
Kecemasan di wajah Firhan semakin bertambah kala mendengar keterangan tetangga yang mengatakan jika sang istri berada di rumah sedari tadi usai keluar sebentar. Tak sabar menunggu akhirnya pria itu memutuskan untuk mendobrak pintu rumah sang istri. Beberapa kali tubuhnya ia hempaskan pada daun pintu itu hingga akhirnya Firhan berhasil mendobraknya bersamaan dengan pintu yang juga terbuka lebar.
Matanya yang ingin mengedar ke arah sudut rumah itu terhenti kala menyadari ada tubuh yang tergeletak di bawah saat ini. Sepasang manik mata Firhan membuka lebar melihat Lillia sudah terbaring dengan sekitar yang kotor karena muntahannya. Tanpa rasa jijik bahkan ia menggendong tubuh sang istri keluar dari rumah.
"Lia, Lillia, bangun. Lia bangun." beberapa kali pun ia berteriak namun tak juga mendapatkan respon. Hingga Firhan memutuskan untuk membawa Lillia ke rumah sakit.
Menyetir sendiri membuatnya kesulitan untuk konsentrasi melihat sang istri dan juga jalanan. Tak terasa Firhan sampai mengeluarkan keringat begitu banyak di keningnya lantaran terlalu cemas memikirkan sang istri. Wajah pucat dari Lillia membuatnya sangat takut. Jika sampai terjadi sesuatu pada wanita ini, tentu saja ia merasa menjadi orang yang paling bersalah.
Membiarkan sang istri tinggal sendiri tanpa ada yang menemani bahkan dirinya pun sebagai suami tak bisa bertanggung jawab menjadi suami yang siaga.
__ADS_1
Sepanjang jalan Firhan terus merutuki dirinya sendiri. "Bodoh, kamu bodoh Firhan. Ini istrimu tidak seharusnya kamu tinggalkan dia sendiri di rumah itu. Keadaannya sedang hamil, kamu malah membiarkannya tinggal seperti orang yang memiliki virus." umpatnya dalam hati.
Singkat waktu cerita akhirnya mobil yang di kendarai pria itu pun tiba di rumah sakit. Dimana Firhan segera turun dan menggendong tubuh lemah Lillia Zeni. Membawanya langsung ke UGD dan meminta sang dokter untuk memeriksa keadaan sang istri. Bolak balik Firhan berusaha menenangkan diri, pria itu tampak sangat gelisah.
Bahkan dering ponsel yang terus terdengar tak membuat pria itu buyar dari paniknya. Firhan memilih acuh dengan ponselnya. Saat ini ada Lillia yang seharusnya menjadi nomor satu untuknya.
Di seberang sana Zaniah begitu marah. Ia marah sebab panggilan darinya tak juga di jawab oleh Firhan. Memikirkan jika Lillia pasti sedang berbuat sesuatu pada sang suami hingga membuat Firhan acuh padanya. Zaniah tak bisa tenang saat ini. Dirinya yang mengakui sedang hamil masih juga tak membuat Firhan mengutamakan dirinya, tidak ini tidak bisa di biarkan.
Tak butuh waktu lama wanita itu pun tiba di rumah yang menurutnya tak ingin lagi ia injakkan kaki di sana. Melihat keadaan rumah yang sepi, Zaniah kembali menghubungi ponsel sang suami. Memastikan dimana mereka saat ini berada, sebab Zaniah bisa melihat tak ada orang mau pun mobil Firhan di rumah itu.
__ADS_1
"Kemana sih, Mas Firhan? beraninya mereka mengabaikan aku." umpatnya kembali ingin melajukan mobil.
Sayang, rencanan Zaniah untuk mencari sang suami dan Lillia Zeni harus ia urungkan sebab ponselnya kini sudah berdering. Senang rasanya mengira jika yang menghubungi adalah suaminya. Namun, di detik berikutnya Zaniah menghilangkan senyum kala melihat siapa yang menelpon. Dengan wajah malas wanita itu menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Halo, Mah?" ujarnya menjawab panggilan yang ternyata dari Wuri sang mertua.
"Niah, dimana kamu? Kata bibi kamu keluar sendiri naik mobil? Kemana ini sudah gelap. Tidak baik untuk wanita yang hamil muda. Pulang sekarang, Mamah di rumah."
"Tapi, Mah..." sambungan telepon sudah terputus sepihak. Zaniah menggeram kesal mendapati sang mertua yang menggagalkan rencananya. Bagaimana pun Zaniah tidak ingin Firhan menghabiskan banyak waktu bersama Lillia dan ia tak ingin sang suami semakin jatuh hati pada Lillia Zeni.
__ADS_1
Namun, di rumah ada sang mertua yang juga turut penting untuk ia menangkan hatinya. Dengan berat hati, Zaniah mengemudikan mobil kembali ke arah rumah untuk pulang menuruti perintah sang mertua.