
Malam itu dua keluarga tampak duduk di ruang keluarga usai mereka mandi dan makan bersama. Helaan napas pun keluar dari mulut Dika.
“Syukurlah keadaan Firhan baik-baik saja. Setidaknya itu tidak akan membuat Zaniah terbebani dengan hilangnya ingatannya. Kasihan Zaniah.” ujar Dika yang membuka pembicaraan.
Pelan kepala Bahran pun mengangguk mengiyakan. Sebab memang pada dasarnya pria itu sangat irit bicara.
“Yah, kami menitipkan Zaniah dengan anak kalian dengan harapan akan terus bahagia sampai tua.” ujarnya.
Kedua keluarga yang lama tidak bertemu itu saling bertukar cerita tanpa membahas hal lain di luar Firhan dan Zaniah. Seolah Dika dan Wuri juga lupa ingatan tentang sosok wanita yang seharusnya mereka bawa ke hadapan Firhan saat ini.
Sungguh miris nasib Lillia yang berpindah tangan pada pria yang sangat ia benci. Tanpa henti ia terus meneteskan air mata, ingin sekali pergi dari rumah itu dan tidak bertemu dengan Panji. Sayangnya, tak ada akses yang bisa membawanya keluar.
Berbeda dengan suasana di rumah sakit. Justru Zaniah dan Firhan menghabiskan waktu sepanjang malam dengan dengan berpelukan. Zaniah tak melepaskan pelukan itu sampai ia terlelap.
“Aku mencintaimu, Niah. Aku sangat mencintaimu.” tutur Firhan memandangi wajah cantik istrinya yang memejamkan mata.
Sumpah demi apa pun ia benar-benar tidak mengingat sosok Lillia. Wanita yang belakangan membuat pikirannya kacau hingga kecelakaan.
Hingga akhirnya waktu yang bergulir sangat cepat telah mereka lalui dalam satu minggu. Dimana Firhan akan pulang ke rumah dan menjalani pemeriksaan rutin setiap minggunya.
“Sini biar Mamah bantu.” Wuri mengambil alih tas yang Zaniah kancing itu.
__ADS_1
Semua barang sudah mereka bereskan. Sementara kedua orangtua Zaniah juga akan pulang hari ini.
“Firhan, keadaan kamu sudah membaik. Semoga kedepannya segera pulihan bisa bekerja. Ayah dan Ibu sudah saatnya harus pulang bersama Stella. Kamu tidak apa-apa kan?” Bahran memegang kedua pundak sang menantu.
Andai saja ia tahu bagaimana hancurnya rumah tangga anaknya sebelumnya, mungkin saat ini bukan kesembuhan yang ia harapkan melainkan kematian Firhan.
“Iya, Ayah. Terimakasih sudah tinggal beberapa hari di sini.” jawab Firhan. Kedua pria itu lalu berpelukan kian erat.
Dan di susul dengan Peny yang juga berpamitan pada sang menantu.
“Kak, segera sembuh yah? Kami pulang dulu. Jaga keponakan aku baik-baik.” Stella mencium punggung tangan Firhan dan di balas usapan tangan oleh Firhan di kepalanya.
Hingga tiba-tiba senyumnya menghilang usai mendengar ucapan sang suami.
“Setelah aku sehat kita perika ke dokter kandungan yah, Niah?” Gugup dan syok, Zaniah tak bisa berkata apa pun lagi.
Ia menoleh menatap wajah sang suami. “Em itu Mas…” belum usai ia menjawab, Wuri sang mertua juga ikut bersuara.
“Iya kamu benar, Firhan. Niah, kandungan kamu masih kecil dan rentan. Jadi kalian harus ekstra was-was memantau perkembangan bayi kalian.” Zaniah tersenyum tanpa bisa menjawab apa pun.
Matanya menatap pada tangan sang mertua yang ia letakkan pada punggung tangan sang mertua.
__ADS_1
Inilah yang Zaniah tidak suka, Wuri suka sekali ikut campur dengan urusan keluarga mereka.
“Paling tidak kita usg dulu, Mas sungguh penasaran dengan bentuk bayi pertama berkembang itu.” Firhan berucap dengan wajah antusiasnya.
“Bahkan kamu sudah pernah melihatnya, Mas di perut Zeni.” Hanya ucapan dalam hati yang sanggup Zaniah suarakan tanpa terdengar siapa pun.
Tak terasa perjalanan yang mereka tempuh akhirnya berakhir di depan rumah Firhan. Dimana mereka semua turun dengan masing-masing menuju ke dalam kecuali Firhan yang bergandengan tangan dengan Zaniah.
“Niah, itu di dapur sudah Mamah siapkan beberapa rasa susu ibu hamil. Jangan lupa di minum yah? Mamah dan Papah harus segera pulang.” Zaniah pun mengantar kepergian dua mertuanya usai mendudukkan Firhan di sofa.
Seketika rumah terdengar sunyi setelah kepergian Wuri dan Dika.
Di rumah itu, Firhan membaringkan tubuhnya di tempat tidur meski sebelumnya mereka sempat berdebat.
“Niah, kenapa Mas merasa pernah tidur di kamar itu? Apa kita pindah kamar?” tanya Firhan yang bingung saat melihat kamar dimana Lillia pernah tinggal.
Rasanya dada Zaniah bergemuruh hebat mendengar ucapan sang suami. Namun, mengingat demi keutuhan pernikahan mereka, dengan lembut Zaniah berkata.
“Mas, kamu hanya pernah mengganti lampu di kamar itu. Aku yang minta waktu itu. Sebab terlalu lama kosong kan jadi menakutkan. Ini kamar kita dari awal sampai sekarang.” suara yang lembut membuat Firhan tersenyum.
“Aku nggak akan biarkan kalian bersama lagi, Mas. Sudah cukup semuanya selama ini. Zeni harus pergi sejauh mungkin dari hidup bahkan pikiran kamu,” ujar Zaniah dalam hatinya menatap Firhan yang memejamkan mata di depannya saat ini.
__ADS_1