
Sepulang dari pasar senyuman Wuri tak lepas dari wajah ayu itu. Hingga tiba di rumah pun ia tetap masih tersenyum rasanya puas berbelanja sendiri tanpa menceramahi para pelayan saat berbelanja dari pasar. Selalu ada saja yang menurutnya kurang bagus pilihan mereka.
Di ambang pintu tampak Tuan Dika berkacak pinggang dengan setelan rapi menggelengkan kepala menatap kedatangan sang istri dan yang lainnya.
"Eh Papah sudah mau berangkat kerja?" Ya ampun udah kesiangan rupanya Mamah sampai lupa kalau sarapan Papah belum di buat." ujar Wuri tanpa menunjukkan wajah menyesalnya. Senyuman masih menghiasi wajah wanita itu.
"Biarkan Lia siapkan sebentar sarapannya, Pah." ujar Lillia dengan sigap ingin beranjak namun sang mertua sudah lebih dulu mencegahnya.
"Sudah tidak usah. Papah sudah mau berangkat sekarang. Mamah kamu ini dalangnya, Lia. Ke pasar kok nggak ingat waktu sih, Mah?" kesal Tuan Dika menatap sang istri heran.
Sebab tak biasanya istrinya itu mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri. "Maafkan Mamah, Pah. Tadi belanjanya seru sekali di temani Lia. Besok Mamah janji nggak begini lagi kok." kini Wuri baru menundukkan kepala. Ia menyesal telah melalaikan tugasnya untuk sang suami.
__ADS_1
Tak tega menghilangkan semangat di wajah sang istri akhirnya Tuan Dika memilih untuk mendekat ia mengusap bahu sang istri lalu memeluknya. "Sudahlah, Papah berangkat dulu. Nanti makan siangnya di antar yah, kan itu sayurnya dan daging sepertinya segar semua." tunjuk Tuan Dika di angguki oleh sang istri.
Semua pelayan hanya tersenyum-senyum melihat suasana rumah pagi itu tampak berbeda. Mereka semakin nyaman dengan keberadaan Lillia di rumah besar ini. Semuanya tampak berbeda, tidak seperti saat Zaniah menjadi menantu. Jangankan untuk tinggal di rumah sang mertua satu malam, menjenguk saja hitungan bulan meski rumah mereka berada di satu kota yang sama.
Bahkan Wuri yang sering kali menjenguk dengan dalih meminta cucu. Sebenarnya wanita itu begitu merasa kesepian, namun sang menantu yang tidak begitu peka membuatnya sering melampiaskan kesepiannya dengan ucapan-ucapan menyakitkan.
"Dada...Papah!" Seruan terdengar serta lambaian tangan Wuri berikan menemani kepergian sang suami.
Suasana hangat terasa di kediaman Wuri pagi itu, tak sama seperti di tempat sang anak dan menantunya yang berada di kota lainnya.
Zaniah sudah membersihkan diri usai semalaman ia tidak bisa tertidur. Meski memejamkan mata namun perasaan yang membuatnya gelisah dan takut terus memenuhi pikirannya kala itu.
__ADS_1
"Mas! Mas Firhan!" beberapa kali ia memanggil nama sang suami namun tetap keadaan hening tak ada jawaban.
Matanya mengedar ke segala ruangan dan benar sang suami tidak ada. Tas kerja yang semalam ada di meja sudah tidak nampak lagi. Zaniah yakin suaminya telah pergi bekerja.
Kini ia pun duduk di meja makan yang tersedia sarapan nasi goreng dari hotel. Zaniah yakin suaminya telah memesankan untuk dirinya.
Pelan tangannya bergerak meraih ponsel dan menyalakannya. Begitu banyak pesan yang masuk ke dalam ponselnya dari sang suami dan lainnya dari sahabatnya. Bahkan setiap pesan yang Lillia kirim begitu terlihat ucapan kecemasan. Tak heran jika pulsa wanita itu sampai habis mengirimkan pesan pada Zaniah.
Di akhir pesan masuk Zaniah melihat beberapa pesan yang hanya berasal dari telkoms*l mengatakan untuk membebankan biaya pesan padanya. Yang artinya Lillia tak memiliki pulsa cukup untuk mengirim pesan lagi.
"Aku tidak tahu, Zen. Apa dengan kepergianku ini kau benar-benar cemas atau justru kau sangat bahagia? Aku bahkan sangat tidak mengenalimu lagi." gumam Zaniah menatap asing pada nomor sang sahabat.
__ADS_1
Berbagai prasangka buruk tentang Lillia Zeni sudah memenuhi kepalanya kini.