicara


lagi. Sudah kamu jangan nangis. Kita cari jalan keluar bersama yah?"


Senyuman Zaniah dan pelukan itu seakan menjadi penguat untuk Lillia kala ia


benar merasakan hancur dalam hidupnya dan kesepian di saat yang bersamaan.


***


Mobil milik


Zaniah pun akhirnya terparkir di halaman rumah miliknya. Keningnya sedikit


mengernyit.


"Mamah


pakai mobil siapa yah? Ini mobil mahal dan mewah, lagi pula tidak mungkin Mamah


pakai mobil beginian. Ini kan anak muda banget?" batin Zaniah


menerka-nerka kala melihat mobil mewah berwarna merah menyala terparkir di


halaman rumahnya.


"Nyona,


mari saya bawakan tasnya. Di dalam ada Nyonya besar sama wanita muda,


Nyonya." sang pelayan tampak mengadu pada Zaniah.

__ADS_1


__ADS_2