Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Kemarahan Firhan


__ADS_3

Getaran


tubuh di sisi sudut kamar itu tampak sulit terhenti. Bahkan air mata terus saja


mengalir hingga menulikan pendengaran kala suara mobil di halaman depan


berhenti.


Tak biasanya


kepulangan Firhan tak mendapatkan sambutan dari sang istri. Akhirnya, ia pun


berinisiatif memasuki rumah yang bahkan daun pintunya terbuka lebar. Keningnya


mengerut heran.


Pelan namun


pasti ia melangkah memasuki kamar yang tak terkunci.


“Niah?”


Pelan Firhan mendekat memegang bahu sang istri yang memunggunginya.


Matanya


membelalak saat Zaniah terisak menampakkan mata sembab dan merah di sana.


“Zaniah? Apa


yang terjadi? Hey.” Tangan Firhan menangkup wajah sang istri. Pria itu sungguh


kaget melihat keadaan sang istri yang benar-benar kacau.


Kepulangannya


dari bekerja dengan tubuh lelah berharap mendapatkan pelukan hangat dan senyum


teduh dari Zaniah, justru kini menjadi tegang.


“Mas Firhan,


aku mohon kali ini jangan halangi aku lagi untuk memutuskan sesuatu…” Zaniah


semakin terisak mengatakan itu dengan sang suami.


“Apa


maksudnya, Niah? Jelaskan dengan Mas apa yang terjadi?” Firhan sungguh gemas


melihat sang istri yang justru berkata lain tanpa berniat menjawab


pertanyaannya.


“Mas Firhan


harus menikah dengan wanita lain yang aku pilih. Aku tidak mau Mas menolaknya.”


Belum usai keterkejutan Firhan, kini ia kembali terkejut lagi.


Jantungnya seakan

__ADS_1


ingin hancur kala mendengar ucapan sang istri. Firhan menggeleng tak percaya


dengan ucapan sang istri. Matanya pun memerah.


“Niah, apa


kamu bermaksud memberi Mas seperti barang pada orang lain? Kamu memandang Mas


serendah dan setidak berharga itu?” tanya Firhan lagi.


Zaniah


menutup kepalanya. Ia sendiri pun sakit mendengarkan kata menyakitkan itu dari


mulut sang suami. Hatinya sangat menolak melakukan semuanya, namun keadaan


membuatnya tak bisa bertahan dalam cinta yang hanya membahagiakan mereka dengan


bayang-bayang tekanan sang mertua.


“Jawab,


Niah. Jawab, Mas. Apa Mas sama sekali tak berharga di matamu? Untuk apa Mas


melakukan hal yang paling Mas tidak sukai itu?” Firhan habis kesabaran,


lelahnya seakan membakar hangus kesabaran pria itu. Tangannya mengguncang dua


lengan sang istri.


Air mata


sudah memporak porandakan wajah Zaniah saat ini.


perlu menikahinya saja. Mas tidak perlu melakukan hubungan apa pun sewajarnya


suami istri. Aku mohon Mas. Ini semua demi rumah tangga kita. Aku lelah dengan


semuanya, Mas.” tutur Zaniah masih ambigu.


Tangan yang


semula mencengkram lengan Zaniah, Firhan hempaskan kasar dan mengusap wajahnya


yang juga mengeluarkan air mata.


“Tidak,


Niah. Sampai kapan pun Mas tidak akan pernah menikah lagi.” Tolak Firhan tegas.


Zaniah yang


terus mengingat kedatangan sang mertua tadi, sungguh ia takut jika sang suami


akan jatuh pada wanita yang sangat cantik itu. Bahkan ketakutannya semakin


besar kala mendengar ia adalah mantan sang suami.


Segera,


Zaniah terduduk dengan lutut yang menumpu tubuhnya. Ia menggenggam tangan sang

__ADS_1


suami. “Nikahi Zeni, Mas. Dengan begitu kita akan memiliki anak yang ia


kandung. Cukup nikahi dia, Mas. Zeni sedang mengandung.” mohon Zaniah


menengadah pada sang suami.


Air mata


Firhan jatuh kembali. Hatinya terasa di hantam ribuan batu besar. Tatapan pria


itu penuh kekecewaan.


“Apa karena


dia sahabatmu? Maka aku harus kau korbankan, Zaniah? Apa karena dia lebih


penting dariku?” Pertanyaan Firhan membuat Zaniah menggeleng cepat.


“Bukan. Bukan


karena itu, Mas. Ibu akan menjodohkanmu dengan wanita lain. Aku tidak mau itu


terjadi, Mas.” Zaniah menundukkan kembali kepalanya.


Mendengar


kata ibu, Firhan bingung sekali.


“Ibu?


Apa-apaan ini, Niah?” tanyanya sangat bingung.


Lantaran


Zaniah sama sekali tak menjelaskan apa yang terjadi hari ini padanya.


“Dan satu


lagi, siapa pun yang memaksa aku untuk menikah. Aku tidak akan melakukannya.


Aku punya harga diri, Zaniah.” tegas Firhan pada sang istri.


Zaniah


menangis tersedu di bawah sana. “Sela Agnes adalah masalalu mu yang bisa


menjadi masa depanmu jika kau menolak permohonanku ini, Mas.” ujar Zaniah yakin


jika sewaktu-waktu dengan segala cara sang mertua bisa saja mengembalikan hati


sang suami.


Firhan


sungguh muak mendengar ini semua.


Ia pergi


tanpa berniat bicara lagi pada sang istri. Tak perduli bagaimana Zaniah masih


berlutut di hadapannya.

__ADS_1


“Mas! Mas,


Firhan!” teriaknya tak mendapatkan respon sama sekali.


__ADS_2