Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Pergi Atau Tetap ?


__ADS_3

Suasana yang semula menegangkan seiring berjalannya jam di dinding semakin tampak terasa tenang. Hingga waktu menjelang siang, entah apa yang membuat Firhan berani mendaratkan bibirnya di ceruk leher Lillia. Mata yang semula terpejam sontak terbuka. Lillia sungguh terkejut mendapatkan perlakuan itu dari Firhan. Ingin menolak, ia malu untuk menunjukkan dirinya tengah sadar.


Semakin Lillia diam, tangan Firhan justru semakin bergerak menggerayangi tubuhnya hingga bergerak ke arah depan.


"Mas, hentikan." Tiba-tiba saja Lillia berani bersuara. Merasa apa yang Firhan lakukan sungguh tidak benar, namun mengingat keadaan mereka saat ini yang polos rasanya semua yang terjadi sudah tidak ada benarnya.


"Lia, tolong Mas. Rasanya begitu menyiksa..."


Hingga semua yang tidak di inginkan terjadi begitu saja. Keadaan polos Firhan nyatanya sudah membuat semua menjadi mudah. Tak ada paksaan di antara keduanya, bahkan Lillia yang semula ingin menolak justru begitu menikmati permainan yang pertama kalinya ia rasakan. Begitu pula dengan Firhan yang merasakan permainan saat ini terasa seperti berhubungan dengan seorang gadis.


Tentu saja rasanya berbeda, sebab Lillia tidak pernah berhubungan dengan siapa pun selain pria yang menanam benih di rahimnya saat ini. Bahkan itu terjadi hanya satu kali tanpa dia sadari.


Beberapa kali Firhan tampak bersuara hingga akhirnya ia mendapatkan pelepasan. Keduanya sama-sama terkulai puas dengan penyatuan yang terjadi di luar kendali mereka. Merasa bersalah, tentu saja. Firhan dan Lillia sama-sama telah menghianati Zaniah. Namun, pernikahan antara mereka nyatanya tak membuat hubungan keduanya melakukan dosa. Sebab suami istri patut saling memberikan nafkah batin.


"Mas..." Manik mata Lillia menatap dalam netra mata sang suami. Firhan masih memeluk tubuh Lillia saat ini. Pelan pria itu mengecup kening Lillia penuh sayang.


"Melakukan atau pun tidak, kita sama-sama berdosa. Bahkan tidak melakukan akan sangat jauh berdosa. Kita sah dalam agama dan hukum, Lia." sahut Firhan yang tidak ingin mendengar apa pun dari bibir istri keduanya.


Lillia pun sadar setelah mendengar penuturan sang suami. Ia pun kini memilih diam saja tanpa berucap apa pun lagi.


"Kamu sudah baikan?" tanya Firhan sengaja mengalihkan pembicaraan. Agaknya ia ingin rasa canggung antar mereka hilang berganti menjadi hubungan yang semestinya.

__ADS_1


Lillia tak bersuara memilih hanya mengangguk saja. Ia pun memejamkan mata kembali merasa lemas ingin bangun. Sementara Firhan harus segera membersihkan diri.


"Ayo mandi," ajaknya. Melihat Lillia yang nampak lemas, Firhan tahu apa yang seharusnya ia lakukan saat ini. Tubuhnya bangkit dari kasur kemudian menggendong tubuh Lillia ke kamar mandi.


"Mas," pekiknya sangat terkejut melihat Firhan sudah menggendong tubuhnya.


"Kita mandi bersama, jangan protes."


Tiba di kamar mandi yang berukuran kecil, Firhan seketika miris melihat kamar sang istri yang jauh berbeda dari kamarnya dan Zaniah. Hanya ada shower yang menggantung di sana serta sabun mandi seadanya. Tentu ini harus ia pikirkan kedepan untuk bersikap lebih adil.


"Mas, kita sudah melewati batas." ujar Lillia pelan namun masih dapat terdengar jelas oleh Firhan.


"Mas akan bertanggung jawab atas semuanya. Mas tidak akan melupakan semuanya begitu saja, Lia." ujar Firhan yang terdengar ambigu di telinga Lillia. Apa maksud ucapannya barusan? Apakah Firhan akan mempertahankan pernikahan mereka secara diam-diam? atau Firhan akan mengakui semuanya pada Zaniah? Namun, rasanya Lillia terlalu percaya diri jika pria di hadapannya ini menaruh rasa cinta padanya.


Usai mandi, keduanya memakai pakaian masing-masing di kamar yang berbeda. Hingga sore menjelang, Firhan baru selesai membantu Lillia untuk menyiapkan makan malam. Satu hari tanpa Zaniah, keduanya begitu mesra selalu bersama di sudut rumah mana pun. Hingga saat Firhan dan Zaniah tengah tertawa di ayunan kolam renang, suara klakson mobil terdengar berbunyi.


"Mas,itu Zaniah." ujar Lillia seketika gugup. Ia bergegas meninggalkan Firhan dan menuju pintu utama untuk menyambut sang sahabat.


"Zan," sapanya tersenyum kaku.


"Hei, bagaimana? baby sehat? Kamu tidak mual parah?" tanya Zaniah ramah pada Lillia.

__ADS_1


Mendapatkan pelukan di bahu, Lillia seketika diam. Ia merasa bersalah telah mengkhianati sahabatnya sendiri. Ingin rasanya Lillia meneteskan air mata saat ini, namun Zaniah lebih dulu bersuara. "Dimana Mas Firhan? katanya seharian dia nggak mau ke kantor yah?" tanya Zaniah berusaha mencari sosok sang suami.


"Niah?" Firhan datang mendekati sang istri. Tatapan matanya sekilas beralih melirik Lillia yang kebetulan juga menatapnya.


Secepat kilat Lillia pun mengalihkan pandangannya ke arah bawah.


"Mas, kita ke kamar yuk. Aku lelah." keduanya tampak bergandengan tangan meninggalkan Lillia seorang diri. Ada perasaan sesak di dada Lillia melihat hal itu. Jika setengah hari ia menghabiskan waktu bersama Firhan sungguh bahagia, kini ia harus bangun dari mimpi indah itu. Harus menyadarkan diri siapa ia sebenarnya.


Hingga menjelang malam keadaan rumah tampak hening. Lillia duduk makan sendiri tanpa ada yang menemaninya. Tangannya sebelah menyuapi makan dan sebelah lagi mengelus perutnya. Air mata tanpa terasa jatuh di kedua pipi Lillia.


"Ibu benar-benar ibu yang hina untuk kamu, Nak. Ibu sudah terlalu jauh menjalani peran." sesalnya dalam hati, bagaimana bisa Lillia terbawa suasana saat bersama Firhan dan melupakan statusnya yang sebagai sahabat Zaniah?


"Ueeekk..." muntah yang tak bisa ia tahan seketika membuat Zaniah meninggalkan makan dan berlari ke wastafel dapur.


Memuntahkan seluruh isi perut lalu membersihkan wajah, tanpa Lillia sadari jika dari arah belakang ada sosok yang tiba-tiba memeluknya erat.


"Ya Allah." pekiknya kaget.


"Mas Firhan?" mata Lillia membulat kaget dan melepaskan rangkulan yang ia kira sebuah pelukan.


"Kamu pasti lemas, ayo Mas antar ke kamar. Setelah itu Mas ke kamar membawa makan untuk Zaniah." tuturnya lembut.

__ADS_1


Sontak saja mendengar nama sahabat di sebut, Lillia pun sadar akan posisinya. Ia melepaskan rangkulan itu dan berjalan cepat meninggalkan Firhan.


Di dalam kamar, Lillia menangis meringkuk dalam selimut tebal. Pikirannya kembali menimbang akankah ia tetap melanjutkan semua ini atau pergi meninggalkan kesepatakan bersama Zaniah?


__ADS_2