Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Pergi Bersama


__ADS_3

Dua bulan tak terasa waktu telah berlalu begitu saja. Keadaan rumah Firhan tampak tenang-tenang saja. Dan hari ini pria itu memutuskan untuk mengajak kedua istrinya pergi. Sesuai dengan kesepakatan semalam, jika Firhan akan mengantarkan istri keduanya pergi ke rumah sakit untuk siang ini.


"Niah, kamu ikut saja yah? Kita pergi bertiga." ajak Firhan yang tak mau jika dirinya pergi berdua saja dengan Lillia ke rumah sakit.


Namun, Zaniah secepat kilat menggelengkan kepala menolak ajakan sang suami. Zaniah tidak mau jika orang melihatnya bersama Firhan dan Lillia, rasanya sungguh malu jika orang mengetahui status mereka yang terikat dalam satu pernikahan. Cukup Firhan dan Lillia saja yang mengambil keputusan untuk menjawab apa.


"Tidak, Mas. Aku harus pergi ke rumah mamah hari ini. Mereka memanggilku katanya sudah lama sekali tidak berkunjung. Mamah sedang tidak sehat." jawabnya memberi alasan yang memang benar jika siang ini Zaniah akan bekunjung ke rumah orangtuanya setelah sekian lama.

__ADS_1


Firhan tampak menghela napasnya kasar mendengar penuturan sang istri pertama. "Kalau kita pergi bersama, Mas bisa ikut ke rumah mamah dan papah juga setelah itu. Apa kau tidak mau?" tanya Firhan lagi mencoba memberi pengertian pada Zania jika ia ingin pergi bersama sang istri dan Lillia hari ini.


Sementara Lillia yang merasa Firhan berusaha membangun tembok antara mereka, akhirnya angkat bicara. "Zan, aku rasa Mas Firhan benar. Kita pergi bertiga saja, atau kalau tidak keberatan biarkan aku pergi sendiri. Sudah bukan hal yang asing jika aku periksa sendirian." tutur Lillia tersenyum memperlihatkan dirinya baik-baik saja.


Keheningan terjadi beberapa saat usai suara Lillia terdengar. Memikirkan Lillia pergi sendiri, tidak. Zaniah tidak tega. "Sudah Mas dan Zeni pergi saja nanti. Aku harus segera berangkat sekarang ini." ujar Zaniah kekeuh.


"Yasudah Lia, kamu ikut Mas langsung ke kantor. Kita bisa langsung ke rumah sakit nanti. Sebab Mas tidak akan sempat jika harus menjemput ke rumah lagi." penuturan Firhan pun hanya di tanggapi senyuman oleh Zaniah.

__ADS_1


Hingga kepergian Zaniah ke rumah orangtuanya menyisakan Firhan dan Lillia yang sama-sama tampak canggung. Keduanya tak ada suara dan sama-sama masuk ke dalam mobil milik Firhan.


"Lia, tolong pakai jas saya. Baju mu bagian belakang sepertinya sedikit terawang." pintah Firhan merasa tak enak menegur sang istri kedua.


Malu rasanya, Lillia hanya bisa menurut saja. Dan keduanya memasuki kantor tempat Firhan bekerja. Semua mata tampak menatap penuh tanya. Siapa wanita cantik yang memiliki perut buncit itu berjalan bersama Firhan? Tentu saja mereka semua tahu jika Firhan adalah pria beristri.


"Kamu duduk di sini saja. Atau kalau mau istirahat ada kamar di dalam sana. Saya harus meeting dulu." ujar Firhan dan Lillia tampak mengangguk patuh.

__ADS_1


Seperginya Firhan di ruang kerjanya, akhirnya Lillia memilih untuk berada di ruang istirahat sang suami. Ia sungkan jika duduk di ruang kerja suaminya. Takut kalau saja ada orang lain akan masuk ke ruangan itu.


"Sebaiknya aku ke ruangan itu saja. Mas Firhan pasti tahu aku di sana." gumamnya sembari menuju ruangan yang tidak begitu luas hanya terdiri lemari baju khusus gantung dan juga tempat tidur berukuran tidak begitu besar. Hanya cukup dua orang saja.


__ADS_2