
Di rumah sakit Firhan menunggu dengan perasaan cemas namun sampai setengah jam lamanya ia tak kunjung melihat kedua mata Lillia terbuka. Wanita yang ia cemaskan masih belum juga sadar dari pingsannya meski sang dokter mengatakan hanya kelelahan dan mengalami stress. Genggaman tangannya pun tak pernah lepas dari tangan sang istri. Beberapa kali ponselnya terus berdering masih juga tak di hiraukan oleh Firhan.
Panggilan telepon dari sang istri pertama dan ibu yang terus bergantian sungguh membuat kepala pria beristri dua itu ingin pecah.
"Halo. Ada apa, Bu?" tanyanya ketika panggilan ia angkat.
"Firhan dimana kamu?" Bu Wuri melontarkan pertanyaan kala sang anak sudah mengangkat panggilannya.
Belum sempat Firhan membuka mulut untuk menjawab, suara Zaniah sudah terdengar mengambil alih telpon itu. "Mas, di mana kamu? Kenapa nggak pulang? Pulang sekarang, Mas. Aku mau dekat sama kamu." Terlihat menyedihkan, Wuri merasa tidak tega.
Sebagai wanita yang pernah hamil, ia tahu ini adalah bawaan bayi. "Firhan cepat pulang. Zaniah pasti ngidam maunya dekat sama kamu itu." celoteh Wuri membuat Firhan di seberang sana memijat kepalanya sakit.
Bukan tak ingin pulang, namun keadaan Lillia di sini sangat membuatnya khawatir. Firhan terdiam tak menanggapi permintaan sang istri.
__ADS_1
"Mas, pulang sekarang." pintah Zaniah lagi, bahkan air matanya sudah menetes merasakan sakit kala melihat sang suami yang sama sekali tak bisa mengiyakan permintaannya.
Wuri melihat menantunya menangis mendekat, ia mengusap pelan kedua bahu Zaniah. "Sini biarkan Mamah yang bicara." tutur Wuri mengambil alih ponselnya.
Zaniah sudah tak bicara apa pun lagi, ia bahkan tampak sesenggukan.
"Firhan, pulang sekarang. Dimana kamu? Zaniah menangis." ujarnya bicara pelan pada sang anak.
Hingga akhirnya Wuri memberikan masukan jika mereka harus bertukar tugas. Firhan pun yang mendengar sang mamah sanggup menjaga Lillia memilih untuk segera pulang. Ia akan mengurus Zaniah dan sang mamah mengurus Lillia untuk sementara waktu.
***
"Niah," Firhan pun pulang dengan memanggil sang istri.
__ADS_1
Mendengar suara yang familiar, Zaniah beranjak dari duduknya, Ia meninggalkan sang mertua lalu memeluk tubuh Firhan. Rasa takut akan kehilangan tiba-tiba saja menyeruak di dalam dirinya. Firhan pun membalas pelukan istrinya.
"Sudah jangan menangis lagi." tuturnya membawa Zaniah ke dalam kamar meninggalkan sang mamah yang langsung bergegas ke rumah sakit.
Di dalam kamar Firhan pun tak di biarkan melakukan apa pun. Zaniah benar-benar menguasai Firhan. Ia memeluk erat tubuh sang suami dan memejamkan mata. Tak ingin bicara apa pun pada Firhan.
Berbeda dengan Zaniah yang sudah tenang, Firhan justru mencemaskan keadaan istri keduanya. Meski ada sang mamah yang berjanji akan menjaga Lillia di rumah sakit tetap saja ia tak bisa tenang begitu saja. Lillia adalah istrinya pasti akan sangat membutuhkan Firhan.
"Apa yang terjadi sama kamu, Lia? Kenapa sampai tidak sadarkan diri begitu saja masih tetap tidak mau menghubungi aku?" gumam Firhan bertanya-tanya.
Di sini orang yang tengah Firhan cemaskan akhirnya membuka kedua matanya bertepatan dengan kedatangan sang mamah mertua. Jika biasanya Wuri berwajah ramah menatap Lillia, kini tak adal lagi keramahan itu terlihat. Entah apa yang akan terjadi berikutnya. Lillia merasakan aura yang tidak biasa.
"Mamah," sapanya dengan suara takut-takut melihat kedatangan sang mertua. Mengingat kesalahannya begitu fatal telah membohongi Wuri dengan membawa pernikahannya dengan Firhan meski pun semua berdasarkan keinginan Zaniah.
__ADS_1