
Malam yang seharusnya menjadi pertemuan hangat antar dua insan yang merindu meski hanya sehari berpisah, nyatanya tak merubah keadaan. Justru kamar hotel tampak begitu hening kala keduanya usai membersihkan diri masing-masing dan makan malam.
Berbaring dengan saling memunggungi tak perduli jika salah satunya tengah berusaha menghentikan air mata yang terus saja keluar. Zaniah memeluk guling dan membenamkan wajah di sana. Sementara Firhan tampak memejamkan mata berusaha menghilangkan rasa marahnya.
Tanpa di sadari pernikahan yang hanya berlandaskan keadaan bukan berniat menikah dengan sebenar-benarnya pernikahan, kini perlahan mulai menghancurkan keharmonisan keluarga kecil itu.
Waktu kini bergerak terus hingga berada di jam sebelas malam, tak ada yang tidur selarut itu membuat Firhan dan Zaniah melihat suara ponsel yang berada di atas nakas. Firhan segera bangkit dari tempat tidur tanpa menatap sang istri.
"Telpon rumah Mamah?" gumamnya segera mengangkat panggilan itu tanpa ragu sedikit pun.
"Mas Firhan, ini saya Lillia, Mas." Dari seberang sana suara wanita lembut membuat Firhan paham jika yang menelponnya bukanlah orangtuanya melainkan istri kedua.
Di tempat tidur Zaniah tampak menatap dalam punggung sang suami yang belum mengeluarkan suara. Ia begitu penasaran siapa yang menghubungi sang suami di tengah malam seperti ini.
"Ada apa, Lillia? Kamu kenapa belum tidur selarut ini?" Ucapan Firhan benar-benar membuat dada Zaniah seketika bergemuruh kala mendengar nama sahabatnya di sebut. Tanpa mau menunggu lagi, Zaniah bergegas merebut ponsel sang suami dan mematikan benda pipih itu.
Firhan menghela napas seraya memijat keningnya terasa sakit. "Apa yang kamu lakukan, Niah?" pekik Firhan dongkol.
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, Mas. Kenapa kamu keberatan? Kamu masih memikirkan istri kedua kamu itu sedang apa di sana? Apa jangan-jangan kamu sudah benar-benar mencintainya, Mas?" Lagi-lagi setiap berbicara hanya tuduhan yang Firhan dapatkan dari Zaniah. Kesabarannya tentu ada batasnya. Namun, mengingat waktu sudah begitu malam rasanya Firhan tak ingin menghabiskan tenaganya untuk bertengkar lagi.
Ia memilih menghela napasnya kasar dan menuju ruang televisi dan tidur di sofa panjang tanpa memakai selimut. Tak perduli bagaimana air mata Zaniah terjatuh kembali melihat suaminya yang tak lagi perduli dengan semua tuduhannya.
__ADS_1
"Kamu benar menyukai dia, Mas? Apa itu sebabnya kamu tidak membantah saat aku mengatakan semua itu?" tanya Zaniah setengah berteriak.
Hening, Firhan tak memberikan jawaban apa pun dan memilih memejamkan matanya.
Keadaan yang terjadi di sini, Lillia Zeni tampak mengerutkan kening kala mendapati panggilan yang tak bisa terhubung lagi. "Ada apa yah? Zaniah sampai sekarang bahkan belum bisa di hubungi. Ya Allah bagaimana jika Zaniah melakukan hal yang bahaya? Tolong lindungi Zaniah di mana pun berada." ucapnya dalam hati begitu mencemaskan keadaan sang sahabat.
Lillia bahkan rela bergadang karena ingin menghubungi sang suami untuk menanyakan tentang Zaniah yang belum juga ia tahu di mana keberadaannya. Rela menunggu semua penghuni rumah mertuanya tertidur barulah ia menggunakan telpon rumah. Sebab ia sendiri pun lupa mengisi pulsa di ponselnya. Merasa tak pernah menghubungi seseorang seolah membuat Lillia Zeni acuh dengan ponsel miliknya.
Beberapa menit ia habiskan dengan berdiri memikirkan banyak hal, hingga akhirnya Lillia menyerah dan kembali masuk ke dalam kamar.
***
Keesokan paginya, suasana yang berbeda rasanya Lillia Zeni dapatkan. Tirai jendela kamar yang di buka memancarkan cahaya mentari yang belum sepenuhnya keluar. Rasa kantuk masih menguasai wanita berbadan dua itu.
"Lia, bangun yuk. Temani Mamah pergi ke pasar." Wuri mengusap-usap lengan Lillia hingga sang empunya pun mengerang lirih.
Samar-samar Lillia melihat wajah ayu yang tak lagi muda itu. Seketika matanya terang benderang kala menyadari keadaannya saat ini tengah berada di rumah sang mertua.
"Mamah?" pekiknya kaget melihat sang mertua sudah duduk di hadapannya. Itu artinya ia sudah membuat nilai buruk di hadapan mertua dengan bangun siang.
Wuri hanya tersenyum melihatnya. "Ada apa? Kamu kaget? Ini Mamah bawakan susu hamil. Ayo di minum." Sungguh Lillia Zeni begitu sangat terharu di perlakukan layaknya anak kandung oleh mertuanya.
__ADS_1
Meski semua terjadi lantaran ia tengah mengandung, namun semua kelembutan dan kasih sayang Wuri terasa nyata untuknya bukan semata demi bayi di perutnya. Seketika muncul lagi perasaan bersalah di dalam hati Lillia. Betapa sakitnya keluarga yang begitu baik padanya kali ini saat mengetahui jika anak yang Lillia kandung adalah benih dari pria asing yang bergelar brengs*k. Bahkan pernikahan yang berniat memberikan tipuan tentu akan sangat sulit di maafkan tentunya.
"Mah,"
"Ada apa?" tanya Wuri lembut masih tersenyum.
Lillia yang sudah menghabiskan segelas susu hamil pun berkata pelan. "Kalau Lillia melakukan kesalahan, apa Mamah akan marah dengan Lia? Apa Mamah akan menyuruh Lia pergi?" tanyanya takut-takut sekedar ingin menenangkan dirinya.
Wuri menarik napas dalam sejenak lalu menghembuskan kasar. Tangannya meraih tangan sang menantu dan menggenggamnya erat serta matanya yang menatap dalam mata Lillia.
"Mamah akan sangat sedih jika kamu melukai hati Mamah, tapi jika hanya melakukan kesalahan yang tidak melukai, Mamah hanya akan memarahimu dan menasehati. Mamah sudah mendapatkan menantu yang bisa menggeser posisi Firhan di hati Mamah. Jujur, Mamah begitu sayang denganmu, Lia. Entah mengapa Mamah merasakan kamu adalah anak yang bukan dari darah daging kami tapi begitu membuat kami sangat senang dengan kehadiranmu. Mamah merasa mendapatkan anak perempuan yang begitu menyayangi Mamah." Lillia menunduk tanpa kata.
Mendengar bagaimana lembutnya perkataan sang mertua semakin membuatnya merasa bersalah dan tak berani untuk sekedar menatap mata wanita di depannya kini.
Keadaan hening membuat Wuri sadar waktu mereka tak banyak. "Sudah bersiaplah temani Mamah ke pasar. Kita bersama pelayan juga membeli sayuran. Mamah sudah lama ingin ke pasar tapi tidak tahu dengan siapa. Mumpung ada anak Mamah ini kita bisa menghabiskan waktu bersama." Lillia Zeni tersenyum meski tubuhnya rasanya lemas usai mendengar ucapan sang mertua yang begitu jelas jika ia jangan sampai membuat mereka kecewa.
Bahkan bagi Lillia, hal yang ia lakukan bukan lagi hanya rasa kecewa dan sakit yang mereka dapatkan. Melainkan rasa yang benar-benar membuat mereka akan murka.
Selama kurang lebih empat puluh lima menit, kini tiga pelayan dan dua majikannya tengah berada di keramaian pasar pagi yang memperlihatkan betapa segar semua sayuran, daging, serta ikan. Lillia sampai tersenyum melihat bagaimana antusiasnya sang mertua memilih daging dan sayur pagi itu. Justru pelayan yang bertugas memeriksa kelayakan sayur dan daging hanya bertugas membawa belanjaan. Sebab Wuri sendiri yang memutuskan turun tangan.
"Nyonya besar bahagia sekali, Nyonya muda. Anda benar-benar membawa kebahagiaan untuk nyonya besar." bisik pelayan yang tergerak hatinya kala berdiri bersama Lillia yang sejak tadi terkekeh melihat tingkah sang mertua.
__ADS_1
"Iyakah, Bi? Syukurlah saya senang mendengarnya Mamah bahagia." sahut Lillia.