
Meneteskan air mata semakin banyak, Zaniah terlihat begitu menyedihkan. Ia berjalan mendekati sang mertua dan mendudukkan tubuhnya tepat di depan mertua wanita itu. Mamah Wuri tampak bingung ia menunduk melihat Zaniah di bawah sana.
"Maafkan aku, Mah. Aku memilih Mas Firhan menikah dengan Lillia dari pada dengan wanita pilihan mamah. Aku salah, Mah. Maafkan aku. Tapi sekarang Mamah tidak perlu khawatir, sebab di sini di perut aku sudah ada cucu sesungguhnya penerus Mas Firhan kelak."
Keterkejutan terasa tak berujung, belum usai rasa syok mendengar pengakuan Zaniah, justru mereka kembali di kejutkan dengan kehadiran janin yang entah kapan terjadinya. Begitu pun juga dengan Firhan yang sama-sama kaget seperti kedua orangtuanya. Sedih dan kaget bersamaan ia rasakan.
Tubuh tegap pria itu seketika limbung rasanya. Ia terhuyung dan bersandar di tembok rumah. Bagaimana dengan hubungannya dengan Lillia? Tidak, Firhan tak ingin meninggalkan wanita yang sudah ia tiduri itu. Lillia adalah wanita yang tidak pernah melakukan kesalahan di mata Firhan bahkan ia dan sang istri lah yang menjadi wanita tidak berperasaan membawa Lillia ke dalam rumah tangga mereka dengan begitu rumitnya.
"Niah, apa yang kamu katakan? Kamu tidak bercanda kan?" Wuri menatap lekat kedua bola mata sang menantu. Kedua tangannya mencengkram kuat lengan sang menantu. Zaniah dengan terisak menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku benar, Mah. Aku tidak berbohong. Aku sudah hamil enam minggu." tuturnya dengan mengusap air mata yang kian banjir di kedua pipinya.
Tak ingin menyakiti sang menantu lagi, Wuri memeluk Zaniah. Ia meneteskan air matanya. Jauh dalam lubuk hati ia merasa bersalah selama ini.
"Niat mamah ke sini dengan papah untuk meminta maaf pada kamu. Mamah sudah sadar mamah salah, papah sudah menasehati mamah. Maafkan mamah, Niah. Seharusnya mamah tidak menuntut cucu seperti itu pada kamu. Bahkan dengan tidak ada Lillia pun mamah akan tetap menerima kekurangan kamu, Nak. Tapi justru kami kesini mendapat kebenaran tentang Lillia." Mendengar penuturan sang mertua di balik punggung seketika itu juga mata Zaniah mengering cairannya.
Ada ekspresi yang tidak terbaca di balik kesedihannya saat ini. Segera pelan ia melepaskan pelukan itu dan menatap sang suami.
Dua mertua Zaniah menatap kepergiannya. Sementara Firhan yang baru sadar akan semuanya, berpamitan pada kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Mah, Pah, aku mau ke kamar sebentar." langkahnya kakinya hendak mengayun harus terhenti kala mendengar ucapan sang papah yang menggema di indera pendengarannya.
"Firhan," panggil Papah Dika sontak membuat kaki Firhan memutar kembali.
"Papah harus bicara sama kamu." ujar Papah Dika berjalan mendahului sang anak.
Pria itu menuju ke teras belakang dimana keadaan sepi tanpa ada pengganggu menurutnya. Firhan pun tiba di belakang sang papah.
Plak!
__ADS_1
Satu tamparan tiba-tiba saja mendarat di pipi sang anak. Tak ada yang melihat hal itu namun Firhan sendiri begitu kaget. Meski ia sadar apa kesalahan yang ia perbuat.
"Papah tidak pernah mengajari atau memberi contoh padamu. Pernikahan bukanlah permainan, apa yang ada di otak kamu itu?" Tertunduk tanpa bisa menjawab. Firhan sadar dirinya begitu munafik rasanya.