
Sejak tiba di rumah sang mertua, Zaniah sama sekali tak mau keluar kamar. Bahkan kini saat malam menjelang. Dimana Firhan baru saja membersihkan diri di kamar mandi. Matanya menatap sang istri yang baring di tempat tidur sembari memainkan ponsel pintarnya.
“Niah, kamu sudah mandi dari tadi Mas kira sudah si luar. Kok masih di sini?” tanya Firhan yang seketika membuat Zaniah meletakkan ponselnya.
“Mas, buat apa aku keluar? Mamah sana dia terus. Aku mau jadi apa di sana? Pasti mamah terus ngomongin bayi di perutnya. Aku cemburu, Mas. Kamu ngerti nggak sih?” ujar Zaniah yang membuat ketenangan dalam diri Firhan mendadak goyah.
Bukan Firhan menyalahkan sang istri, namun dari ucapan Zaniah saat ini Firhan pun bisa membaca apa yang salah dalam pikiran istrinya. Berburuk sangka dan menuduh yang membuatnya menghindar.
“Niah, kamu itu berasumsi tanpa membuktikan. Justru kamu berdiam di kamar tanpa bergabung bisa buat Mamah berpikir buruk ke kamu. Ayolah sayang pergi keluar, dekati mamah. Tunjukkan ke mamah kalau kamu itu tetap menantu yang utama dari siapa pun.” bujuk Firhan pada sang istri.
“Nggak Mas. Aku akan keluar kalau Zeni nggak di sini lagi. Suruh dia kembali ke rumah, Mas. Kita saja yang tinggal di sini.”
__ADS_1
Firhan menghela napasnya kasar. Sungguh semakin kesini Zaniah semakin sulit di kendalikan. Ia bahkan sepertinya harus tegas tak lagi berlembut kata pada Zaniah.
“Yasudah, ini sudah malam. Besok Mas akan suruh Lillia ke rumah. Tapi Mas harap ini adalah masalah terakhir. Jujur Niah, Mas capek sekali harus mengurus semua permasalahan ini. Tolong bersikaplah dewasa. Kalau mamah dekat dengannya, pikirkan apa yang harus kamu lakukan dengan hati? Bukan dengan kecemburuan.”
Kini Zaniah tinggal seorang diri di dalam kamar usai Firhan meninggalkannya keluar.
Namun, kemarahan Firhan seketika sirna kala melihat bagaimana sang mamah yang tertawa seru bersama istri keduanya. Rasanya ada perasaan senang tersendiri bagi Firhan. Inilah yang ia harapkan dari dulu, Zaniah akan menjadi anak mamahnya juga bukan menjadi menantu. Sayang, pembatas yang Zaniah buat terlalu tinggi bahkan tak mampu mengambil hati sang mamah.
Sang mamah dan Lillia sontak menoleh. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya memanggil Firhan.
“Ayo sini gabung. Mana Zaniah? Kok kamu keluar sendirian? Tuh filmnya seru banget. Si Lia malah jadi kompor mamah loh.” Firhan tersenyum pada Lillia tanpa berniat duduk di dekatnya. Ia pun bergerak mengambil tempat di sebelah sang mamah.
__ADS_1
Melihat Firhan berjauhan dengan sang menantu, sang mamah justru panik. “Eh Firhan, kok duduk dekat mamah. Tuh di situ tempat kamu. Sudah berhari-hari jauhan nggak kangen kamu sama Lia? Tuh di sana anak kamu juga pasti kangen sama kamu. Sana sapa cucu mamah.” Kikuk Firhan tampak meneguk kasar salivahnya menatap canggung pada Lillia.
Apa yang harus Firhan lakukan saat ini? Apakah ia harus duduk bersama Lillia? Sah saja mereka berdekatan sebab Firhan kan suaminya. Namun, mengingat pernikahan itu hanya sebuah syarat dari Zaniah akhirnya Firhan memilih untuk beralasan.
“Mah, nanti sajalah. Nggak enak Zaniah lagi pms kayaknya. Nanti jadi cemburu. Lgi pula…”
Belum usai Firhan mengutarakan niatnya. Sang mamah justru sudah menyela. “Kamu kok mikirin keegoisan istrimu. Anak kamu lebih penting Firhan. Biarkan Zaniah lebih dewasa. Kamu tinggal Lia sama mamah, nggak pernah dia protes bahkan ganggu kamu bersama Zaniah kan? Duduk di sana. Biar mamah yang ngatasi istrimu itu.”
Firhan pasrah mendapatkan dorongan dari sang mamah. Dan kini ia duduk bersama Lillia sangat dekat di sofa itu.
Tak ada percakapan sama sekali antara keduanya. Bukan tak bisa bicara. Melainkan Firhan mau pun Zaniah sama-sama sedang mengontrol detak jantung mereka yang berdebar. Entah Firhan tidak tahu perasaan apa ini sebenarnya.
__ADS_1
“Astaga kenapa jadi seperti ini, Niah seharusnya kamu dengarkan kataku tadi. Kita keluar bersama mamah tidak mungkin memaksa aku di sini.” umpat Firhan yang merutuki sang istri yang santai ria di tempat tidur tanpa tahu apa yang terjadi di luar sana.