Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Kepulangan Suami Dan Sahabat


__ADS_3

Puas berkeliling hingga waktu sudah jam delapan malam, Wuri bisa melihat wajah sang menantu yang kelelahan. Terlalu senang ia sampai lupa jika menantunya kini tengah mengandung.


“Sayang, kamu capek yah? Maafkan Mamah. Kita istirahat sambil makan yuk. Kalau masih kenyang bisa minum-minum saja dulu. Setelah itu kita pulang.” Lillia Zeni mengangguk dan tersenyum.


“Iya baik, Mah.” ujarnya mengikuti langkah sang mertua menuju restaurant yang berada di dalam mall itu.


Keduanya saling bergandengan tangan hendak memasuki tempat tersebut. Namun, suatu kejadian tak terduga terjadi di sana.


“Lillia?” Seorang wanita dengan rupa yang sangat berbeda.


Lillia melihat jelas jika wanita di depannya telah banyak melakukan perubahan di wajah meski begitu ia ingat siapa wanita itu.


“Ibu?” Lillia tak kalah terkejutnya.


Seketika kening Wuri mengerut heran. Melihat seluruh penampilan wajah wanita yang sang menantu barusan panggil dengan sebutan Ibu.


“Windi,” setelahnya suara seorang pria pun memanggil sang ibu. Lillia, Wuri dan Windi


menoleh.


“Bu, kita harus bicara.” Lillia ingin meraih tangan Windi namun secepat kilat Windi menarik tangan pria yang baru saja tiba.


“Bu? Ibu!”


“Panji, ayo cepat. Untuk apa bertemu wanita itu?” Sekuat tenaga Windi menarik tubuh Panji untuk menjauh.

__ADS_1


Kini Lillia benar-benar menggelengkan kepala. Pertemuan dan sang ibu yang menghindar sudah menunjukkan jika wanita itu benar tak ingin mengenalnya lagi bahkan untuk membahas penjualan rumah itu.


Setelah tak terlihat, Wuri baru bertanya pada sang menantu. “Lia, siapa dia? Ibu kamu? Kandung?” Mendengar pertanyaan sang mertua, Lillia hanya menggeleng.


“Ayo, Mah. Katanya mau makan.” Tanpa menjawab, Lillia melangkah dan di ikuti sang mertua.


Keduanya duduk dengan keadaan hening. Wuri sadar jika Lillia saat ini sedang dalam emosional. Tentu tak akan baik jika di ajak berbicara.


Sedangkan di tempat parkir mobil, Panji melamun selama ia melangkah bersama sang kekasih.


“Lillia makin cantik dan seksi. Ah bagaimana bisa aku sulit menemukannya selama ini? Tidak. Ini tidak bisa di biarkan. Aku harus tahu dimana ia berada. Lagi pula, mana mungkin aku selamanya bersama wanita tua bau tanah seperti ini.” gumam Panji menatap sang kekasih yang tengah menyetir mobil keluar dari area mall.


Jelas ia melihat bagaimana wajah kesal Windi saat ini. “Dasar bisa-bisanya kita ketemu anak ingusan itu! Aku sudah tidak mau berurusan lagi dengan Lillia. Lagi pula uangnya sudah hampir habis juga.” gumamnya yang tak bisa di dengar oleh sang kekasih.


***


Sejak kejadian saat itu, Wuri masih tak mendapatkan penjelasan dari sang menantu. Lillia seakan ingin melupakan kejadian pertemuan mereka dengan sang ibu.


“Lia, hari ini Firhan pulang. Apa kamu tidak mau menyambutnya di rumah?” pertanyaan Mamah Wuri membuat pandangan Lillia beralih menatapnya.


Keduanya tengah menikmati suasana siang itu dengan menonton televisi.


Pelan Lillia menggeleng dan tersenyum. “Tidak, Mah. Kan ada Zaniah.” jawabnya yang memang sudah tahu dari sang mertua jika Firhan bersama Zaniah saat ini.


Wuri tampak menghela napasnya kasar. “Kenapa Mamah semakin kesini semakin ngerasa aneh yah?” Lillia menoleh penasaran mendengar penuturan sang mertua.

__ADS_1


“Aneh, Mah? Apanya?” tanyanya.


Sebab bagi Lillia ini hal yang wajar. Pernikahan tanpa cinta memang seharusnya seperti ini. Justru jika ia bersentuhan dengan Firhan dan selalu bersama, Lillia akan jelas merasa aneh. Ia adalah orang asing yang tidak mungkin nyaman berada dekat dengan suami sahabatnya.


“Seharusnya yang sama Firhan sekarang adalah kamu. Bukan Zaniah. Kan kamu yang lagi hamil dan butuh penjagaan siaga suami, Lia. Tapi kok terbalik sih?” tanya Wuri menimbang-nimbang setiap ucapan dan pikirannya.


“Mah, Zaniah juga istri Mas Firhan. Dia lebih butuh Mas Firhan, kan sedang program hamil. Sedangkan aku sudah sangat cukup di dekat Mamah dan Papah.” tuturnya lalu bergumam dalam hati setelahnya.


“Aku bahkan tidak pantas untuk berada di dekat kalian Mah, Pah. Aku bukan siapa-siapa dan anak ini bukan darah keturunan kalian sama sekali. Maafkan aku, Mah. Aku benar-benar seorang penipu yang jahat.” Ingin rasanya Lillia menangis namun ia tahan sekuat tenaga.


Hingga percakapan mereka pun terhenti saat suara menggema di depan pintu utama.


“Assalamualaikum, Mamah, Papah.” Sosok pria tampan dengan senyum di wajahnya dan mata yang penuh kasih sayang sontak membuat debaran di jantung wanita berbadan dua bergerak cepat sekali.


Lillia menunduk seketika usai melihat siapa yang datang. Begitu pun dengan Wuri yang langsung berdiri.


“Firhan, Mamah kira kalian langsung pulang ke rumah sana. Eh taunya kesini. Ayo masuk, tuh Mamah lagi sama Lia nonton.” Wuri memeluk sang anak dan menunjukkan sosok Lillia yang menunduk tanpa menatap suami dan sahabatnya.


“Ya Tuhan jantungku kenapa? Apa ini juga pengaruh hamil jadi tiba-tiba berdebar seperti ini?” gumamnya bertanya dalam hati.


Sementara Zaniah tampak menghilangkan senyum saat melihat sang mertua yang menunjuk ke arah Lillia.


“Mah,” sapa Zaniah mencium punggung tangan Wuri dan Wuri mengusap kepalanya.


 Entah mengapa keduanya sejak dulu selalu merasa ada kecanggungan dan jarak. Berbeda dengan yang Wuri rasakan saat bersama menantu keduanya.

__ADS_1


__ADS_2