
Ribuan makian dan umpatan terus saja Windi layangkan kala tak bisa sama sekali menghubungi sang kekasih. Entah kemana perginya pria brondongnya itu hingga tak mau mengangkat panggilan sang tante.
“Sialan, habis di kasih uang malah pergi berhari-hari. Keterlaluan kamu, Panji. Lihat saja nanti tidak akan aku berikan sepeser uang pun jika tidak pergi bersamaku.” Windi tentu tak akan bisa menepati ucapannya itu.
Sebab ini adalah kesekian kali ia berjanji untuk tidak memberikan uang lagi pada Panji, namun kenyataannya ia terus memberikan setiap mendapat gombalan maut pria muda itu.
Seandainya ia tahu uang itu saat ini tengah Panji keluarkan untuk mengurus kebutuhan selingkuhannya. Yang tak lain adalah mantan anak tirinya, pasti Windi sangat murka.
Sayangnya, sebagai wanita yang di sibukkan dengan usahanya membuat Windi tak memiliki waktu untuk memantau dua puluh empat jam kegiatan sang kekasih di belakangnya.
Di sini pria yang tengah membuat Windi kesal bukan main justru tengah memegang dua kresek besar makanan yang ia beli dari pusat perbelanjaan. Pria itu membuka pintu rumah yang di dalamnya ada sosok Lillia Zeni.
“Mau apa kamu kemari? Jangan mendekat!” Lillia berteriak ketakutan.
__ADS_1
Panji memohon untuk tidak panik, sebab ia juga takut jika terjadi sesuatu dengan Lillia yang wajahnya saat ini sudah pucat.
“Lillia, aku hanya membawakan makan ini untukmu dan anak kita. Tolong jangan ketakutan. Aku tidak ingin anak kita kenapa-kenapa.” Lillia pun terdiam, sampai akhirnya melihat Panji meletakkan makanan itu lalu kemdian ia kembali keluar dan mengunci rumah itu.
Air mata Lillia menetes kala menatap kepergian Panji.
“Apa nasibku akan terus bersama pria itu? Tuhan, mengapa kau menggariskan hidupku seperti ini?” Lillia memejamkan mata.
Pasrah satu-satunya pilihan yang ada. Sebab meminta pertolongan pun Lillia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi. Tekadnya sudah bulat untuk tidak kembali pada sang suami.
“Apa iya aku harus hidup bersama dengan ayah dari bayi ini? Tapi dia bukan pria yang baik. Tapi aku…” Lillia terhenti ucapannya kala mengingat jika dirinya juga tak begitu baik untuk pria yang baik.
***
__ADS_1
Senyum merekah kala semua melihat sosok Firhan yang sama sekali perhatian pada Zaniah. Ia begitu bahagia mendengar ucapan sang ibu yang mengatakan jika Zaniah tengah mengandung anaknya.
“Terimakasih, Nia. Akhirnya kita memiliki anak juga. Aku sungguh tidak sabar untuk menantikan kelahiran anak kita.” Firhan mengusap lembut perut sang istri.
Zaniah hanya tersenyum melihat respon suaminya yang ternyata tidak ingat seluruh memorinya. Ia hanya mengingat sebagian itu pun di bantu dengan mereka menjelaskan juga.
“Niah, Firhan, Mamah sama Papah harus pulang dulu. Kalian istirahat saja atau Zaniah juga mau pulang bisr gantian dengan Mamah?” tawar Wuri yang tak enak meninggalkan sang menantu sementara di ruangan itu juga mereka ada kedua besannya.
“Pak Bahran dan Bu Peny biar ikut ke rumah kita saja. Kan lebih dekat untuk istirahat.” lanjut Wuri.
Zaniah menggeleng mendengar ucapan mertuanya. Mana mungkin ia mau meninggalkan Firhan yang sudah membuatnya ketakutan tadi.
“Tidak, Mah. Aku di sini saja menjaga Mas Firhan. Aku takut Mas Firhan sakit lagi.” ucapnya sungguh mencemaskan suaminya. Bukan dengan keadaan saja melainkan dengan apa pun termasuk Firhan yang akan mengingat sosok istri keduanya.
__ADS_1
Tidak menutup kemungkinan Firhan mengingat sosok Lillia.
“Yasudah kalau itu mau kamu. Ibu sama Ayah akan ikut ke rumah mertua kamu yah sama Stella. Kalau ada apa-apa jangan lupa kabari kita semua.” Kini Peny yang bersuara dan Zaniah hanya menganggukkan kepalanya patuh.