
Usai dengan
kesepakatan yang Zaniah katakan pada Firhan, kini semua duduk di ruang tengah
saat kedatangan seorang wanita yang tak lain adalah ibu dari Firhan.
Semua duduk
menyapa dengan senyuman pada wanita itu. Sebelumnya bahkan Wuri nampak kaget
mendapati sang menantu masih mau mencium punggung tangannya. Sebagai mertua dan
sebagai wanita, ia cukup paham jika menantunya akan marah padanya. Namun, Wuri
tetap akan melakukan yang menurutnya benar demi mendapatkan cucu.
“Firhan,
mamah rasa setelah pernikahanmu dengan Sela Agnes, kau tidak perlu menyewa
pembantu.” Tatapan sinis Wuri lemparkan pada sosok wanita cantik yang
menurutnya asing itu.
Bagaimana
pun ia tidak ingin ada wanita lain yang merusak rumah tangga anaknya bersama
Zaniah. Kecuali, Sela Agnes.
“Mah, Firhan
rasa cukup untuk Mamah mencampuri urusan pernikahan Firhan dan Zaniah. Bahkan
Sela pun tak berhak masuk rumah ini tanpa ijin dari Zaniah.” Firhan menatap
tajam wanita cantik di depannya kini.
Tak ada
wajah kaget dari Sela mendengar penuturan Firhan. Baginya, itu hanya hal kecil
yang akan suami lakukan di depan sang istri.
“Ternyata
kamu dari dulu nggak berubah, Firhan. Selalu jual mahal.” tutur Sela dalam
hatinya.
Wuri pun
tampak menghela napas saat matanya menatap tiga wanita di depannya bergantian.
Berbeda dengan Lillia Zeni yang sejak tadi hanya berani menundukkan kepalanya.
Ia sama sekali tak berniat ikut campur dalam pembicaraan itu.
Kalau saja
Zaniah dan Firhan mengijinkannya untuk ke dapur saja, itu mungkin akan jauh
lebih baik.
“Dan buang
jauh-jauh permintaan Mamah untuk pernikahan Firhan dengan Sela. Sebab, Firhan
rasa sudah cukup menikahi dua wanita.” Akhirnya Firhan melontarkan kata yang
sama sekali tidak ia inginkan itu usai mendapat anggukan kepala dari Zaniah.
Semakin
takut rasanya Lillia Zeni menampakkan wajah di depan mereka semua.
Wuri dan
Sela Agnes sama-sama membulatkan matanya serta tubuh yang ia tata dengan tegap.
Perkataan Firhan sangat tak di sangka.
“Apa maksud
kamu, Firhan?” Wuri bertanya namun wajahnya secepat kilat menoleh ke arah
Lillia Zeni yang duduk di sofa sebelah Zaniah.
Pelan ia menggelengkan
kepala. “Tidak. Kamu tidak mungkin menikahi wanita itu kan?” Pertanyaan Wuri
sayangnya mendapat jawaban dari Firhan dengan tegas.
“Namanya
Lillia, Mah. Yah, Firhan menikahinya sebab Firhan telah menghamilinya. Maaf,
__ADS_1
kami tidak memberi tahu Mamah.” Penuturan Firhan tanpa sengaja membuat Zaniah
menumpahkan air matanya begitu deras.
Ucapan sang
suami yang sudah di rencanakan entah mengapa membuatnya seolah membayangkan
kebenaran terjadi. Bagaimana pun Lillia Zeni akan di anggap istri Firhan oleh
semua orang.
“A-apa?
Hamil?” Ucapan Wuri dan Sela bersamaan.
Mata Wuri
bahkan merah berkabut seolah kaget dan penuh haru. Entah bisa di bilang ia
wanita jahat saat merasakan kebahagiaan di atas penderitaan sang menantu.
Namun, ini rasanya akan jauh lebih baik di bandingkan menikahkan Sela yang
mendapat penolakan keras dari Zaniah.
“Lillia,
jawab Mamah.” pintah Firhan dengan tegas.
Pelan Lillia
Zeni mengeluarkan suara. “I-iya, Nyonya. Saya hamil.” tutur Lillia dengan masih
menunduk. Kedua tangannya tampak saling meremas kuat menahan debaran jantung
yang kian berpacu cepat.
“Panggil
saya Mamah, dan tatap saya, Lillia.” tutur Wuri tak lagi menampakkan wajah
garang.
Hatinya
menghangat kala mendengar wanita di depannya kini tengah mengandung cucu
darinya.
“Mah, Zaniah
giliran bersuara. Sumpah demi apa pun ia sangat gelisah melihat Sela Agnes
begitu dekat dengan sang mertua.
Hingga
akhirnya Wuri pun menatap Sela Agnes dengan senyum di wajahnya. “Kamu tidak
keberatan kan, Sela? Tante sudah mendapatkan cucu.” tutur Wuri dengan tanpa
dosa memberikan harapan pada Sela Agnes.
Namun, mau
bagaimana lagi. Kini Sela pun hanya bisa menganggukkan kepala pasrah. Tidak
mungkin ia menuntut untuk tetap melanjutkan pernikahannya dengan Firhan.
Senyuman
kaku Sela berikan pada Wuri namun dalam hati ia bersumpah tak akan menerima
begitu saja tanpa mendapatkan apa pun. “Aku tidak mungkin membiarkan usahaku
sia-sia. Firhan harus tetap menjadi suamiku. Oke, kali ini kamu menang Zaniah.
Tapi wanita itu tidak akan mudah memberikan cucu untuk nenek tua ini.” batin
Sela di balik senyum palsunya.
Hingga
akhirnya mereka pun memutuskan untuk menghentikan pertemuan itu. Kepulangan
Sela dan Wuri membuat Zaniah bernapas lega.
“Mas,
maafkan aku yah?” Zaniah berbaring sembari memeluk tubuh suaminya di atas
tempat tidur.
Jam makan
siang mereka lewati lagi-lagi dengan masakan Lillia Zeni yang sangat enak.
__ADS_1
“Jangan
minta maaf. Mamah sudah keterlaluan, Mas yang seharusnya minta maaf. Tapi, apa
jalan ini tidak akan menjadi masalah kedepannya? Apa kamu yakin kuat dengan
status ini, Niah?” Pertanyaan Firhan mendapat anggukan cepat oleh Zaniah.
Bahkan
wanita itu mengangguk dengan tersenyum. “Iya, Mas. Aku akan menguatkan diriku
dari pada harus si Sela itu yang jadi istrimu.” tutur Zaniah tidak terima.
Firhan
mengeratkan pelukannya dan menciuk pucuk kepala sang suami. “Sambil menjalani
ini, ada baiknya kita sekalian tetap usaha punya anak, Sayang.” ujar Firhan
yang memang tetap menginginkan anak dari istrinya.
Zaniah hanya
mengangguk, karena ia sendiri pun sudah merasa lelah berusaha segala hal untuk
memiliki anak.
Satu bulan
pun berlalu semenjak pertemuan mereka dengan Wuri dan Sela. Kini di hari Firhan
akan melakukan perjalanan bisnis, ia memberi tahu sang mamah melalui sambungan
telepon.
“Iya,
Firhan.” Ucapan Wuri terdengar begitu hangat di seberang sana.
“Mah, Firhan
harus berangkat ke kota D jam 10 nanti. Kalau ada apa-apa kabari Firhan yah?
Salam buat papah juga.” ujarnya penuh perhatian.
Wuri
menganggukkan kepala di seberang sana. “Iya, Nak. Kalau begitu Mamah boleh dong
tetap main ke rumah kamu? Sekalian jengukin Lillia.” ujar Wuri dengan penuh
semangat.
Tanpa ia
sadari perasaan Firhan merasa ada yang tidak tepat. “Mah, nggak salah? Kok
Lillia? Zaniah Mah.” pintahnya pada sang mamah yang menurut pria itu salah
ucap.
Wuri
menghela napasnya. “Lillia kan yang hamil, Firhan. Zaniah pasti baik-baik saja
dong. Yasudah, kamu hati-hati di jalan. Nggak mau bawa salah satu istri kamu
gitu?”
“Nggak,
Mah.” Secepatnya Firhan pun menjawab ucapan sang mamah.
Panggilan
pun kini berakhir. Dan Firhan sudah melihat Zaniah masuk ke kamar dari kamar
mandi. Koper mini pun sudah siap dari semalam.
Firhan
berjalan mendekati Zaniah, ia peluk erat tubuh istrinya itu. Hatinya tiba-tiba
merasa ada ganjalan yang entah apa sebabnya. Usai mendengar penuturan sang
mamah, Firhan sangat tidak tenang.
“Ada apa,
Mas?” tanya Zaniah lembut.
“Mas akan
segera pulang. Jangan bertengkar sama sahabatmu. Dia kamu yang pilih. Oke?”
Sekali lagi Firhan menegaskan jika semua konsekuensi adalah Zaniah yang
__ADS_1
membuat.