Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Menikmati Waktu


__ADS_3

Senja kembali menyapa di desa tempat tinggal Lillia saat ini. Melewati masa kehamilannya bersama sang nenek yang sudah begitu baik menerima kehadiran wanita asing itu.


Kilau cahaya mentari berwarna jingga terpantul dalam bola mata indah milik Lillia yang berembun.


“Sebentar lagi kamu akan lahir ke dunia, Nak. Dalam hitungan minggu kita akan bertemu. Kita akan hidup bertiga dalam waktu yang lama. Kelak bunda harap kamu akan bahagia terlahir dari rahim wanita lemah ini yah?” Elusan lembut di tangan Lillia terus bergerak mengusap perut buncitnya yang kian membesar.


Air mata kepedihan tanpa tertahan jatuh begitu saja. Lillia terisak dalam diamnya.


“Zeni, kok malah duduk di luar sih? Sudah maghrib nggak bagus duduk di luar rumah. Kamu sedang hamil.” Seorang wanita tua menghampiri Lillia sembari mengusap punggung tangannya.


“Nenek, ayo masuk.” Lillia mengusap cepat air matanya dan menggandeng wanita tua itu masuk ke dalam rumah. Keduanya menutup pintu rumah dan menuju ruang tengah.


Hanya ada televisi model lama dan lampu yang tidak begitu terang namun cukup menghidupkan suasana rumah sederhana itu.

__ADS_1


Sungguh berat semua yang Lillia lewati selama kehamilan. Hidup yang serba pas-pasan membuatnya harus kuat bekerja tanpa kenal lelah.


“Kita solat baru makan sama-sama yah?” Anggukan kepala Lillia berikan pada sang nenek.


Berbeda halnya dengan keadaan Firhan bersama Zaniah. Keduanya saling bahagia duduk di salah satu restaurant.


Gaun mewah membalut tubuh buncit milik Zaniah serta jas mewah juga melekat pada tubuh Firhan. Pasangan suami istri itu tampak saling melempar senyuman dikala melihat keadaan restaurant yang sangat romantis.


Pelan tangan Firhan menggenggam tangan mungil sang istri.


“Mas, aku jauh lebih mencintaimu. Aku bahagia sekali saat ini, kamu suami terbaik yang aku miliki.” Kata-kata romantis terus saling mereka ungkapkan.


Sumpah demi apa pun Zaniah begitu bersyukur dengan keberuntungan yang berpihak padanya saat ini. Tak pernah ia duga jika kemenangan ternyata berpihak kepadanya.

__ADS_1


“Aku akan terus memperjuangkan hak ku sebagai istri yang selayaknya memiliki suami dengan utuh. Kita akan bahagia bersama ayah kamu, Nak.” batin Zaniah menatap perut buncitnya saat ini.


Firhan yang melihat sang istri hanya tersenyum segera menyendokkan sesuap makanan. Sontak perhatian itu membuat Zaniah terkejut. Bahagia ia menerima suapan sang suami.


Keduanya menghabiskan malam dengan suasana yang manis. Hingga kepulangan Firhan dan Zaniah di sambut oleh seorang wanita paruh baya.


“Astaga…Firhan. Kamu bawa kemana Zaniah? Lihat, ini sudah malam. Kalian ini sudah mamah bilang jangan keluar malam-malam. Niah, kamu nggak ingat yah kalau sedang hamil besar? Diam di rumah beberapa bulan lagi apa nggak bisa? Kalau terjadi apa-apa sama cucu mamah bagaimana?” Tatapan kesal terlihat jelas di wajah Wuri saat ini.


Kekesalan yang serius membuat Firhan tak berani bersuara sekedar membela sang istri.


“Mah, kita bicara di dalam yuk, Zaniah pasti sudah lelah.” Wuri tampak menghela napas kasar lalu melangkah masuk mendahului keduanya dengan kaki yang ia hentakkan kasar ke lantai.


Zaniah yang melihat tingkah sang mertua hanya bisa menghela napas kasar dan mengikuti langkah Firhan.

__ADS_1


Hanya kata sabar yang bisa mereka lakukan saat ini sampai menanti hari dimana kelahiran sang buah hati yang sudah Zaniah rencanakan dengan baik.


__ADS_2