Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Merawat Istri


__ADS_3

Makan siang berlangsung dengan hening, Zaniah yang sadar akan masalah di pernikahannya pun tampak berusaha baik-baik saja. Bagaimana mungkin ia pulang ke rumah dengan keadaan sedih? Bisa-bisa kedua orangtuanya akan mencurigai masalah dengan Firhan. Tidak, Zaniah tidak mau sampai kedua orangtuanya mengetahui hal ini.


"Zaniah, bagaimana dengan sahabatmu dulu. Apa masih belum ketemu? Siapa namanya, Bu?" tanya sang ayah yang spontas membuat Zaniah tersedak makanannya.


"Ya ampun, ini minum dulu. Kalau makan hati-hati, Nak." ujar sang ibu mengusap pundak Zaniah. Lalu ia pun  menjawab pertanyaan sang suami.


"Lillia Zeni kah, Ayah? iya Ibu juga tidak pernah mendengar kamu menyebut namanya? Apa tidak ketemu juga sampai sekarang?" tanya Penny yang membuat Zaniah terdiam beberapa saat.


Raut wajah sedih sang anak tampaknya menimbulkan kesalah pahaman di antara kedua orangtuanya. "Yang sabar sayang, Jika dia masih ada Tuhan pasti akan mempertemukan kalian. Kalian itu sahabat yang saling menyayangi pasti tidak akan mungkin terpisah selamanya." ucap sang ibu sontak saja membuat Zaniah hanya bisa membatin.


"Kalau mau biar ayah bantu kerahkan orang untuk  mencari Lillia, Zaniah. Rasanya tidak sulit jika ia  masih berada di negara ini sama dengan kita." ujar sang ayah membuat Zaniah menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak usah, Ayah. Zaniah baik-baik saja, terakhir mendengar kabarnya dari seseorang, ia sudah menikah dan hidup bahagia. Mungkin itu sebabnya sampai lupa dengan Zaniah." ucapan Zaniah membuat semua yang ada di meja makan tampak mengerutkan keningnya.


Rasanya tidak mungkin seperti itu, sebab dari dulu sekian lama bersahabat dengan anaknya, Lillia tak pernah menunjukkan sikap tidak baiknya pada kedua orangtua Zaniah, ia selalu setia menemani sang anak apa pun yang Zaniah minta tolong dengan senang hati Lillia selalu membantunya, begitu pun juga dengan sebaliknya.


"Masa sih dia begitu?" tanya Penny ragu.


Zaniah secepat mungkin mengalihkan topik pembicaraan dengan meminta makannya di tambahkan. "Ibu, tolong ambilkan itu. Zaniah lapar." tuturnya menghabiskan semua makanan di piringnya dan tentu saja hal itu membuat semua merasa lega. Setidaknya Zaniah baik-baik saja dengan makan lahap.

__ADS_1


Hingga menjelang malam akhirnya Zaniah memilih untuk beristirahat. Ingin pulang ke rumah rasanya tidak mungkin tubuhnya merasakan lelah yang luar biasa.


"Mas, aku menginap di rumah Ibu boleh? Tubuhku lelah sekali." keluhnya saat mengirimkan pesan pada sang suami.


Di seberang sana Firhan yang tengah makan di temani Lillia akhirnya membaca pesan singkat sang istri. "Iya, tidak apa-apa atau kamu mau Mas yang menjemput? Kebetulan besok Mas tidak masuk kerja paginya. Agak siang baru ke kantor." ujar Firhan yang menawarkan pada sang istri untuk menjemput.


Namun, balasan pesan itu membuat Zaniah enggan merepotkan sang suami dan akhirnya memilih menolak saja. Toh hubungannya dengan Lillia sudah membaik dan ia sudah percaya pada sang suami dan juga sahabatnya.


"Zaniah tidak pulang, katanya lelah. Sekarang kamu istirahat yah? Mas mau ke ruang kerja dulu." ujar Firhan usai menyudahi makan malamnya.


"Baik, Mas." jawab Lillia dengan lembut dan patuh.


Seperginya Firhan, Lillia merasa matanya masih belum mengantuk, ia pun memilih membersihkan dapur, membersihkan bahan masakan yang akan ia masak besok pagi hingga semua keadaan rumah nampak bersih.


Pelan-pelan matanya terpejam ia buka kembali. Rasa mual di perutnya mendadak mengganggu rasa kantuk yang mulai datang.


Suara muntahan terdengar beberapa kali menggema di kamar mandi ruang dapur. Bahkan beberapa saat pemilik suara itu masih belum juga keluar dari kamar mandi.


Bersamaan dengan sosok pria yang masuk ke dapur hendak mengambil air minum, keningnya tampak mengenyit mendengar suara orang muntah.

__ADS_1


"Lillia? Lia?" Firhan yang sadar dengan suara Lillia akhirnya menggedor pintu kamar mandi.


"Mas," sapa wanita itu dengan wajah lemas usai mengeluarkan seluruh isi perutnya di tengah malam.


"Lia, apa yang kamu lakukan? Kamu muntah? Sakit? Kita ke rumah sakit saja yah?" tutur Firhan begitu cemas ingin membawa sang istri ke rumah sakit saat itu juga.


Namun, Lillia menggeleng dan menggenggam tangan Firhan agar tidak menyiapkan apa pun. "Tidak, Mas. Ini bukan sakit tapi mual bawaan bayi sepertinya. Aku hanya mau ke kamar saja, Mas." tuturnya ingin melangkah namun tubuhnya yang lemas sontak membuat Lilllia terjatuh dalam tangan Firhan yang sigap menangkapnya.


"Lia," Firhan sangat panik melihat wanita yang ia papah saat ini.


"Aku mau istirahat saja mas." Berusaha kuat Lillia bangun dan berjalan sendiri, namun Firhan merasa tak yakin. Ia pun berinisiatif untuk membantu Lillia ke kamar dan menemaninya.


"Mas pergilah dari sini." ujar Lillia enggan berdua di kamar itu.


Firhan menggeleng. "Tidak, tidurlah secepatnya. Mas akan pastikan kamu baik-baik saja baru Mas pergi." ujar Firhan lembut. Tak ada lagi wajah datar dan cueknya pada istri kedua itu.


Belum saja mata Lillia terpejam ia kembali berlari menuju kamar mandi memuntahkan isi perutnya. Di sana Firhan dengan setia memijat leher wanita itu di kamar mandi. Di papahnya kembali Lillia ke tempat tidur dan menyelimutinya.


"Tidurlah, biar Mas berikan minyak kayu putih di tubuhmu." Ingin menolak, Lillia urung saat Firhan kembali berkata.

__ADS_1


"Ijinkan Mas melakukan kewajiban sebagai suami. Setidaknya ada yang Mas lakukan dari sekian banyak kewajiban suami yang tidak Mas berikan pada kamu istri Mas." Pelan Lillia hanya pasrah saat lehernya di baluri oleh minyak kayu putih serta telapak tangan kening dan telapak kaki.


Hingga tanpa sadar Lillia terlelap di temani sang suami di sampingnya.


__ADS_2