
Usai mendengar penjelasan dari istri muda, akhirnya Firhan terdiam beberapa saat.
Pikirannya pusing dengan pekerjaan dan tubuhnya lelah. Tapi, kini Zaniah justru seakan menambah pikirannya kembali.
“Terimakasih, Bi. Ini telponnya.” Lillia pun beralih menuju dapur usai bertelpon dengan Firhan.
Mengetahui suaminya yang bicara dengan pelayan, Lillia mau tak mau berdiskusi dengan Firhan saat pelayan setuju memberikan telepon itu.
Di kota lain, nyatanya sebagai pria yang bertanggung jawab. Firhan segera menghubungi orangtuanya. Alangkah baiknya ia meminta bantuan pada sang mamah mengatasi sebagian masalahnya. Meski tidak semua.
Beberapa kali suara panggilan itu terdengar hingga mmebuat si empunya bergegas mendekat.
“Firhan? Tumben.” gumam Wuri heran.
“Mah, Lillia di rumah hanya dengan Bibi. Aku khawatir kalau terjadi sesuatu. Mamah tolong bantu cek Lillia yah? Atau berkabar dengannya.” Setelah panggilan tersambung akhirnya Firhan pun menjelaskan apa yang membuat dirinya menelpon.
Wuri menghela napasnya pelan. “Kamu tanpa meminta, Mamah sudah pasti lakukan. Tapi sebaiknya biarkan Lillia tinggal di sini dulu. Tunggu, memangnya Zaniah kemana? Tadi kan ada di rumah? Apa mereka bertengkar?” Pertanyaan sang mamah membuat Firhan harus berbohong.
“Zaniah ada Firhan suruh ke suatu tempat Mah. Urusan pekerjaan, tadi aku minta tolong.”
Tanpa bertanya lagi, Wuri pun menyanggupi serta Firhan pun setuju usul sang mamah.
Sambungan telpon pun akhirnya terputus dan di sini Firhan kembali fokus menghubungi Zaniah.
“Ah sebaiknya aku lacak saja. Setidaknya lokasi terakhir ia terdeteksi juga tidak apa-apa.” ujar Firhan.
Kini ia sibuk dengan ponsel dan melihat titik lokasi sang istri ternyata terakhir berasa di tepi kota menuju kota tempatnya berada.
Semakin resah rasanya Firhan mendapati tingkah sang istri yang melakukan semua atas kehendaknya sendiri.
Di hotel, Firhan menatap nanar pemandangan kota yang mulai semakin gelap. Ingin pergi mencari sang istri namun khawatir jika mereka justru akan berselisih.
Memantapkan keputusan untuk menetap di hotel, Firhan uring-uringan. Beberapa kali ia mencoba untuk menghubungi sang istri nyatanya masih sama. Tidak aktif.
Sementara di tempat berbeda, suasana meja makan sudah tampak lebih berwarna. Senyuman mengembang di wajah ayu Wuri. Wanita yang tak lagi berusia muda itu begitu hangat menyambut menantu keduanya.
__ADS_1
“Lia, ayo makan. Kita makan malamnya lebih cepat biar kamu nggak kelaparan. Kasihan pasti cucu Mamah sudah lapar.” ujar Wuri penuh perhatian.
Sungguh Lillia Zeni begitu canggung berada di kediaman megah sang mertua tanpa adanya
Zaniah atau pun sang suami. Ia benar-benar takut jika mendapatkan pertanyaan yang di luar dugaannya.
“Iya, Mah.” jawabnya singkat.
“Sudah jangan di ajak bicara terus. Menantu kamu yang ada gugup kamu nggak berhenti bicara, Mah.” celetuk Tuan Dika.
Mereka pun makan malam tepat pada jam enam sore. Alasan karena Lillia sedang hamil. Tentu mereka harus memajukan jam makan malam yang biasanya di jadwalkan jam setengah
delapan malam. Semua tentu demi menantu dan calon cucu mereka.
Tak jarang di meja makan Wuri terkekeh mendengar ucapan demi ucapan menantunya yang kerap memuji masakan sang mertua.
“Ini benar enak banget, Mah. Padahal biasanya aku nggak suka makan yang di goreng pakai tepung. Tapi ini rasanya enak.” puji Lillia saat mengunyah udang berbalut tepung bumbu.
“Masa sih? Padahal Mamah goreng asal saja loh?” Wuri terkekeh.
Namun dengan polos Lillia berbicara. “Oh…pantes enak, Mah Pah. Kan Lia biasa pakai tepung yang nggak ada merknya terus kasih garam piksin jadi deh. Jauh banget rasanya.”
Ia pun masih tetap memuji meski terdengar receh.
Hingga mereka usai makan dengan lahap, kini ketiganya berpindah pada ruang televisi. Menikmati siaran televisi dengan drama ikan terbang.
Merasa bosan, Tuan Dika pamit untuk menuju ruang kerja. Tinggallah Lillia bersama sang ibu
mertua. Wuri sangat senang malam ini ia menonton tidak sendirian lagi.
“Mah, filmnya seru. Mamah mau Lia buatkan cemilan nggak? Pie susu misalnya?” tawar
sang menantu yang di sambut dengan wajah girang Wuri.
Tanpa terasa mereka belum genap satu malam sudah begitu akrab layaknya anak dan ibu.
__ADS_1
Tak ada yang tahu jika di hotel tempat Firhan tinggal tengah terjadi keributan.
“Astaga Niah, apa yang kamu lakukan? Bahaya Niah, bahaya. Kamu anggap apa aku ini?”
Akhirnya setelah memendam cukup lama kegelisahan, Firhan berhasil meluapkan semuanya kala sang istri tiba di hotel sore itu.
Zaniah menangis setiba di hotel.
“Aku sakit, Mas. Cukup kamu memikirkan diri kamu. Aku benar-benar nggak mau kamu tinggal-tinggal lagi. Aku mau ikut kemana pun kamu pergi.” Dengan kekehnya Zaniah mengutarakan keinginannya.
Firhan yang mendengar pun sampai menjambak rambutnya keras.
“Niah, aku pusing. Tolong jangan tambah kepala aku makin pusing. Hari ini semua pekerjaan berantakan. Apa yang kamu pikirkan? Bukankah sudah cukup aku dan sahabatmu itu mengikuti keinginanmu? apa lagi?” Zaniah menatap wajah sang suami yang merah penuh amarah.
“Kamu bilang cukup, Mas? Cukup apanya? Mamah kamu sendiri bahkan sudah seperti tidak
menganggap aku. Itu semua karena siapa? Karena Zeni. Istri baru kamu.” Zaniah tak kalah marah mengatakan semuanya.
Firhan duduk di sofa. Merasakan kepalanya yang berdenyut nyeri. Pelan ia menarik napas dan menghembuskan pelan.
“Jadi apa maunya kamu? Katakan? Tolong, Niah. Mas sudah pusing sekali dengan masalah kantor. Ayo kita selesaikan masalah ini. Apa maunya kamu?” Firhan berusaha bicara dengan menurunkan nada bicaranya.
Di sana Zaniah terus menangis. “Aku sakit Mas. Melihat Mamah begitu perhatian sama Zeni. Sementara aku sudah nggak di anggap. Aku muak, Mas. Aku ingin membatalkan semuanya.” Seketika mata Firhan membola mendengar ucapan sang istri.
Ada perasaan kesal kala mendengar betapa egoisnya istrinya.
“Kemana Zaniah yang dulu memiliki peduli yang besar? Kamu sadar, Niah? Pernikahan ini bukan kami yang mau. Tapi kamu yang memohon. Kamu lupa dengan permohonan kamu pada Lillia?” Firhan tak habis pikir rasanya.
Namun, ucapannya yang ingin mengingatkan bagaimana permohonan Zaniah pada sahabatnya justru membuat Zaniah salah paham.
“Apa kamu sudah jatuh hati sama dia, Mas? Kamu tidak setuju aku meminta kalian bercerai?
Apa benar kalian main rasa dalam pernikahan sementara ini?” Tuduhan Zaniah lagi-lagi membuat Firhan geleng kepala dan menggaruk kasar kepala belakangnya.
“Niah, tolong. Tolong dengan sangat jangan bicara yang beda alurnya. Di sini kamu sudah salah. Niat kamu dalam pernikahan ini untuk membantu anak itu kan? Lalu apa dengan begitu mudahnya kamu meminta kami bercerai sedangkan janin itu saja belum lahir? Apa kamu tidak berpikir bagaimana Mamah akan sangat marah sama Lillia?” Zaniah semakin tak terima mendengar ucapan suaminya.
__ADS_1
“Lillia? Lillia? Lillia lagi! Apa harus dia yang kamu perdulikan dari pada aku, Mas? Iya?”