
Pagi harinya usai menikmati tidur panjang, Lillia pun terbangun. Kedua matanya menatap hangat pemandangan yang sangat asing di hadapannya saat ini. Wajah Firhan yang terlelap sungguh indah baginya menikmati saat bangun tidur.
"Maafkan aku, Zan. Aku salah telah menaruh hati pada pria ini. Tapi...aku yakin aku bisa menempatkan diriku. Aku cukup mencintai Mas Firhan dalam diamku saja. Dia pria yang benar-benar baik dan kamu beruntung di cintai oleh Mas Firhan, Zan." gumamnya samar namun tetap bisa terdengar oleh Firhan yang rupanya hendak membuka mata.
Menyadari jika ada yang tengah memperhatikan dirinya, Firhan memutuskan untuk kembali menutup matanya.Ada perasaan berdebar yang tak biasa ia rasakan sebelumnya. Mengetahui Lillia Zeni menyukai dirinya juga, Firhan justru semakin bergejolak. Ia tidak bisa menahan hati yang beberapa waktu belakangan ini ia bohongi terus menerus.
Semakin tubuhnya menginginkan Lillia, semakin Firhan berusaha menyadarkan diri. "Astaga Firhan, ingat Zaniah. Dia adalah istrimu yang sesungguhnya. Ingat, Firhan." rutuknya dalam hati sembari membuka kedua matanya cepat.
Sontak saja perlakuan Firhan tersebut membuat Lillia kaget setengah mati hingga tubuhnya terlonjak kaget. "Mas," pekik Lillia buyar lamunannya yang tengah asik menikmati wajah tampan sang suami.
"Lia, Mas harus ke kamar." Firhan berlari secepat mungkin saat menyadari tatapan mata Lillia yang syok padanya.
Melihat hal itu, Lillia tampak gugup. "Apa Mas Firhan tahu aku sedang memperhatikannya yah? Aduh...kenapa jadi begini sih?" rutuknya kesal.
Merasa waktu sudah semakin siang, Lillia memilih untuk segera masak sarapan. Ia yakin Firhan akan segera ke kantor sebentar lagi. Namun, nyatanya tidak seperti yang Lillia bayangkan.
Di sini Firhan justru tengah menelpon sang istri. "Niah, cepatlah pulang. Mas ingin libur hari ini." ujar Firhan yang sudah menginginkan sentuhan sang istri.
Banyaknya masalah yang mereka hadapi belakangan ini membuat hubungan keduanya semakin renggang tanpa mereka sadari. Dan Zaniah pun semakin lalai akan tugasnya sebagai istri.
__ADS_1
"Mas, aku sore baru bisa kembali. Paman dan Bibi akan datang ke rumah ini berkumpul. Setelah itu aku akan langsung pulang." ujar Zaniah kekeuh untuk tetap tinggal di rumah orangtuanya.
"Niah, Mas jemput sekarang kita habiskan waktu hari ini berdua. Oke?" tanya Firhan kembali memberikan penawaran pada sang istri.
Zaniah menggelengkan kepala, "Tidak, Mas. Biarkan aku berkumpul dengan keluargaku dulu. Nanti ada waktunya Mas akan ikut berkumpul juga. Aku ingin bersama mereka menikmati waktu yang sudah lama tidak aku rasakan." tutur Zaniah.
Mendengar keras kepalanya sang istri, Firhan yang ingin tegas merasa percuma saja. Ia tidak ingin hanya karena ini mereka bertengkar kembali. "Baiklah,"
Usai panggilan telepon terputus, Firhan memilih buru-buru bersiap dan pergi dari rumah tanpa menyentuh sarapan yang Lillia masak.
"Mas Firhan, mau kemana? Tidak sarapan dulu?" tanya Lillia mencegah langkah sang suami.
Hingga akhirnya Firhan memilih tersenyum dan berkata, "Mas harus pergi. Kamu..." Tiba-tiba saja Lillia berlari ke kamar mandi di dapur.
Firhan pun yang belum sempat menjabarkan ucapannya ikut panik dan berlari menyusul sang istri ke kamar mandi. Di sanalah Lillia terus muntah tanpa henti. Firhan yang ingin pergi berniat menyusul sang istri diam-diam justru terhenti niatnya saat melihat wajah Lillia yang lemas dan pucat.
"Lia, kamu pucat. Kita ke dokter yah?" ajak Firhan namun Lillia menolaknya.
"Tidak, Mas. Saya sudah ada vitamin pereda mual kok." jawabnya jujur namun Firhan begitu cemas. Hingga ia pun bernisiatif untuk memapah tubuh Lillia ke kamarnya.
__ADS_1
Tidak hanya muntah yang Lillia rasakan saat ini. Tiba-tiba kepalanya berputar terasa pusing sekali. Hawa mata yang panas membuat wanita itu meneteskan air matanya. Sungguh Lillia ingat jika beberapa menit lalu ia merasakan tubuhnya baik-baik saja.
"Mas Firhan, aku baik-baik saja. Pergilah, Mas." tuturnya yang sangat tidak enak melihat Firhan justru repot memberikan ia minyak aroma therapi agar tidak pusing. Bahkan Firhan langsung mengambilkan alat kompres untuk Lillia. Di letakkan di kening sang istri dan kini Firhan melihat tubuh Lillia yang bergetar.
"Lia, kamu kedinginan?" tanya Firhan menyentuh leher Lillia. Tak ada jawaban, Lillia hanya mampu memejamkan matanya menahan sakit di kepala.
Bahkan rasanya kepalanya semakin sakit jika kedua matanya terbuka. Hingga cukup lama Lillia diam dengan Firhan yang terus sibuk melakukan apa saja demi menurunkan sakit sang istri. Menyelimuti tubuh Lillia, memberikan kaus kaki dan menumpuk beberapa selimut lagi di atas tubuh wanita itu.
Kini akhirnya Firhan teringat akan sang istri. Zaniah tujuannya saat ini. Sungguh Firhan benar-benar pusing hari yang seharusnya ia nikmati bersama sang istri pertama justru hancur. Di tambah pelayan yang pergi pulang kampung.
"Ayo Niah, angkat telponnya." gumam Firhan gemas sendiri rasanya.
Beberapa kali ia terus menghubungi sang istri namun panggilannya terus tidak terjawab. Menyerah satu-satunya pilihan pria itu saat ini. Ia lebih memilih fokus mengurus Lillia yang sudah tampak lebih tenang meski tubuhnya masih demam dan terasa bergetar menahan dingin.
"Mas, aku kedinginan." keluh Lillia yang tidak kuat lagi. Beberapa kali Firhan melihat air mata wanita itu menetes.
Tak ada cara lain, obat pun tidak mungkin ia berikan saat ini pada Lillia. Satu cara yang belum ia coba. Pelan FirhanĀ meneguk kasar salivahnya sebelum tubuhnya bergerak untuk melanjutkan pikirannya.
"Lia, Mas permisi sebelumnya. Apa boleh Mas hangatkan dengan tubuh Mas? Cuman itu yang Mas tahu karena tidak mungkin kamu minum obat." ujarnya sangat hati-hati. Takut jika saja Lillia marah lantaran merasa tersinggung.
__ADS_1
Dan Zaniah pun tahu akan hal itu, ia pun menganggukkan kepalanya memejamkan mata. Tak kuasa menahan sakit dan malu yang bersamaan ia rasakan saat ini. Hanya pasrah jalan terbaik. Meski dalam hati terdalam ada perasaan senang saat mendapatkan kesempatan untuk mengambil hak yang seharusnya lebih dari sekedar menghangatkan tubuhnya.