
Sore hari yang nampak sejuk berhiaskan matahari yang mulai menutup, seorang wanita baru saja menutup pintu rumah demi menjalankan niat untuk pergi ke toko depan. Sejak tadi beberapa kali ia berusaha menelan salivahnya kasar saat membayangkan mie instan rasa soto.
"Tidak apa-apalah makan mie saja. Rasanya sama saja tetap soto." gumamnya sembari melangkah menuju jalan besar dimana teradapat sebuah toko besar.
Lillia melangkah penuh rasa gontai, beberapa kali bahkan ia merasakan kepalanya pusing. Persediaan di rumah tentu saja masih sangat banyak, namun Firhan sama sekali tidak memberikannya mie atau makan instan lainnya. Yang menurut pria itu tidaklah sehat untuk sang istri dan juga anak.
Berjalan hingga tiba di toko, Lillia sigap mencari apa yang ingin ia makan berbekal dengan uang yang ia pegang. Setelah memastikan semua ia dapatkan ia pun berjalan ke kasir dan membayarnya. Barulah kembali pulang ke rumah. Tak di sangka-sangka justru keluarnya Lillia saat ini membuatnya sangat terkejut melihat tubuh yang tiba-tiba saja menghadang langkahnya.
"Kamu?" tatapan tajam kedua manik mata Lillia seakan menghunus jantung pria yang berdiri di hadapannya.
Sayang, mendapatkan tatapan dari wanita yang ia sukai tak membuat seorang Panji takut sama sekali. Justru ia menyunggingkan senyuman lebar sembari matanya bergerak menatap perut dimana ia yakini tengah mengandung saat ini.
__ADS_1
"Jangan menakutkan seperti itu, Lia. Aku tidak mungkin menyakitimu." ujar Panji.
Lillia muak melihat pria yang tidak punya malu ini. Sudah lama rasanya hidupnya tenang tanpa melihat pria di depannya. Namun, hari ini entah kesialan apa yang menimpa Lillia hingga ia harus bertemu dengan pria yang paling ia benci.
"Mau apa kamu?" Lillia seketika mundur ke belakang demi menjaga jarak saat melihat Panji mengulurkan tangan ke arah tubuhnya tepatnya pada bagian perut.
Lagi Panji tersenyum dan menggantung tangannya di udara. "Kau ingin tahu aku mau apa? Maka diamlah biar aku beri tahu." ujar Panji namun Lillia yang tak ingin berurusan dengan pria ini memilih segera pergi meninggalkannya.
Bukan membiarkan Lillia pergi, Panji justru mengejar di belakangnya dengan langkah kecil. "Sayang, pelan-pelan. Jangan sampai anak kita kenapa-napa."
Berhenti dan berbalik badan, Lillia menatap Panji dengan tatapan tajam. "Kenapa? Kaget? Aku tahu kau pasti hamil lihat perutmu yang mulus sebelumnya sekarang sudah bergelembung. Dan aku tahu itu adalah anakku." Terkekeh mengutarakan apa yang ia tahu.
__ADS_1
Lillia menggelengkan kepala mendengar ucapan pria di depannya saat ini. Ingin percaya tetapi Lillia sadar pria seperti apa yang ada di hadapannya saat ini.
"Jangan mimpi kamu! Aku tidak akan sudi." ujar Lillia hendak meninggalkan Panji lagi namun tak bisa saat pergelangan tangannya di genggam erat oleh pria itu.
"Lia, sudi atau tidak. Aku adalah pria yang nyatanya tidur dan menanam benih di rahimmu. Apa perlu aku jelaskan kejadian yang sebenarnya? di rumah itu?" Kening Lillia mengernyit mendengar ucapan Panji.
Tanpa sadar percakapan mereka berdua dari kejauhan ada yang memperhatikan tanpa bisa mendengarnya. Sosok wanita yang mengenakan kaca mita hitam lebar tengah menurunkan kaca jendela mobil dengan tatapan yang begitu serius. Dia adalah Zaniah, Zaniah tak sengaja menemui Lillia di jalan dekat sekitar rumah sang madu itu.
"Siapa pria itu?" gumamnya menatap curiga.
Terlebih beberapa kali ia melihat bagaimana saat Panji menggenggam tangan Lillia mau pun hendak meraih perut wanita itu.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan dia kekasihnya Zeni? Apa jangan-jangan Zeni selama ini bohong padaku jika sebenarnya dia bukan di perkos*a melainkan di hamili kekasihnya sendiri? Tidak. Ini tidak bisa di biarkan." geram Zaniah melajukan mobil meninggalkan tempat itu.
Untuk saat ini ia harus memikirkan cara selanjutnya, jangan sampai semuanya menjadi kacau karena pikirannya yang berantakan. Semua bahkan pikiran baiknya pada Lillia Zeni tak lagi ada, yang ada hanya kecurigaan tentang hal-hal buruk.