
Terasa
seperti mendengar candaan yang sangat menggelikkan, Lillia Zeni terkekeh
mendengar ucapan sang sahabat kala itu. Ia menggelengkan kepala lalu mengusap
wajahnya pelan. Tangannya bergerak memeluk tubuh sang sahabat yang begitu
rapuh. Ia tahu Zaniah tengah sangat rapuh saat ini, dan yang ada di dalam
pikiran Lillia Zeni sang sahabat hanya berusaha menghibur dirinya sendiri demi
menolak kenyataan yang pahit itu.
"Aku
tahu ini sangat sulit, Zan. Tapi percayalah kamu dan Mas Firhan pasti akan bisa
melewati ini semua. Kalian berdua harus tetap kuat saling berpegangan. Jangan
sampai goyah. Aku pasti akan selalu mendukung dan mendoakan kalian
berdua." tutur Lillia Zeni dengan penuh pengertian.
Berharap
setelah ini sang sahabat tidak akan mengatakan hal yang gila menurutnya.
Menikah dengan suami sahabat sendiri, sungguh itu bukanlah pilihan yang di
benarkan. Meski Lillia Zeni sendiri sangat membutuhkan figur seorang suami di
masa kehamilannya kelak. Namun, pikirannya tentu masih sangat waras untuk
memutuskan sesuatu.
"Tidak,
Zen. Semua jalan ada di kamu. Aku mohon dengan sangat bantu aku, Zen. Aku tahu
bagaimana mertuaku. Apa pun yang di lakukan Mas Firhan pasti tidak akan benar
menurutnya selain menuruti permintaannya untuk menikahi wanita itu. Aku mohon
sekali, Zen. Menikahlah dengan Mas Firhan, jadikan Mas Firhan dan aku sebagai
ibu dari anakmu. Aku berjanji akan sangat menyayangi anak mu itu. Aku mohon,
Zen. Setidaknya Mas Firhanlah yang menjadi ayah untuk anak yang akan kami jaga
nanti."
Lillia Zeni
__ADS_1
menunduk mendengar permohonan sang sahabat. Jujur dalam hatinya saat ini mulai
merasakan sesuatu. Anak dalam kandungannya adalah anak yang akan memiliki
kehidupan yang panjang lebih darinya. Lillia Zeni berpikir sangat panjang
hingga akhirnya ia merasa kini dirinya tak boleh menjadi wanita yang hanya
memikirkan dirinya sendiri. Ia adalah calon ibu yang wajib memiliki pikiran
yang mengutamakan seorang anak.
"Zen...aku
mohon." Zaniah menggenggam tangan Lillia Zeni setelah melepaskan
pelukannya itu. Ia menatap dalam wajah sang sahabat penuh harapan.
"Beri
aku waktu, Zaniah. Ini sangatlah besar masalahnya. Aku tidak bisa hanya
mendengar permohonan mu. Banyak yang harus aku pikirkan lagi. Dan sebaiknya kau
pulanglah di luar sudah sangat malam bahaya jika kau tidak segera pulang.
Bicarakan ini semua dengan kepala dingin bersama Mas Firhan, Zan." Lillia
Zaniah
sangat berat mengatakan iya pada sang sahabat. Perasaannya masih terasa sangat
sakit dan butuh teman untuk berbicara, namun keadaan Lillia Zeni saat ini juga
tengah tidak baik. Sebab itulah dengan berat hati Zaniah menganggukkan kepala.
Sungguh ia sangat ingin bertahan di rumah sederhana sang sahabat malam ini
saja, Zaniah tahu jika pun ia kembali ke rumah kemungkinan ia akan menangis
seorang diri tanpa ada teman bicara.
Satu-satunya
tempatnya ia mencurahkan isi hatinya hanya Lillia Zeni. Namun, malam ini
sepertinya keadaan tidak memungkinkan.
"Baiklah,
Zen. Aku pulang dulu. Besok aku akan datang bersama Mas Firhan untuk
mendengarkan ucapanmu. Aku mohon dengan sangat bantu aku kali ini sebagai
__ADS_1
sahabatmu, Zen. Aku tidak akan melupakan jasamu pada kami selamanya."
Lillia hanya
dia memejamkan mata sedetik lalu ia mengusap air matanya dan mengantar Zaniah
pergi ke depan pintu. Ia tahu hati Zaniah sehancur apa saat ini, namun ia juga
tidak kuasa mengingat permintaan sang sahabat. Bagaimana pun mereka sama-sama
perempuan, mereka sama-sama memiliki hati yang mudah rapuh. Lillia sangat paham
bagaimana bingung dan takutnya Zaniah saat ini.
"Berhati-hatilah."
Lillia menutup pintu usai sang sahabat melajukan mobil tanpa mengatakan apa pun
lagi.
Malam yang
semakin larut bahkan embun yang mulai deras membasahi bumi tampak menjadi
penggiring perjalanan Zaniah pulang ke rumah malam itu. Sungguh sangat
menyakitkan, di kala hati dan tubuh tak sanggup lagi melakukan apa pun. Zaniah
harus kuat mengemudikan mobil seorang diri.
Hingga
beberapa kali wanita itu menepikan mobil di tepi jalan saat tak kuasa menahan
sakit di dadanya.
"Ibu,
Ayah...mengapa semua harus seperti ini? Mengapa Zaniah yang mendapat takdir
seperti ini? Zaniah sakit, Ayah. Zaniah tak kuat lagi, Bu." ia beberapa
kali memukul dadanya yang sulit untuk tenang. Sakit dan sesak terus menghimpit
dada wanita itu.
Berbeda
dengan sosok Firhan yang berada di hotel. Pikiran yang membuatnya pusing, hati
yang sangat sakit, dan tubuh yang lelah justru membuatnya tertidur panjang
tanpa sadar dengan apa yang akan ia hadapi hari esok.
__ADS_1