Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Pergi


__ADS_3

Malam semakin larut, di kamar ini Zaniah tengah memeluk erat tubuh sang suami. Beberapa kali wanita itu bahkan meminta Firhan untuk mencium keningnya. Lama rasanya ia tak bermanja-manja pada suaminya.


Namun, ada yang berbeda kali ini menurut Zaniah. Ia melerai pelukannya dari tubuh Firhan lalu menatap dalam wajah suaminya yang tampak memikirkan suatu hal.


“Mas, kenapa?” tanyanya penasaran.


Tangan Zaniah mengarahkan pandangan sang suami agar memandangnya.


Firhan mengalihkan tatapan matanya pada sang istri. Bagaimana mungkin ia baik-baik saja bersama sang istri. Sementara pikirannya terbayang kejadian siang tadi.


“Mas, ada apa? Kamu tidak mau dekat denganku kah?” Pertanyaan yang terlontar dari Zaniah seketika membuat kepala Firhan menggeleng cepat.


“Bukan, Niah. Bukan begitu. Aku tidak apa-apa. Maaf aku hanya kepikiran pekerjaan saja. Ayo tidurlah, Mas lelah.” ujar Firhan yang sengaja menghindari sang istri.

__ADS_1


Merasa lelah, tentu saja Zaniah pun acuh dan menuruti permintaan sang suami untuk memejamkan mata.


Belum saja sempat Firhan memejamkan mata, ia justru kembali membuka mata saat mendengar sang istri bersuara. “Kamu nggak ngapa-ngapain sama Zeni kan Mas?” tanya sontak membuat wajah Firhan menegang.


Hening beberapa saat. “Ya ampun Mas kenapa sih? Kok tegang mulu? Yah aku cuman asal nanya. Lagian Mas nggak mungkin seperti itu.” Merasa lucu Zaniah terkekeh sembari memunggungi sang suami.


Terlelap dalam dinginnya malam tanpa pelukan sang suami. Firhan memilih tidur di pinggir kasur tanpa berniat memeluk Zaniah. Ada perasaan tidak nyaman saat menyadari dirinya terasa seperti pria kotor.


Meski dalam ikatan sah pernikahan, kebohongan yang terjadi terasa seperti pengkhianatan. Tanpa ia ketahui rasa gelisah yang sejak tadi menyerbu pikiran Firhan, nyatanya menjadi pertanda jika di sini Lillia tengah berjalan pelan-pelan lalu menutup pintu utama rumah.


“Maafkan aku Zan, Mas Firhan. Aku tidak bisa meneruskan ini semua.” ujar Lillia dengan meneteskan air matanya melangkah pergi dari rumah yang begitu banyak menyimpan drama menurutnya.


Setiap langkah kaki yang ia jejakkan penyesalan dan rasa bersalah kian menyerbu pikirannya. Ingatan bagaimana dulu dirinya dan Zaniah saling berbagi suka mau pun duka, namun saat ini hubungan mereka sangatlah buruk.

__ADS_1


Sekali pun sudah berbaikan, tetap saja rasanya seperti ada tembok kokoh yang membentang di antara keduanya.


Air mata pun menetes kala memandang perutnya yang sedikit menonjol. “Sayang, kita berjuang bersama. Ibu yakin akan mengusahakan yang terbaik untuk kamu tapi kita tetap bersama tanpa ada orang lain.” tuturnya dan mengusap air mata yang berjatuhan di kedua pipinya.


Lillia memilih berjalan semakin jauh dari perumahan elit itu. Ia menengok kiri dan kanan mencari kendaraan. Namun, jam yang sudah semakin larut nyatanya membuat ia tak mendapati satu kendaraan pun.


Hingga tiba di jalan besar, ia memikirkan jalan satu-satunya kembali ke rumah adalah dengan jalan kaki.


Menit demi menir ia lalui dengan jalan kaki membawa tas pakaian miliknya. Satu pun tak ada barang berharga yang ia miliki. Selain ponsel murah yang ia punya.


Perjalanan ramai mulai ia lalui hingga tiba di gang rumah miliknya sebelumnya. Lillia dengan keringat di kening akhirnya tiba di rumah yang sudah lama tak ia tempati.


Senyumnya mengembang melihat tempat tinggal yang tak nyaman di pandang namun nyaman untuk ia tempati. Di rumah inilah ia mendapatkan ketenangan yang tidak ia rasakan di rumah sahabatnya.

__ADS_1


Lelah akhirnya Lillia memilih membersihkan wajah dan kaki kemudian tidur di kamar kecil tanpa alat pendingin ac mau pun kipas angin.


__ADS_2