
Satu jam mengelus lengan sang istri di dalam pelukan, Firhan akhirnya mendengar juga dengkuran halus dari sosok Zaniah. Ia melihat jelas sang istri terlelap. Pelan namun pasti pelukan itu ia lepaskan.
Kini Firhan mengambil ponsel dan menghubungi sang mamah.
“Mah, bagaimana…” pertanyaan dari Firhan belum usai ia lanjutkan namun Wuri sudah lebih dulu bersuara.
“Jangan tanyakan dia lagi, Firhan. Kamu fokus saja dengan Zaniah. Mamah yang akan mengatasi Lia.”
Mendengar ucapan sang mamah, Firhan tak berani mengucapkan sepatah katapun. Pikirannya semua akan baik-baik saja.
Panggilan pun di hentikan, sementara Wuri tampak acuh di rumahnya. Tak ada perasaan apa pun usai mengusir sang menantu dari rumah sakit.
“Bikin repot saja. Wanita yang seharusnya jadi tanggung jawab pria lain. Sekarang semuanya sudah aman.” Wuri bergegas membersihkan diri yang ia yakini kotor dari rumah sakit.
__ADS_1
Malam itu semua istirahat di kamar dengan tenang. Firhan tampak memperhatikan keadaan Zaniah yang mendengkur halus.
Sadar akan pikiran yang tak bisa di kontrol, Firhan mencoba menenangkan diri dengan melakukan renang malam. Pikirannya yang gelisah lantaran memikirkan sosok Lillia. Ingin menghubungi namun mendengar ucapan sang mamah rasanya tak mungkin ia menghubungi Lillia. Setidaknya ia mendapat keringanan dengan Wuri yang mau membantu memberi tenaga untuk menjaga istri keduanya.
Tanpa ia tahu di sini keadaan Lillia benar-benar lemas. Berjalan tertarih keluar dari rumah sakit hingga malam hari ia tak tahu harus pergi kemana. Kembali ke rumah dalam waktu dekat rasanya tidak mungkin. Bahkan ia tak berani ke rumah sekedar mengambil barang takut jika akan bertemu Firhan.
“Apa benar kepergianku saat ini? Tapi jika aku tidak pergi sama saja aku merusak rumah tangga Zaniah dengan Mas Firhan. Mereka suami istri yang sesungguhnya. Bahkan Zaniah juga sudah mengandung. Itu artinya mereka juga tak akan lagi membutuhkan anakku.” Lillia menundukkan kepala melihat perutnya yang sudah buncit.
Air matanya menetes. Sungguh miris kehidupannya saat ini. Berharap bisa menyelamatkan sang anak dari status pernikahan kini justru ia pun turut memiliki status pernikahan tanpa bersama sang suami.
Pelan ia terus menelusuri jalan di malam itu. Kepala yang masih merasakan pusing membuat Lillia tak kuat lagi melangkah lebih jauh. Ia memilih duduk sejenak untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Berharap ada orang baik yang mau membantunya, bahkan perut yang buncit itu kini terasa sangat perih. Lillia kelaparan. Ia beberapa kali meneguk kasar salivahnya.
__ADS_1
Kisah yang memilukan di alami Lillia. Bahkan keberuntungan tak juga menghampirinya malam itu. Duduk bersandar pelan hingga matanya terpejam tanpa bisa menahan kantuk. Lillia melewati malam dengan tidur di pinggir jalan bersama lampu yang remang.
Dingin yang ia rasakan terus berusaha ia tahan sekuat mungkin.
Kejadian yang sama terjadi di dalam mimpi pria yang saat ini bergerak kesana kemari di tempat tidurnya.
“Lia! Lia, jangan pergi! Lia kembali pada Mas! Tolong, Lia. Lillia!”
“Mas, ada apa sih?” Zaniah sontak terduduk kaget mendengar suaminya berteriak nyaring dan bangkit dari tidurnya.
Firhan bahkan tampak berkeringat di seluruh keningnya. Ia melihat kesana kemari, rasa takut tiba-tiba saja melebihi rasa cemasnya semalaman.
“Mas, mau kemana?” Zaniah berteriak memanggil sang suami yang sayangnya tak di dengar sama sekali oleh Firhan.
__ADS_1
Pria itu sudah bergegas pergi meninggalkan sang istri, dimana ia sudah keluar melajukan mobil. Kini di tengah malam menjelang subuh Zaniah hanya seorang diri tanpa sang suami di kamarnya.
“Sialan, apa sih Lillia? Bisa-bisa sampai buat Mas Firhan sekhawatir itu.” ujarnya penuh rasa kesal.