
Keadaan kamar yang baru tanpa sadar membuat tubuh Lillia Zeni yang terbiasa dengan fasilitas seadanya kini benar-benar termanjakan. Ia tidur dengan lelap di dalam kamar yang berada di rumah sahabatnya itu. Pikiran yang membuatnya pusing tak
lagi mengusiknya saat ini. Dengkuran halus terdengar mengiringi tidur malam itu serta selimut yang tebal.
Jam di atas nakas yang menunjuk pada angka satu malam, rupanya membuat perut wanita itu terasa perih. Hal wajar memang sebagai wanita yang tengah berbadan dua memiliki tingkat lapar lebih tinggi dari wanita pada umumnya yang tidak hamil. Dan hal itu membuat Lillia Zeni memutuskan untuk segera membuka matanya.
"Aduh lapar, anak ibu lapar juga yah? Kita ke dapur sebentar yah? Semoga ada makanan di sana. Dan semoga juga nggak ada orang, ibu sangat malu, Nak." gumamnya tersenyum mengusap perut miliknya.
Meski rumah itu adalah rumah sang sahabat, namun keadaan yang seperti ini membuat keduanya merasa ada jarak yang menjadi
pembatas kedekatan mereka.
Kening Lillia mengernyit kala mendengar suara dengkuran keras di ruang televisi dengan sinar lampu yang temaram. Pelan ia menutup pintu kamar dan menyalakan lampu utama di ruangan itu.
"Astaga Mas Firhan?" tuturnya membungkam mulutnya pelan.
Lillia terkejut melihat suami sahabatnya yang tidur dengan meringkuk di atas sofa. Sungguh, ia tak tega melihat hal itu. Bahkan kini Lillia menoleh ke arah pintu kamar utama, tertutup rapat. Itu artinya Zaniah sedang di kamar tanpa berniat menyusul sang suami.
Segera ia pun melupakan niat awalnya keluar kamar, Lillia Zeni kembali ke kamar dan mengambil selimut yang ia pakai di kamarnya tadi. Menyelimuti tubuh suami sahabatnya lalu masuk ke dalam kamar.
Sungguh ia tidak tahu sama sekali jika saat memakaikan selimut, ternyata Firhan terkaget namun menahan keterkejutannya itu.
"Dia wanita yang baik. Kasihan Lillia." gumam Firhan membayangkan pemandangan yang tidak begitu jelas barusan. Matanya terpejam namun ia sisakan celah untuk mengintip siapa gerangan yang memberikannya selimut.
Hingga pada akhirnya Firhan pun memilih untuk tidur kembali dengan memakai selimut itu.
Baru saja ingin memperbaiki posisi tidurnya di atas sofa, pikiran Firhan teringat akan sosok Lillia
"Di kamar lain selalu ada selimut satu, itu artinya dia akan kedinginan." batin Firhan tak sampai hati jika wanita hamil yang memperhatikannya sampai kedinginan. Tentu akan membuat tubuhnya masuk angin nanti.
Segera ia pun bangun dari tidur singkatnya lalu membawa selimut itu mendekati kamar Lillia Zeni yang tertutup rapat.
__ADS_1
"Iya, aku berikan saja selimut ini. Kasihan dia." ucap Firhan meyakinkan dirinya.
Hingga pada saat tangannya akan menggantung untuk mengetuk pintu kamar, tiba-tiba pintu kamar dari tempat lain terbuka. Di sana Firhan menoleh melihat wajah sembab dan
hidung yang merah jelas membuatnya ikut sakit. Zaniah berdiri di depan pintu
kamarnya menatap sang suami dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Niah," sapa Firhan mengurungkan tangannya untuk mengetuk pintu kamar Lillia.
Air mata Zaniah jatuh saat melihat sang suami di depan kamar sang sahabat, terlebih ada selimut di tangan suaminya itu. Ia tak ingin mendengar suara suaminya, segera Zaniah pun masuk ke kamar kembali dan menguncinya. Hilang sudah niat untuk
menyusul sang suami dan meminta masuk ke dalam kamar.
"Astaga apa lagi ini?" umpat Firhan sembari menggaruk kasar kepalanya.
Sungguh ia tidak tahu apa sebenarnya yang menimpa hidupnya saat ini? Siapa yang memaksanya berada di jalan ini? Mengapa harus ia yang menanggung semuanya?
"Niah, buka pintunya!" teriak Firhan untuk yang kesekian kalinya.
Hening tak ada jawaban, Firhan semakin pusing.
Sementara di dalam kamar Zaniah memukuli kepalanya dan dadanya sendiri. Sakit yang ia rasakan sunggguh tak bisa ia jelaskan dan artikan saat ini.
Hingga kejadian malam itu tanpa terasa menyambut pagi yang terasa begitu dingin.
"Mas! Mas Firhan!" Suara wanita samar-samar membuat sosok Firhan mengerjap dan membuka matanya silau.
Wanita cantik dengan perut yang berisi berdiri di depannya pagi ini. Senyum ramah ia tampilkan dengan baik di sana.
"Sarapannya sudah siap, Mas. Kenapa tidur di sini?" Lillia Zeni bertanya tanpa ada maksud apa pun. Ia hanya bingung semalam melihat Firhan tidur di sofa, pagi ini melihat Firhan tidur di depan pintu kamar dengan posisi duduk bersandar pada daun pintu.
__ADS_1
"Lillia," ucap Firhan segera bangun dari duduknya.
Bersamaan dengan itu pula pintu kamar terbuka dari dalam. Zaniah dengan wajah segar meski sembab setelah semalaman menangis tanpa tidur membuat Lillia Zeni sangat kaget.
"Zan, ada apa denganmu? Zan, apa yang terjadi?" Lillia Zeni mendekati sahabatnya dengan memegang tangan sang sahabat.
Meski dalam hati terdalam, Lillia Zeni merasa jika pasti ada hubungannya dengan pernikahan mereka. Sayangnya, Zaniah tetap berusaha tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia tak ingin menunjukkan kesedihannya di depan sahabatnya lagi.
Sebab ia menjaga pernikahannya yang bersama sahabatnya itu. Lillia Zeni saat ini bukan hanya sahabat, tetapi saingannya sebagai istri.
"Aku baik-baik saja, Zen." jawab Zaniah.
Tak ada wajah hangat yang selalu Zaniah berikan untuk sahabatnya itu lagi.
"Mas masuklah mandi. Aku akan buatkan sarapan." pintah Zaniah tanpa berniat untuk menatap sang suami.
"Aku sudah buatkan sarapan untuk kalian. Ayo Zan, kita ke meja makan." Lillia Zeni menggenggam tangan Zaniah seperti biasanya.
Sayangnya Zaniah mendorong pelan tangan Lillia Zeni. Ia berjalan menuju meja makan dengan wajah yang cenderung menahan sakit.
Lillia Zeni terdiam melihat sikap sahabatnya. Sungguh ia pun bingung pagi ini mengapa sahabatnya seperti tak ia kenali lagi saat ini.
"Mau kemana?" tanya Zaniah saat melihat Lillia Zeni hendak meninggalkan ruang meja makan itu saat melihat Firhan telah siap dengan pakaian kerjanya dan duduk di meja makan.
"Em aku mau mandi dan bersihin rumah, Zan." tutur Lillia Zeni sedikit canggung melihat dinginnya aura dalam rumah itu pagi ini.
"Sarapanlah bersama kami, tidak usah melakukan apa pun. Kau sedang hamil." tutur Zaniah tanpa berniat menyebut nama Lillia Zeni dengan panggilan Zen.
Firhan yang menatap Lillia Zeni memejamkan mata sedetik seolah memberi isyarat agar menurut pada sang istri. Pada akhirnya Lillia Zeni pun menurut duduk dan sarapan bersama mereka. Keadaan sarapan sangat hening. Namun, tak ada yang tahu jika
dalam keheningan rupanya Firhan begitu menikmati makanan pagi itu dengan rasa yang sangat nikmat. Meski hanya nasi goreng namun perpaduan sayur, daging suir, serta bumbu lainnya sangat nikmat.
__ADS_1
Sayangnya rasa nikmat itu tak terasa di indera perasa Zaniah. Hatinya yang gundah membuat selera makannya hilang. Semua makanan yang ia makan serta susu yang manis terasa hambar di lidahnya.