Sahabatku Untuk Suamiku

Sahabatku Untuk Suamiku
Permohonan Maaf


__ADS_3

Lama menunggu, perlahan-lahan kedua mata milik Lillia pun tertutup tanpa bisa ia tahan. Rasa kantuk bawaan hamil membuat wanita itu tanpa sadar merebahkan tubuh dan menikmati tidur paginya.


Waktu berlalu hingga jam menunjuk angka 12. Dimana Firhan berjanji akan membawanya ke dokter. Pintu ruangan pun terbuka pelan. Kening Firhan mendadak terlipat kala tak mendapati keberadaan sang istri.


“Dimana dia?” gumamnya penuh tanya.


Pelan langkah kaki bergerak mendekati ruangan satu-satunya yang tidak terlihat di sana. Benar saja, Lillia tengah tertidur lelap di tempat tidur miliknya.


“Apa aku bangunkan saja? Tapi…” ragu Firhan ingin membangunkan Lillia. Namun, mengingat mereka telah menjadwalkan pemeriksaan rasanya tidak enak jika tak datang.


“Lia,” panggil Firhan pelan tak mendapat jawaban.


Sekali lagi ia bersuara. “Lia.” Panggilnya. Sayangnya sang pemilik tubuh tak kunjung bergerak.


“Lillia,” Firhan kembali memanggil dan menggoyangkan lengan Lillia pelan.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, pelukan erat ia dapatkan. “Tolong, tolong aku! Jangan aku mohon.” Teriakan Lillia terdengar begitu mengejutkan. Hingga Firhan sampai bingung harus melakukan apa saat ini.


“Lia, hei. Ada apa?” tanya Firhan berusaha menyadarkan sang istri.


“Heh? Mas? Maaf.” Lillia tampak canggung dan menjauhkan tubuhnya dari sang suami. Namun Firhan yang melihat wajah sang istri begitu basah dengan air mata segera menangkup wajah Lillia.


“Biarkan Mas mengusap air matamu.” tutur Firhan tak sanggup melihat kesedihan di depannya. Pelan namun pasti ia mulai merasa iba dengan Lillia.


“Maafkan Mas dan Zaniah, Lia.” tuturnya yang tak tega. Bagaimana mungkin ia dan sang istri justru melibatkan wanita sebaik Lillia Zeni dalam pernikahan rumit itu. Bahkan mereka sendiri tahu Lillia adalah wanita yang hidup seorang diri.


Isakan pun terdengar pilu saat itu. “Kamu wanita kuat. Kamu pasti bisa melewati ini semua. Mas akan bantu masa-masa sulit kehamilan kamu. Mas janji untuk menebus kesalahan Mas dan Zaniah.” ucapan Firhan sungguh menghangatkan hati Lillia.


Jujur saja selama masa kehamilan, dirinya merasa ingin sekali mendapat perhatian dari seorang pria. Dan kini Firhan menyediakan perhatian yang Lillia butuhkan. Tanpa sadar dua pasang tangan pun tampak saling berpelukan erat.


Hingga Lillia menyudahi kala ia sadar ini tidak benar. “Mas, sebaiknya kita pergi sekarang.” ujarnya dan Firhan pun setuju.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan menuju mobil untuk pergi ke rumah sakit. Berbeda dengan Zaniah yang ternyata sudah sampai di rumah orangtuanya.


“Sayang, kenapa melamun di kamar? Jarang-jarang datang ke rumah sekali datang malah ngurung di kamar. Ada apa ayo cerita?” ujar Penny Lou sang ibu yang menghampiri Zaniah di kamarnya.


“Tidak ada apa-apa, Bu. Cuman capek dan mabuk aja rasanya perjalanan jauh.” Ia berbohong sebab Penny sangat tahu anaknya begitu kuat jalan kemana pun tanpa bisa mabuk. Bahkan wajah Zaniah sama sekali tampak segar tak menunjukkan keluhan apa pun.


“Kita makan siang bareng yuk. Tuh Ayah kamu sampai belain pulang kantor biar bisa makan siang bareng. Kita semua kangen sama kamu. Sayang Firhan malah nggak ikut.” keluh Penny membuat Zaniah semakin tak karuan mengingat nama sang suami.


Bagaimana ia bisa tenang, saat ini bahkan Firhan berduaan dengan Lillia tanpa ada dirinya.


“Hati-hati loh kak…Mas Firhan itu ganteng banget. Kalo sering-sering di tinggal nanti malah ninggalin sama cewek lain.” Stellah tampak bersuara dari pintu kamar Zaniah.


“Heh kamu ngomong suka sembarangan!” kesal Zaniah seketik merubah raut wajahnya dingin.


Melihat wajah sang kakak, Stella terdiam. “Maaf, Kak.” Ia merasa keadaan sang kakak sedang tidak baik-baik saat ini.

__ADS_1


Begitu pun dengan Penny yang melihat tatapan tajam sang anak. Jujur ini bukan Zaniah mereka.


__ADS_2