Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Tawaran Firhan


__ADS_3

Tak terasa dengan menghabisi waktu seharian dengan berbaring meratapi nasibnya, kini Zaniah beranjak dari tempat tidur dan duduk di kasur itu kala mendengar suara pintu hotel yang terbuka dari luar. Tak lama berselang tampaklah wajah lelah suaminya dengan tangan yang menempelkan benda pipih di telinga miliknya. Sepertinya Firhan tengah menerima telepon entah dari siapa. Ia tak bersuara dan Zaniah yakin di seberang sana seseorang tengah berbicara panjang lebar.


"Mas Firhan tersenyum?" gumam Zaniah begitu tak menyangka melihat wajah sang suami yang berbeda ketika bersama dengannya semalaman.


Berusaha menunggu percakapan apa yang akan Firhan ucapkan setelah ini.


"Oh iya, Mah. Itu bagus setidaknya untuk pertumbuhan bayinya. Firhan dukung apa pun yang menjadi keputusan Mamah kok." tuturnya yang seketika membuat Zaniah menghela napasnya kasar. Mengingat kata bayi sudah bisa ia yakini jika yang menjadi topik pembicaraan mereka saat ini adalah Lillia Zeni.


"Mereka benar-benar keterlaluan. Apa mas Firhan lupa jika aku yang membuatnya menikah dengan Zeni? Apa Mas Firhan lupa jika anak itu adalah anak orang tidak bertanggung jawab?" umpatnya dalam hati menahan kekesalan yang mendalam.


Hingga akhirnya Firhan berucap yang membuat Zaniah membulatkan matanya. "Iya, Mah. Semalam aku juga kaget karena Lillia menelpon pakai telpon rumah. Tapi itu lebih bagus Mah, setidaknya Mamah juga tidak kesepian di rumah karena Lillia menemani Mamah dan Papah."


Rasanya dada Zaniah semakin berdenyut nyeri mendengar sang suami mengatakan Zeni tengah tinggal di rumah mertuanya. Ada rasa cemburu yang teramat besar saat ini di hati Zaniah. Ini pertanda semua akan berpindah pada sosok Lillia perlahan.


"Tidak. Ini tidak bisa di biarkan. Zeni tidak boleh membuat aku tersingkirkan. Zeni apa yang kamu lakukan padaku?" Air mata Zaniah akhirnya kembali jatuh. Rasa takut yang berlebihan membuat wanita itu tak bisa mengontrol emosinya.


Tiba-tiba saja ia menangis histeris dan memukuli bantal serta melempar selimut.


"Niah?" Firhan begitu kaget. Ia mematikan telpon dan mendekati sang istri. Segera ia tahan amukan Zaniah tak perduli jika tangannya terkena cakaran sang istri.


"Zaniah, ada apa? Hey! Ada apa?" Firhan bertanya sembari mencengkram erat rahang sang istri. Matanya berusaha menatap dalam mata milik Zaniah.

__ADS_1


"Aku lelah, Mas. Aku lelah. Mengapa ini semua menimpaku, Mas? Aku mohon hentikan semua ini, Mas." Ia menangis sangat histeris.


Firhan pun segera memeluk erat tubuh sang istri. Sedikit banyak ia paham kondisi psikis sang istri saat ini sedang buruk. Satu hal yang paling sensitif bagi Zaniah yaitu tidak bisa hamil sampai saat ini. Tentu segala apa pun yang terjadi ia akan menyangkut pautkan hal itu dengan kekurangannya. Dan rasa tidak percaya diri membuat wanita itu merasa emosional.


"Sayang, hei...ayo tenangkan dirimu. Katakan pada Mas semuanya. Zaniah tolong jangan seperti ini terus menerus." tutur Firhan semakin mengeratkan pelukannya tak perduli bagaimana sang istri memberontak pelukan itu.


Hingga cukup lama tubuh Zaniah pun melemah. Kurang tidur dan tidak makan membuat wanita itu mudah lelah saat ini. Hingga Firhan hanya mendengar suara isakan yang tak begitu jelas. Barulah ia melepaskan pelukannya, pelan Firhan mengusap air mata sang istri.


"Bisa kita bicarakan baik-baik?" tanyanya lembut.


Zaniah pun meneteskan air mata tanda betapa ia menahan kekhawatiran yang mendalam saat ini. Dan pelan ia pun mengangguk lemah.


Sebab ia sendiri pun merasa lelah selalu bertengkar dengan sang istri.


"Apa dia tinggal di rumah Mamah?" pertanyaan Zaniah segera mendapat anggukan kepala dari Firhan.


Satu tetes air mata lagi jatuh di kedua pipi Zaniah. "Aku tidak bisa menjalani ini semuanya, Mas. Dia pelan-pelan akan merebut semuanya dariku." Zaniah tertunduk.


Sadar jika ucapannya semua ada ia sendiri yang mengawali perjalanan rumit ini. Namun, Zaniah tak menyangka jika respon sang suami akan baik pada sahabatnya. Bahkan sang mertua begitu sangat dekat dengan Lillia saat ini. Tentu Zaniah merasakan was-was yang teramat sangat.


"Niah, semua itu wajar. Bahkan Mamah dan Papah juga sudah sangat lama meminta mu untuk sering menginap di sana bukan? Lillia tinggal di sana tentu akan membuat mereka tidak kesepian. Ayolah semua tetap milikmu. Tidak ada yang berubah. Apa setelah selesai pekerjaan, kau juga mau tinggal di rumah Mamah?" Firhan mengajukan satu pertanyaan yang membuat Zaniah tak bisa menjawab.

__ADS_1


Ingin sekali rasanya ia ikut berada di sana untuk bisa dekat dengan sang mertua, namun mengingat pertemuan kemarin di rumahnya bersama mertua dan madu sungguh Zaniah sudah bisa membayangkan akan seperti apa keadaan di rumah sang mertua kelak.


Hatinya akan semakin merasakan api cemburu tiap kali mertuanya memperhatikan Lillia dan memuji hal-hal kecil dari Lillia.


Tak ada gelengan kepala mau pun anggukan yang Firhan tunggu. Lantas pria itu pun mendekap tubuh sang istri lagi. "Kita akan berada di rumah Mamah dan Lillia akan Mas suruh pulang ke rumah nanti. Setuju jika seperti itu, kan?" sungguh Zaniah senang mendengar ucapan sang suami yang sangat memahami perasaannya saat ini.


Ia dengan cepat mengangguk setuju. Dan membalas pelukan sang suami.


***


"Capek tidak?" tanya Wuri saat melihat Lillia baru saja duduk di ruang televisi sehabis mandi dengan penampilan yang jauh lebih segar nan cantik.


Senyuman di wajah Lillia benar-benar meneduhkan. "Tidak Mamah. Lia segar banget habis mandi apa lagi pakai baju pemberian Mamah. Cantik banget bajunya. Terimakasih yah. Mah?" tuturnya memeluk sang mertua yang juga duduk di sampingnya.


Wuri tersenyum senang. "Mamah pengen ke mall. Mau ikut yah? Mamah bosan di temani teman-teman Mamah yang tua-tua." tutur Wuri membuat Lillia terkekeh.


"Mamah ini seperti tidak tua saja." celetuk Tuan Dika yang mendengar ucapan pelan sang istri di ruangan televisi sana.


Lillia dan Wuri pun menoleh ke sumber suara. "Papah kok nguping sih?" ujarnya meledek sang suami.


Yah seperti inilah kondiri rumah kedua orangtua Firhan saat ini. Terasa damai dan membahagiakan sejak kedatangan Lillia ke rumah megah itu.

__ADS_1


__ADS_2