Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Menunggu Hari Esok


__ADS_3

Terasa


seperti mendengar candaan yang sangat menggelikkan, Lillia Zeni terkekeh


mendengar ucapan sang sahabat kala itu. Ia menggelengkan kepala lalu mengusap


wajahnya pelan. Tangannya bergerak memeluk tubuh sang sahabat yang begitu


rapuh. Ia tahu Zaniah tengah sangat rapuh saat ini, dan yang ada di dalam


pikiran Lillia Zeni sang sahabat hanya berusaha menghibur dirinya sendiri demi


menolak kenyataan yang pahit itu.


"Aku


tahu ini sangat sulit, Zan. Tapi percayalah kamu dan Mas Firhan pasti akan bisa


melewati ini semua. Kalian berdua harus tetap kuat saling berpegangan. Jangan


sampai goyah. Aku pasti akan selalu mendukung dan mendoakan kalian


berdua." tutur Lillia Zeni dengan penuh pengertian.


Berharap


setelah ini sang sahabat tidak akan mengatakan hal yang gila menurutnya.


Menikah dengan suami sahabat sendiri, sungguh itu bukanlah pilihan yang di


benarkan. Meski Lillia Zeni sendiri sangat membutuhkan figur seorang suami di


masa kehamilannya kelak. Namun, pikirannya tentu masih sangat waras untuk


memutuskan sesuatu.


"Tidak,


Zen. Semua jalan ada di kamu. Aku mohon dengan sangat bantu aku, Zen. Aku tahu


bagaimana mertuaku. Apa pun yang di lakukan Mas Firhan pasti tidak akan benar


menurutnya selain menuruti permintaannya untuk menikahi wanita itu. Aku mohon


sekali, Zen. Menikahlah dengan Mas Firhan, jadikan Mas Firhan dan aku sebagai


ibu dari anakmu. Aku berjanji akan sangat menyayangi anak mu itu. Aku mohon,


Zen. Setidaknya Mas Firhanlah yang menjadi ayah untuk anak yang akan kami jaga


nanti."


Lillia Zeni

__ADS_1


menunduk mendengar permohonan sang sahabat. Jujur dalam hatinya saat ini mulai


merasakan sesuatu. Anak dalam kandungannya adalah anak yang akan memiliki


kehidupan yang panjang lebih darinya. Lillia Zeni berpikir sangat panjang


hingga akhirnya ia merasa kini dirinya tak boleh menjadi wanita yang hanya


memikirkan dirinya sendiri. Ia adalah calon ibu yang wajib memiliki pikiran


yang mengutamakan seorang anak.


"Zen...aku


mohon." Zaniah menggenggam tangan Lillia Zeni setelah melepaskan


pelukannya itu. Ia menatap dalam wajah sang sahabat penuh harapan.


"Beri


aku waktu, Zaniah. Ini sangatlah besar masalahnya. Aku tidak bisa hanya


mendengar permohonan mu. Banyak yang harus aku pikirkan lagi. Dan sebaiknya kau


pulanglah di luar sudah sangat malam bahaya jika kau tidak segera pulang.


Bicarakan ini semua dengan kepala dingin bersama Mas Firhan, Zan." Lillia


Zaniah


sangat berat mengatakan iya pada sang sahabat. Perasaannya masih terasa sangat


sakit dan butuh teman untuk berbicara, namun keadaan Lillia Zeni saat ini juga


tengah tidak baik. Sebab itulah dengan berat hati Zaniah menganggukkan kepala.


Sungguh ia sangat ingin bertahan di rumah sederhana sang sahabat malam ini


saja, Zaniah tahu jika pun ia kembali ke rumah kemungkinan ia akan menangis


seorang diri tanpa ada teman bicara.


Satu-satunya


tempatnya ia mencurahkan isi hatinya hanya Lillia Zeni. Namun, malam ini


sepertinya keadaan tidak memungkinkan.


"Baiklah,


Zen. Aku pulang dulu. Besok aku akan datang bersama Mas Firhan untuk


mendengarkan ucapanmu. Aku mohon dengan sangat bantu aku kali ini sebagai

__ADS_1


sahabatmu, Zen. Aku tidak akan melupakan jasamu pada kami selamanya."


Lillia hanya


dia memejamkan mata sedetik lalu ia mengusap air matanya dan mengantar Zaniah


pergi ke depan pintu. Ia tahu hati Zaniah sehancur apa saat ini, namun ia juga


tidak kuasa mengingat permintaan sang sahabat. Bagaimana pun mereka sama-sama


perempuan, mereka sama-sama memiliki hati yang mudah rapuh. Lillia sangat paham


bagaimana bingung dan takutnya Zaniah saat ini.


"Berhati-hatilah."


Lillia menutup pintu usai sang sahabat melajukan mobil tanpa mengatakan apa pun


lagi.


Malam yang


semakin larut bahkan embun yang mulai deras membasahi bumi tampak menjadi


penggiring perjalanan Zaniah pulang ke rumah malam itu. Sungguh sangat


menyakitkan, di kala hati dan tubuh tak sanggup lagi melakukan apa pun. Zaniah


harus kuat mengemudikan mobil seorang diri.


Hingga


beberapa kali wanita itu menepikan mobil di tepi jalan saat tak kuasa menahan


sakit di dadanya.


"Ibu,


Ayah...mengapa semua harus seperti ini? Mengapa Zaniah yang mendapat takdir


seperti ini? Zaniah sakit, Ayah. Zaniah tak kuat lagi, Bu." ia beberapa


kali memukul dadanya yang sulit untuk tenang. Sakit dan sesak terus menghimpit


dada wanita itu.


Berbeda


dengan sosok Firhan yang berada di hotel. Pikiran yang membuatnya pusing, hati


yang sangat sakit, dan tubuh yang lelah justru membuatnya tertidur panjang


tanpa sadar dengan apa yang akan ia hadapi hari esok.

__ADS_1


__ADS_2