
Semua harapan, doa, dan usaha telah mereka lakukan. Namun, dokter yang menangani Firhan telah mengatakan apa yang kemungkinan terjadi. Sungguh, Zaniah terus menangis tanpa henti. Begitu pun dengan Wuri dan juga Peny yang menangis. Namun, di antara kehancuran hati mereka, Zaniah lah yang paling hancur hatinya.
“Mas Firhan nggak mungkin lupa ingatan, Mah. Aku nggak mau itu terjadi.” Zaniah terduduk di lantai menangis tanpa kuat menopang beban tubuhnya.
Wuri menggelengkan kepala. “Niah, kendalikan diri kamu. Ingat kamu sedang mengandung. Percaya, bagaimana pun Firhan semua pasti akan baik-baik saja.”
Mendengar penuturan sang besan, sontak Peny dan juga Bahran saling pandang dengan tatapan penuh tanya.
“Mengandung? Niah, kamu hamil?” Peny bertanya pada sang anak.
Namun, pertanyaan itu tak kunjung Zaniah jawab. Wanita itu hanya terus menangis bahkan dalam tangisnya ia berpikir apa yang harus ia lakukan saat ini.
“Tidak. Aku tidak mau Mamah membuat Mas Firhan jauh dari aku kalau tahu aku tidak hamil sebenarnya. Tidak. Aku tidak mau itu terjadi.” gumamnya menggelengkan kepala menolak pikirannya yang semula mengajak untuk jujur saja.
Kesedihan bercampur bahagia itu terhenti kala Firhan akhirnya sadar dari biusnya.
__ADS_1
“Argh…sakit.” keluhnya memegang kepala yang masih terlilit perban. Beberapa jam menunggu kini pria itu akhirnya sadarkan diri juga.
Zaniah orang pertama yang tersenyum. Ia mengusap kasar wajahnya yang penuh air mata dan mendekati sang suami.
“Mas, akhirnya Mas sadar juga. Mas, Mas Firhan ingat aku kan, Mas?” Berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan, tak perduli bagaimana dokter telah memfonisnya untuk tidak bisa mengingat.
Semua menatap harap-harap cemas. Meski sudah menduga jika Firhan akan menjawab tidak.
Tatapan semua orang di ruangan itu semakin heran kala melihat Firhan tersenyum.
Tersedu-sedu wanita itu menangis mendengar namanya di sebut oleh pria di depannya saat ini.
“Kamu nggak lupa ingatan kan, Mas? Aku takut banget.” Ia memeluk erat tubuh Firhan lantaran sangat bahagia.
Sungguh Zaniah seperti mimpi begitu indah sampai ia tak ingin di bangunkan dari mimpi itu.
__ADS_1
Pelan Firhan mengangkat tangan dan mengelus kepala istrinya dengan sayang. Sontak saja hal itu membuat semua menghela napas lega.
“Syukurlah, ingatan kamu masih bagus. Dokter bilang kejadian ini akan berpengaruh pada ingatan kamu, Firhan.” Wuri mengusap punggung tangan sang anak yang tertempel jarum infus.
Keadaan pun terasa baik-baik saja di ruangan itu. Tanpa ada yang tahu jika di lain tempat sosok wanita tampak begitu menderita.
Berharap lari dari kenyataan akan membuat hidupnya bisa tenang dengan sang anak.
Sayang Lillia Zeni tak mendapatkan apa yang ia harapkan. Pergi dari sang suami, ia kini justru di bawa paksa oleh pria yang tak lain adalah Panji. Sosok yang merenggut kesuciannya dan menanam benih di rahimnya.
“Lepaskan aku! Lepaskan!” Teriaknya menggedor pintu rumah yang ia sendiri tidak tahu rumah siapa itu.
“Akhirnya kamu jadi milikku, Lia. Aku akan memiliki keluarga yang bahagia.” Panji tersenyum menyeringai pergi dari rumah itu.
Di dalam Lillia menangis sejadi-jadinya. Sumpah demi apa pun ia tak ingin jika hidupnya ia habiskan hanya untuk pria seperti Panji. Pria yang sudah menghabiskan waktunya dengan sang ibu tiri lalu dengan tega menodai dirinya yang suci.
__ADS_1