
Malam yang seharusnya di gunakan Zaniah untuk istirahat usai perjalanan panjang justru ia gunakan untuk menangisi takdir yang lagi-lagi tak berpihak padanya.
Sementara di kamar yang berbeda tampak Lillia juga duduk di tempat tidur diam merenung.
“Zan, kenapa harus seperti ini hubungan kita pada akhirnya, bagaimana aku harus bersikap agar semuanya baik-baik saja? Aku ingin kita tetap seperti dulu.” gumamnya yang bingung dengan kehidupan sekarang.
Memilih iya atau tidak melanjutkan drama ini semua penuh dengan resiko. Dan salah satunya yaitu Zaniah akan kecewa padanya. Yah sama, jika tetap melanjutkan juga Zaniah bahkan selalu kecewa padanya. Sungguh, dilema yang begitu berat di rasakan Lillia.
Merasa penuh pikiran di kepalanya, Lillia memilih untuk melakukan sholat sunah malam itu, berharap hati dan pikirannya akan tenang. Dan kehidupannya akan di berikan kemudahan.
Hingga beberapa saat berakhirlah sholat itu. Lillia terhenti gerakkan tangannya saat amin dan menoleh ke arah pintu yang terdengar ketukan di luar.
“Siapa yah tengah malam begini ngetuk kamar aku?” tanya penasaran. Tak sempat melepas alat solat, ia pun bergegas untuk membuka pintu.
__ADS_1
“Mas…” ucapannya terhenti saat Firhan sudah masuk ke kamarnya tanpa permisi.
Seketika Lillia menunduk saat melihat Firhan menutup pintu kamarnya.
Keheningan tiba-tiba saja terjadi dan kamar terasa sangat dingin. Pandangan mata teduh Firhan membuat Lillia tak berani mengangkat wajah.
“Mas, tolong keluar. Jangan sampai ada yang tahu Mas di sini. Saya tidak ma…”
Memakai alat solat sungguh Lillia begitu istimewa di mata Firhan.
“Ya Tuhan? Salahkah jika aku jatuh cinta pada istriku? Tapi…” jerit hati Firhan yang segera menyadarkan dirinya.
“Lia, besok tolong kamu ijin sama Mamah buat pulang ke rumah. Bilang aja ada keperluan dan biarkan aku sama Zaniah yang di sini. Kamu tidak apa-apa kan? Di rumah juga ada bibi. Jadi aman bersama kamu. Maafkan Mas yah? Kamu tolong sedikit sabar lagi. Mas akan bertanggung jawab dan menyayangi anak itu kelak.”
__ADS_1
Tak bisa menolak, Zaniah hanya bisa menganggukkan kepalanya patuh. Ia akan pulang esok pagi. Meski rasanya Zaniah sudah sangat nyaman berada di sini. Namun, ia sadar dirinya hanyalah tetap orang asing yang tak akan berubah sampai kapan pun itu.
“Iya, Mas. Saya akan pulang besok pagi.” Usai mendapatkan jawaban, Firhan tampak canggung.
Kini ia baru menyadari betapa nekad dirinya masuk ke dalam kamar sahabat istrinya. Jika saja Zaniah tahu, tentu ini akan menjadi masalah yang lebih besar.
“Yasudah Mas pergi dulu. Kamu istirahat yah? Jangan bergadang.” Perhatian Firhan seketika membuat senyum di wajah Lillia mengembang. Dan sumpah demi apa pun senyum itu sungguh melelehkan hati gundah Firhan.
Pintu pun ia buka dengan sangat pelan kemudian Firhan menutup kembali rapat-rapat. Baru saja tubuhnya hendak berbalik, Firhan sudah menegang kala mendengar suara teriakan.
“Mas Firhan? Apa yang kamu lakuin Mas? Mas kamu hianatin aku, Mas?” Zaniah meneteskan air matanya mendapati sang suami baru saja menutup pintu yang di tempati Lillia saat ini.
“Tega kamu, Mas!” Ia menangis histeris dan terduduk menjambak rambutnya. Kali ini Zaniah merasakan sakit yang luar biasa bersamaan di hati dan kepalanya.
__ADS_1