
"Aaaaaaaaa!! Teriakan serta amukan menggema di dalam kamar yang kedap suara itu. Zaniah menangis meluapkan amarahnya. Tak perduli jika sang suami sudah berada di kamar saat ini.
Firhan yang melihat sikap sang istri tentu khawatir dan langsung menyusul begitu saja, namun ia sungguh kaget melihat kamar yang berantakan dan Zaniah yang sudah duduk berjongkok bersandar di depan kasur. Kedua tangannya menjambak rambutnya sembari menenggelamkan wajah di kedua lutut.
"Kenapa harus seperti ini? Kenapa? Aku ingin tetap baik-baik saja, Ya Tuhan...tapi kenapa sakit sekali rasanya. kenapa aku sulit mengontrol perasaanku sendiri?" Ia menangis terisak-isak.
Zaniah tak perduli dengan pelukan hangat yang ia dapat. Sudah pasti Firhanlah pelakunya. Namun, perasaan wanita itu benar-benar terluka saat ini. Sungguh ia tidak tahan lagi untuk menjalankan peran pura-pura ini. Niat hati ingin membuat sang mertua melupakan dengan perjodohan Sela Agnes Tetapi ia justru mendapatkan sakit dari wanita yang ia pilih sendiri.
Sebab Lillia begitu mudah di sukai banyak orang. Itulah sebabnya Wuri tampak nyaman. Sedangkan berbicara saja, Lillia akan jauh lebih aktif.
__ADS_1
"Niah, jangan seperti ini sayang. Ayolah bicarakan dengan Mas. Apa maunya? Kita cari jalan keluar bersama." tutur Firhan sangat lembut.
Hatinya tak kuasa melihat sang istri menangis seperti ini. Firhan perlahan mulai paham Zaniah yang begitu sensitif kala mendengar ucapan sang mamah tadi.
Tak ada jawaban dari Zaniah beberapa saat, ia hanya menyembunyikan wajahnya. Bahkan dengan Firhan sendiri pun ia merasa tak bisa percaya saat ini.
"Keluarlah, Mas. Aku ingin sendiri." pintah Zaniah dalam tangisannya.
Rasanya Firhan pusing jika harus menghadapi semuanya di saat yang bersamaan. "Sayang, kita pulang dan kita hidup tenang berdua saja. Biarkan di sini sama mamah. Dengan begitu kamu tidak akan memikirkan apa pun kata mamah."
__ADS_1
Kepala yang semula menunduk kini Zaniah angkat saat mendengar ucapan sang suami. "Mas bilang biarkan dia di sini sama Mamah? Lalu aku akan di anggap apa sama Mamah, Mas? Istri yang egois karena menguasai suami sedangkan istri kedua kamu terlantarkan. Mas mau aku di anggap seperti itu, Mas? Iya? Baru menyusul ke kota lain saja aku sudah di singgung Mas. Aku capek, Mas." Zaniah sampai menjambak rambutnya di depan sang suami.
Firhan tak tahan melihat itu, tangannya menarik tangan sang istri untuk ia genggam dan memeluk tubuh Zaniah kembali. "Apa kamu mau kita pindah kota? Mas akan lakukan itu kalau kamu mau, Niah?" tanya Firhan pada akhirnya memberikan jalan lain.
"Mas, kamu kenal mamah kamu kan? Aku akan di katakan memisahkan orangtua dari anaknya. Dan aku yakin Mamah pasti akan mendatangi kita lebih sering meski pun jauh. Aku tidak tahu harus bagaimana, Mas?"
Firhan tampak mengusap kasar wajahnya. "Baiklah saatnya Mas bicara sama Mamah. Kamu tunggu di sini. Mas ingin mempetegas hubungan kita dengan Mamah saja. Mas ingin Mamah tidak pernah bicara yang akan menyinggung kamu."
Ucapan Firhan terdengar begitu mudah, namun bagi Zaniah yang sudah hapal bagaimana watak sang mertua rasanya tidak akan mungkin untuk menyetujui jalan dari sang suami. Ia sudah bisa menebak, dengan Firhan bicara pada mamahnya, otomatis Wuri akan marah pada Zaniah dengan alasan Zaniah telah melapor yang tidak-tidak pada Firhan dan membuat hubungan ibu dan anak itu jadi renggang. Zaniah bukanlah wanita yang bisa masa bodoh dan baik-baik saja jika sang mertua tidak bersikap baik padanya.
__ADS_1
Lalu harus dengan cara apa Zaniah bisa mendapatkan sisi baik sang mertua semuanya seperti Lillia? Tentu saja hanya satu. Yaitu dengan bisa memberikan cucu. Mengingat itu Zaniah kembali menangis. Dalam hati terdalam ia begitu ingin berteriak.
"Kenapa, Tuhan? Kenapa aku belum kau berikan kepercayaan hamil sampai saat ini? Kenapa?" teriaknya di dalam hati sembari menangis semakin terisak merasakan sakit di dadanya yang begitu sesak.