Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Kehancuran Zaniah


__ADS_3

Kepanikan terjadi kala ruangan yang ia tinggal kemarin sudah kosong. Firhan masuk sampai ke kamar mandi namun tak juga menemukan sosok istrinya. Tubuhnya mendadak terasa panas. Matanya tampak memerah. Namun, Firhan masih berusaha tenang.


“Mamah kemana sih? Angkat telponnya dong?” gerutu Firhan saat menghubungi sang mamah tanpa di angkat.


Pria itu sampai menjambak rambutnya frustasi. Hingga Firhan tak bisa menahan diri untuk tetap di tempat. Ia memilih segera menuju meja bagian administrasi rumah sakit.


Dilihatnya tempat sudah sangat sepi. Hanya ada bagian petugas yang berjaga.


Disana Firhan mendapat jawaban tak terduga.


“Mohon maaf, Bapak. Pasien atas mama Lillia Zeni sudah keluar dengan biaya perawatan yang juga sudah di lunasi.” Semakin syok Firhan mendengar itu semua.


Sumpah demi apa pun ketakutannya dalam mimpi kini benar nyatanya. Tanpa berkata apa pun lagi Firhan cepat membawa mobil menuju kediaman sang istri kedua.


“Lia, aku mohon jangan buat aku cemas seperti ini.” Beberapa kali Firhan berusaha menghubungi Lillia di sela ia tengah melajukan mobil subuh itu.

__ADS_1


Tanpa ia tahu jika perjalanan yang di lihatnya sepi tiba-tiba saja membuatnya lengah dan menabrakkan kendaraannya pada mobil trus bermuatan alat berat.


“Aaaaaaa!!!”


Kecelakaan subuh itu tak bisa terhindarkan lagi. Firhan menutup matanya di akhir ingatan membayangkan wajah Lillia.


Air matanya menetes tanpa bisa tertahan. Bahkan banyaknya darah menetes di keningnya saat itu.


***


Kejadian kecelakaan begitu cepat terdengar di telinga kedua orangtua Firhan mau pun sang istri.


Pagi buta yang seharusnya menjadi awal yang semangat intuk melakukan aktifitas justru berbanding terbalik dengan keadaan di depan ruang operasi.


Yah, setelah mendapat kabar dari rumah sakit, Zaniah dan kedua orangtua Firhan sama-sama bergegas ke rumah sakit. Mereka menangis saat mendengar keterangan dokter yang mengatakan luka parah terjadi di bagian belakang dan mengenai tempurung otak pria itu.

__ADS_1


“Mas Firhan, aku mohon bertahanlah, Mas. Jangan tinggalkan aku sendirian.” Zaniah terus saja menangis memohon dalam hatinya.


Mendengar ucapan sedih sang menantu. Wuri sontak mendekatinya. “Niah, tenanglah. Jangan terlalu tegang. Cucu mamah juga akan terkena dampaknya nanti. Firhan pasti akan baik-baik saja setelah operasi.” ujar Wuri yang justru membuat Zaniah kesal setengah mati di dalam hatinya.


“Mah, tolong. Berhenti mengungkit masalah cucu. Di sana Mas Firhan sedang bertaruh nyawa. Dia anak mamah, dia suami aku, Mah.” Ucapan dengan nada tinggi itu tentu saja membuat Wuri tersentak kaget.


Dika yang melihat keduanya bersitegang akhirnya memilih membawa sang istri menjauh.


“Mah, kita duduk di sana. Biarkan Zaniah menenangkan dirinya sendiri. Keadaan sedang cemas, sulit untuk kita saling bicara.” Awalnya Wuri kekeuh untuk bersama Zaniah.


“Tapi, Papah. Cucu mamah…” ucapan wanita itu terhenti saat Dika memejamkan matanya sekejap. Seolah memberi isyarat pada sang istri untuk menurut ucapannya.


Keduanya pun sudah menjauh dari Zaniah yang terus menangis.


Tak lama berselang nampak sepasang suami istri dan juga anak gadis turut datang menghampiri Zaniah. Yah, mereka adalah kedua orangtua Zaniah serta sang adik.

__ADS_1


“Niah, apa yang terjadi?” Sang ayah bertanya lebih dulu, melihat siapa yang datang Zaniah sudah berhambur ke pelukan sang ayah. Dimana ibunya juga turut memeluk tubuhnya.


Mereka menangis saling menyalurkan kesedihan mereka. Hingga akhirnya Wuri dan Dika mendekat kembali kala melihat kedatangan sang besan.


__ADS_2