Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Kepergian Firhan


__ADS_3

Usai dengan


kesepakatan yang Zaniah katakan pada Firhan, kini semua duduk di ruang tengah


saat kedatangan seorang wanita yang tak lain adalah ibu dari Firhan.


Semua duduk


menyapa dengan senyuman pada wanita itu. Sebelumnya bahkan Wuri nampak kaget


mendapati sang menantu masih mau mencium punggung tangannya. Sebagai mertua dan


sebagai wanita, ia cukup paham jika menantunya akan marah padanya. Namun, Wuri


tetap akan melakukan yang menurutnya benar demi mendapatkan cucu.


“Firhan,


mamah rasa setelah pernikahanmu dengan Sela Agnes, kau tidak perlu menyewa


pembantu.” Tatapan sinis Wuri lemparkan pada sosok wanita cantik yang


menurutnya asing itu.


Bagaimana


pun ia tidak ingin ada wanita lain yang merusak rumah tangga anaknya bersama


Zaniah. Kecuali, Sela Agnes.


“Mah, Firhan


rasa cukup untuk Mamah mencampuri urusan pernikahan Firhan dan Zaniah. Bahkan


Sela pun tak berhak masuk rumah ini tanpa ijin dari Zaniah.” Firhan menatap


tajam wanita cantik di depannya kini.


Tak ada


wajah kaget dari Sela mendengar penuturan Firhan. Baginya, itu hanya hal kecil


yang akan suami lakukan di depan sang istri.


“Ternyata


kamu dari dulu nggak berubah, Firhan. Selalu jual mahal.” tutur Sela dalam


hatinya.


Wuri pun


tampak menghela napas saat matanya menatap tiga wanita di depannya bergantian.


Berbeda dengan Lillia Zeni yang sejak tadi hanya berani menundukkan kepalanya.


Ia sama sekali tak berniat ikut campur dalam pembicaraan itu.


Kalau saja


Zaniah dan Firhan mengijinkannya untuk ke dapur saja, itu mungkin akan jauh


lebih baik.


“Dan buang


jauh-jauh permintaan Mamah untuk pernikahan Firhan dengan Sela. Sebab, Firhan


rasa sudah cukup menikahi dua wanita.” Akhirnya Firhan melontarkan kata yang


sama sekali tidak ia inginkan itu usai mendapat anggukan kepala dari Zaniah.


Semakin


takut rasanya Lillia Zeni menampakkan wajah di depan mereka semua.


Wuri dan


Sela Agnes sama-sama membulatkan matanya serta tubuh yang ia tata dengan tegap.


Perkataan Firhan sangat tak di sangka.


“Apa maksud


kamu, Firhan?” Wuri bertanya namun wajahnya secepat kilat menoleh ke arah


Lillia Zeni yang duduk di sofa sebelah Zaniah.


Pelan ia menggelengkan


kepala. “Tidak. Kamu tidak mungkin menikahi wanita itu kan?” Pertanyaan Wuri


sayangnya mendapat jawaban dari Firhan dengan tegas.


“Namanya


Lillia, Mah. Yah, Firhan menikahinya sebab Firhan telah menghamilinya. Maaf,

__ADS_1


kami tidak memberi tahu Mamah.” Penuturan Firhan tanpa sengaja membuat Zaniah


menumpahkan air matanya begitu deras.


Ucapan sang


suami yang sudah di rencanakan entah mengapa membuatnya seolah membayangkan


kebenaran terjadi. Bagaimana pun Lillia Zeni akan di anggap istri Firhan oleh


semua orang.


“A-apa?


Hamil?” Ucapan Wuri dan Sela bersamaan.


Mata Wuri


bahkan merah berkabut seolah kaget dan penuh haru. Entah bisa di bilang ia


wanita jahat saat merasakan kebahagiaan di atas penderitaan sang menantu.


Namun, ini rasanya akan jauh lebih baik di bandingkan menikahkan Sela yang


mendapat penolakan keras dari Zaniah.


“Lillia,


jawab Mamah.” pintah Firhan dengan tegas.


Pelan Lillia


Zeni mengeluarkan suara. “I-iya, Nyonya. Saya hamil.” tutur Lillia dengan masih


menunduk. Kedua tangannya tampak saling meremas kuat menahan debaran jantung


yang kian berpacu cepat.


“Panggil


saya Mamah, dan tatap saya, Lillia.” tutur Wuri tak lagi menampakkan wajah


garang.


Hatinya


menghangat kala mendengar wanita di depannya kini tengah mengandung cucu


darinya.


“Mah, Zaniah


giliran bersuara. Sumpah demi apa pun ia sangat gelisah melihat Sela Agnes


begitu dekat dengan sang mertua.


Hingga


akhirnya Wuri pun menatap Sela Agnes dengan senyum di wajahnya. “Kamu tidak


keberatan kan, Sela? Tante sudah mendapatkan cucu.” tutur Wuri dengan tanpa


dosa memberikan harapan pada Sela Agnes.


Namun, mau


bagaimana lagi. Kini Sela pun hanya bisa menganggukkan kepala pasrah. Tidak


mungkin ia menuntut untuk tetap melanjutkan pernikahannya dengan Firhan.


Senyuman


kaku Sela berikan pada Wuri namun dalam hati ia bersumpah tak akan menerima


begitu saja tanpa mendapatkan apa pun. “Aku tidak mungkin membiarkan usahaku


sia-sia. Firhan harus tetap menjadi suamiku. Oke, kali ini kamu menang Zaniah.


Tapi wanita itu tidak akan mudah memberikan cucu untuk nenek tua ini.” batin


Sela di balik senyum palsunya.


Hingga


akhirnya mereka pun memutuskan untuk menghentikan pertemuan itu. Kepulangan


Sela dan Wuri membuat Zaniah bernapas lega.


“Mas,


maafkan aku yah?” Zaniah berbaring sembari memeluk tubuh suaminya di atas


tempat tidur.


Jam makan


siang mereka lewati lagi-lagi dengan masakan Lillia Zeni yang sangat enak.

__ADS_1


“Jangan


minta maaf. Mamah sudah keterlaluan, Mas yang seharusnya minta maaf. Tapi, apa


jalan ini tidak akan menjadi masalah kedepannya? Apa kamu yakin kuat dengan


status ini, Niah?” Pertanyaan Firhan mendapat anggukan cepat oleh Zaniah.


Bahkan


wanita itu mengangguk dengan tersenyum. “Iya, Mas. Aku akan menguatkan diriku


dari pada harus si Sela itu yang jadi istrimu.” tutur Zaniah tidak terima.


Firhan


mengeratkan pelukannya dan menciuk pucuk kepala sang suami. “Sambil menjalani


ini, ada baiknya kita sekalian tetap usaha punya anak, Sayang.” ujar Firhan


yang memang tetap menginginkan anak dari istrinya.


Zaniah hanya


mengangguk, karena ia sendiri pun sudah merasa lelah berusaha segala hal untuk


memiliki anak.


Satu bulan


pun berlalu semenjak pertemuan mereka dengan Wuri dan Sela. Kini di hari Firhan


akan melakukan perjalanan bisnis, ia memberi tahu sang mamah melalui sambungan


telepon.


“Iya,


Firhan.” Ucapan Wuri terdengar begitu hangat di seberang sana.


“Mah, Firhan


harus berangkat ke kota D jam 10 nanti. Kalau ada apa-apa kabari Firhan yah?


Salam buat papah juga.” ujarnya penuh perhatian.


Wuri


menganggukkan kepala di seberang sana. “Iya, Nak. Kalau begitu Mamah boleh dong


tetap main ke rumah kamu? Sekalian jengukin Lillia.” ujar Wuri dengan penuh


semangat.


Tanpa ia


sadari perasaan Firhan merasa ada yang tidak tepat. “Mah, nggak salah? Kok


Lillia? Zaniah Mah.” pintahnya pada sang mamah yang menurut pria itu salah


ucap.


Wuri


menghela napasnya. “Lillia kan yang hamil, Firhan. Zaniah pasti baik-baik saja


dong. Yasudah, kamu hati-hati di jalan. Nggak mau bawa salah satu istri kamu


gitu?”


“Nggak,


Mah.” Secepatnya Firhan pun menjawab ucapan sang mamah.


Panggilan


pun kini berakhir. Dan Firhan sudah melihat Zaniah masuk ke kamar dari kamar


mandi. Koper mini pun sudah siap dari semalam.


Firhan


berjalan mendekati Zaniah, ia peluk erat tubuh istrinya itu. Hatinya tiba-tiba


merasa ada ganjalan yang entah apa sebabnya. Usai mendengar penuturan sang


mamah, Firhan sangat tidak tenang.


“Ada apa,


Mas?” tanya Zaniah lembut.


“Mas akan


segera pulang. Jangan bertengkar sama sahabatmu. Dia kamu yang pilih. Oke?”


Sekali lagi Firhan menegaskan jika semua konsekuensi adalah Zaniah yang

__ADS_1


membuat.


__ADS_2