Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Keputusan Lillia Zeni


__ADS_3

Keributan tangisan dan teriakan memberontak terdengar hingga mengundang perhatian para penghuni rumah. Lillia yang yang semula ingin tidur akhirnya berlari keluar. Sementara di kamar yang berbeda tampak  Tuan Dika dan Wuri terlonjak kaget dari tidurnya yang terasa baru sampai di alam mimpi.


"Mah, suara Zaniah?" ujar Tuan Dika yang bisa merasakan perbedaan suara sang menantu pertama dan kedua.


Tanpa mengatakan apa pun lagi keduanya sudah berlari keluar dari kamar. Dan terlihatlah Zaniah yang menangis di dalam pelukan Firhan. Tangisan yang sangat memilukan, bahkan Lillia pun juga turut menenangkan sahabatnya.


"Zan, tenanglah. Tolong dengarkan Mas Firhan menjelaskan dulu." ujar Lillia namun segera Zaniah mendorong tangan sang sahabat tak perduli jika Lillia hamil.


Wanita itu tersungkur ke lantai sembari meneteskan air matanya melihat bagaimana semua ini terjadi begitu sangat membingungkan untuk Lillia.


"Ada apa ini, Firhan?" tanya Wuri yang sudah mendekat bersama sang suami.


Seketika semuanya hening begitu melihat sepasang suami istri yang datang. Zaniah baru sadar jika ia tengah mengamuk di rumah sang mertua, dan apa yang harus mereka jelaskan saat ini. Tentu saja Zaniah masih memikirkan hal yang tidak mungkin mereka bongkar saat ini.

__ADS_1


"Niah, ada apa? kenapa kamu mengamuk seperti itu?" tanya Wuri membuat Zaniah diam seribu bahasa tanpa bisa menjawab apa pun.


"Mah, Firhan harus pulang malam ini sama Zaniah dan Lillia. Ayo kalian siapkan barang kita pulang sekarang." Pilihan yang Firhan rasa paling tepat adalah pulang dan menyelesaikan semuanya di rumah.


Bagaimana pun juga ia tidak ingin membuat sang mamah dan papah terkena serangan jantung jika mengetahui ribetnya pernikahan anaknya saat ini. Sebagai orang tua meski rasanya berat, akhirnya Wuri dan Tuan Dika hanya  bisa pasrah saja.


Mereka melihat kepergian sang anak dan dua menantunya yang tampak begitu membingungkan. Keadaan yang tidak saling akrab membuat mereka yakin jika ada masalah besar yang di duga karena ketidak adilan Firhan terhadap dua istrinya.


Dan Firhan pun hanya bisa menganggukkan kepala tanpa bisa menjawab apa pun.


***


Hingga jam menunjukkan satu, barulah mereka tiba di rumah dengan keadaan rumah yang minim pencahayaan. Sebab pelayan pun sudah tidur.

__ADS_1


"Jangan ada yang tidur. Kita bicara dulu." tutur Firhan akhirnya bersuara tegas.


Matanya bahkan tak menatap hangat pada Zaniah lagi kali ini, rasanya sudah cukup kesabarannya pada sang istri. Lillia mau pun Zaniah sama-sama duduk tanpa bersuara. Air mata yang menetes di kedua pipi Zaniah tak bisa ia suarakan dengan kemarahan saat ini.


"Lia, saya harap kamu tidak melebihi batas dengan kedua orangtuaku. Sebab itu tak ada dalam perjanjian pernikahan. Meski memang semua salah saya yang tidak bisa menjagamu di depan orangtua mau pun di belakang." tutur Firhan yang hanya mendapatkan anggukan lirih dari Lillia.


Kini mata Firhan pun beralih menatap sang istri pertama yang terus menangis tanpa suara. "Niah, Mas ke kamar Lillia karena meminta dia pulang pagi ini ke rumah. Bukan melakukan apa pun, tidak mungkin mas membicarakan di luar bisa di dengan Mamah atau papah. Tapi, rasanya Mas sudah lelah. Kita akhiri saja sandiwara ini. Mas ingin hidup tenang. Kamu selalu bertindak sesuka hati kamu, sampai kapan mas harus mencoba mengerti. Jangan pernah perdulikan ucapan mamah tentang cucu. Kita bisa pindah jauh dari sini kalau kamu memang takut mamah mengganggu kita." Ucapan Firhan seketika membuat wajah menunduk Zaniah mendongak dan menggeleng tak percaya.


"Tidak, Mas. Tidak. Aku tidak setuju." ucap Zaniah cepat menolak permintaan sang suami.


"Saya setuju, Mas Firhan. Zan, aku juga tidak ingin semuanya berlanjut. Biarkan saja aku menanggung semua sendiri asal persahabatan kita tetap seperti dulu. Aku tidak ingin membuat kamu dan Mas Firhan berkelahi terus menerus." Zaniah yang mendengar keputusan Lillia menggeleng tak percaya.


Pikiran yang kacau semula kini sudah tenang setelah mendengar penjelasan sang suami, namun kini Lillia sudah ingin mengakhiri drama mereka. Tentu saja Zaniah tidak mau sebab itu artinya ia akan bersaing dengan Sela Agnes yang tidak tahu bagaimana wanita licik itu akan memainkan perannya sebagai madu. Tidak, Zaniah tidak sanggup.

__ADS_1


__ADS_2