
Pagi buta menjadi pemandangan indah bagi sepasang mata yang baru saja membuka matanya kala terasa tidur panjang yang cukup. Rasa lelah sedikit masih terasa di punggung Zaniah usai perjalanan kemarin. Namun, bibirnya mengembang sempurna tatkala melihat wajah tampan di depannya kini yang masih mendengkur halus.
"Mas, bangun. Mas Firhan." panggilnya pelan sembari membelai halus rahang tegas sang suami.
Samar Firhan mengerjap dan berkata, "Lia, ada apa? Aku masih mengantuk."
Jantung Zaniah tiba-tiba terasa terhenti detakannya saat itu juga. Matanya berair seketika dan senyum cerah di wajahnya sirna seketika. Telinganya tidak salah dengarkah jika sang suami baru saja menyebut nama sahabatnya itu? Menggeleng tak percaya, seketika Zaniah pun bangkit dari baringnya dan mendorong kasar tubuh Firhan yang masih mengantuk.
"Mas! bangun! Apa yang kamu katakan barusan? Sudah ngapain aja kamu sama dia? Mas!" Teriakan demi teriakan terus terdengar hingga Firhan pun melebarkan mata kala mendengar suara Zaniah. Alangkah terkejutnya saat melihat sang istri di pagi buta sudah menangis.
"Niah, kamu kenapa? Kenapa menangis?" Firhan refleks menyentuh kedua pipi sang istri, namun perlakuan itu di hempas kasar oleh Zaniah.
__ADS_1
Ia berdiri dan menatap tajam sang suami.
"Apa yang sudah terjadi? Kamu menyukai Zeni, Mas? Barusah kamu bahkan menyebut namanya." Firhan bungkam kini ia baru menyadari jika dirinya baru saja merasa jika tidur bersama Lillia. Mengelak, rasanya tak mungkin Firhan lakukan. Hingga pelan ia pun berdiri membenarkan posisinya dan akan menghadapi ini semua.
Emosi di dada Zaniah membuncah melihat sang suami yang tergugup seolah baru tertangkap mencuri. Hingga Zaniah tak mampu lagi menahan diri, ia pun berlari keluar kamar mencari sosok wanita yang sudah membuat suaminya lupa akan dirinya.
"Niah! Zaniah, apa yang kamu lakukan?" Firhan berlari mengejar sang istri namun Zaniah sudah lebih dulu tiba di kamar Lillia. Pintu yang tidak terkunci segera ia dobrak dan terbuka begitu saja. Dengan nafas yang terengah-engah Zaniah menatap seluruh sudut kamar itu. Tak ada sosok Lillia di sana. Air mata yang tanpa sadar ia jatuhkan begitu sangat terlihat jelas. Amarah dan sakit bersamaan Zaniah rasakan.
"Niah! Zaniah! Hentikan." ucap Firhan berusaha memegang pergelangan tangan sang istri, namun Zaniah menghempaskkan kasar.
"Jangan sentuh aku, Mas. Kalau kamu masih belum bisa jujur. Sekarang kamu ngomong tidak aku tidak bisa percaya. Kamu jelas menyebut namanya." Mata Zaniah berair menatap sang suami.
__ADS_1
"Lillia! Dimana kamu?" teriaknya kini masuk ke dalam kamar mencoba mencari di kamar mandi tak ada. Hingga matanya jatuh pada sebuah lemari yang terbuka dan tak ada isinya sama sekali. Mata Zaniah membulat sempurna. Ia menggelengkan kepala dan beralih menatap Firhan.
"Dia pergi, itu artinya sesuatu terjadi dengannya dan Mas? Mas, katakan apa yang kalian lakukan?" Kini Firhan menarik napas dalam saat Zaniah mendekat padanya dan menggenggam erat kedua lengan sang suami. Tak bisa lagi ia menghentikan air mata yang terus berjatuhan itu. Firhan pun memejamkan matanya berusaha memberanikan diri bicara.
"Maaf. Maafkan, Mas." Firhan memeluk erat tubuh sang istri menyadari kesalahan yang ia perbuat akan sangat menyakitkan untuk Zaniah. Namun, Firhan tak ingin munafik jika hatinya kini sudah terasa terbagi untuk dua wanita.
Zaniah yang mendengar kata maaf itu terucap dari sang suami mendadak tubuhnya terasa lemas. Ia menduga jika mereka sama-sama telah memiliki rasa. Hingga Firhan yang tak kuasa menahan bobot sang istri yang lemas sama-sama terduduk di sisi ranjang Lillia.
"Niah, maafkan Mas. Maafkan, Mas tolong jangan seperti ini. Kita bicarakan semuanya baik-baik."
Zaniah hanya menatap ke depan tanpa mau menatap sang suami. "Hilangkan rasa itu, Mas. Kita akan menjalani semuanya berdua." pintahnya yang kini tak perduli lagi dengan semua drama yang akan berakhir. Ia akan terima apa pun kemarahan sang mertua.
__ADS_1
"Tapi, bagaimana dengan hubungan yang terlalu jauh kami jalani? Mas tengah tidur bersamanya." Pengakuan Firhan benar-benar membuat kedua bola mata Zaniah membulat sempurna.