Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Perdamaian


__ADS_3

Gelengan kepala Zaniah membuat Firhan mau pun Lillia menatap heran. Zaniah menangis membayangkan bagaimana sang mertua akan semakin menyudutkannya. "Tidak, aku tidak mau mengakhiri ini semuanya, Zen. Tolong jangan memutuskannya, aku butuh bayi itu. Tolong aku berjanji tidak akan berbuat seperti ini lagi."


Mendengar sahabatnya memohon dengan air mata yang menetes begitu menyedihkan, sungguh Lillia tak bisa tega. Ia luluh memeluk sahabatnya dan turut meneteskan air mata. Dirinya begitu menderita bukan hanya Zaniah yang patut di mengerti.


"Aku sakit melihat hubungan kita seperti ini. Kita sahabat, Zan. Aku tidak ingin hubungan kita rusak seperti ini hanya karena kesalah pahaman saja terus menerus. Jika semuanya akan berakhir biarkanlah aku mengakhiri drama ini. Biarkan kita hidup dengan masalah masing-masing. Aku siap menerima semuanya." Zaniah melerai pelukannya bersama Lillia dan menatap sang sahabat penuh harap.


"Aku berjanji akan baik-baik saja asal kau masih tetap membantuku. Aku berjanji."


Dua wanita yang saling menyayangi akhirnya berdamai dengan wajah yang tersenyum sembari memeluk kembali dengan erat. Firhan yang melihatnya pun akhirnya menghela napas kasar. Lega rasanya kedua istri kembali damai.


Dan sejak saat itulah rumah tangga Firhan bersama dua istrinya tampak hangat. Bahkan Firhan melarang untuk sementara waktu kedua orangtuanya datang. Dengan alasan mereka membutuhkan waktu bertiga beberapa waktu ke depan. Meski Wuri merasa keberatan, akhirnya ia pun menurut saja demi ketentraman hidup sang menantu dan calon cucunya.


"Hati-hati yah, Mas. Nanti siang aku minta temani Zeni ke kantor antar makan siang buat Mas." ucap Zaniah yang kini sudah berdiri mengantar keberangkatan sang suami ke kantor.

__ADS_1


Firhan tersenyum senang mendengar sang istri tak lagi pernah menangis bahkan marah. Sementara Lillia turut mengantar suaminya di depan pintu dengan senyum di wajahnya. Firhan menoleh sekilas dan mengangguk seolah mengatakan jika ia pergi bekerja.


"Sayang, hati-hati perginya nanti. Kabari Mas kalau mau ke kantor." ujar Firhan sembari mencium kening Zaniah.


Sejenak pandangan mata Lillia menatap sendu pemandangan yang tak pernah ia rasakan itu, sungguh rasanya begitu meneduhkan hati kala membayangkan.


"Hati-hati Mas Firhan." Dalam bayangan Lillia mendapat kecupan di keningnya oleh Firhan.


"Kamu juga hati-hati di rumah Lia. Jaga anak kita jangan lelah bekerja yah?" Pelukan hangat dalam bayangan Lillia membuat wanita itu tersenyum begitu bahagia.


"Ada apa? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Zaniah begitu sangat penasaran hingga melihat Lillia hanya menggelengkan kepala canggung. Ia tak tahu harus menjawab apa sebab dalam bayangan itu dirinya begitu jahat menginginkan suami sahabatnya.


"Nggak ada apa-apa. Yuk masuk." ajak Lillia dan keduanya pun masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Di kamar, Lillia tampak duduk bersandar melamun. Entah mengapa tubuhnya begitu merasa menginginkan kasih sayang yang meluapkan rasa sesak di tubuhnya. Air mata yang tak di sangka tiba-tiba saja jatuh. Perasaan sedih menyelimuti hati Lillia pagi itu. Tangannya tak berhenti mengusap perut buncit miliknya kini.


"Sayang, apa kamu yang menginginkan ini semua? Maafkan ibu yang tidak bisa memberikanmu ayah. Ibu tidak tahu harus melakukan apa saat ini selain membiarkanmu bersama Papah Firhan dan Bunda Zaniah." tuturnya terdengar begitu pilu.


"Ini semua demi masa depanmu, Nak. Ibu tidak ingin identitasmu jadi hal yang memalukanmu kelak di masa depan. Maafkan Ibu jika ibu terkesan jahat. Ibu berjanji akan tetap mendampingimu meski ibu tidak bisa jujur siapa ayahmu sesungguhnya. Sebab ibu sendiri tidak tahu siapa pria itu." Air mata Lillia menetes semakin deras kala mengatakan hal yang paling menyakitkan di hidupnya.


Menyerahkan kehormatan pada orang yang tidak ia tahu dengan keadaan tidak sadar sungguh rasanya sampai saat ini pun Lillia masih tidak bisa rela.


"Zen? Mengapa menangis?" Tiba-tiba saja Zaniah datang dengan mendorong pintu yang kebetulan tak terkunci.


Hal tersebut membuat Lillia tidak sempat lagi untuk mengusap air matanya. Ia tersenyum dan menahan air mata yang kembali jatuh.


"Tidak. Aku tidak apa-apa. Hanya senang saja akan memiliki anak." tuturnya tersenyum memaksa.

__ADS_1


Zaniah duduk di depan sahabatnya dan tersenyum.


"Kamu pasti berat menjalani ini semua. Maafkan aku yah jika aku justru menambah masalahmu. Tapi aku berjanji akan menyayangi anak itu juga dengan tulus. Dia malaikat yang tak bersalah dan berhak mendapatkan kehidupan yang baik." tutur Zaniah di setujui oleh Lillia.


__ADS_2