
“Kamu sudah sadar?” Pertanyaan dari bibir Wuri terdengar sangat dingin, dimana biasanya ia akan menyebut nama Lia.
Namun, Lillia sadar ia telah melukai hati mertuanya dengan memberikan harapan serta membohongi banyak hal.
Saat bicara dengan Lillia, Wuri bahkan tak mau menatap wajah sang menantu. Ia menatap lurus ke depan tanpa wajah tersenyum.
“Maafkan Lia, Mah,” tutur Lillia Zeni.
“Jika maaf itu benar kamu butuhkan, maka pergilah sejauh mungkin. Biarkan Zaniah dan Firhan bahagia menantikan anak mereka. Saya benar-benar tidak bisa hidup dengan orang pembohong.” Telak Lillia mendengar ucapan pedas sang mertua.
Ia meneguk kasar salivahnya hingga meneteskan air mata. Hal yang ia takutkan telah terjadi. Semua yang ia lakukan tak membuahkan hasil sama sekali justru membuat semua hancur.
Dimana persahabatannya dengan Zaniah juga tak ada lagi.
“Laki-laki mana yang bisa merawat istri yang mengandung anak pria lain? Apa kamu tidak memikirkan itu?” Lagi Wuri melanjutkan pertanyaannya.
Lillia memejamkan mata mencerna setiap kata yang mertuanya ucapkan.
__ADS_1
“Apa kamu tidak punya hati nurani pada sesama wanita? Zaniah adalah istri yang berhak mendapatkan perhatian lebih dari suaminya selama hamil. Bukan untuk berbagi dengan wanita yang bukan mengandung anak suaminya.” Pelan namun pasti Lillia mengangguk.
Meski pusing ia rasakan, namun Lillia segera melepas paksa jarum infus yang melekat pada tangannya. Tak ada kata yang terucap lagi dari bibir Wuri saat ia melihat pergerakan tubuh Lillia.
Ia hanya membuang pandangan dan membiarkan Lillia pergi dari ruangan itu.
“Maafkan saya, Lia. Tapi bagaimana pun juga saya tidak bisa menerima kamu yang hami dengan pria lain lalu memanfaatkan anak saya untuk bertanggung jawab.” gumam hati Wuri.
Saat pintu sudah tertutup rapat, barulah Lillia menangis terisak sembari berjalan keluar rumah sakit.
Tanpa selembar uang dan barang lainnya, ia terus melangkahkan kaki tanpa arah tujuan.
Sungguh penyesalan terasa begitu kuat kala Lillia mengingat tentang sahabatnya yang kini sudah menjadi musuhnya.
Tak pernah terduga jika semua kedekatan mereka selama ini justru akan berakhir seperti ini.
Lillia menangis meringkuk di kursi pinggir jalan. Ia kesakitan namun tak ada satu pun yang mau menolongnya. Hingga Lillia benar-benar tak bisa menahan sakit di kepala, pingsan pun terjadi kembali.
__ADS_1
Ia memejamkan mata tanpa tahu tempat.
***
“Mas, peluk aku dari belakang.” Sementara di rumah, Firhan justru sibuk menuruti permintaan sang istri.
Zaniah begitu manja dengan Firhan.
“Niah, apa tidak bosa di kamar terus?” celetuk Firhan.
“Kamu bosan di kamar terus, Mas? Kamu bosan kalau sama aku, tapi sama dia kamu nggak bosan sekali pun di rumah kumuh seperti itu?”
Kelembutan yang terdengar mendadak jadi hilang. Zaniah kesulitan mengontrol emosinya tiap kali mengingat sosok Lillia Zeni,
Dan Firhan yang sadar akan kesalahannya hanya bisa mengalah dan diam.
“Pokoknya kamu temanin aku di sini.” Tak ada jawaban yang Firhan ucapkan. Ia menghela napas kasar mengingat sang istri yang berada di rumah sakit saat ini.
__ADS_1
“Kasihan Lia, dia pasti butuh aku. Zaniah yang baik-baik saja sangat manja padaku. Sementara Lia selama ini dia selalu melakukan apa pun seorang diri. Suami macam apa aku ini?”