
"Kamu sungguh bersyukur menjadi pelayan, jika tidak aku akan mempekerjakan kamu menjadi pencuci piring," ucap Candra.
"Kamu tidak perlu bekerja," ucap Senja kepada temannya itu.
"Jadi pelayan pun tidak masalah, asalkan terus bersama mu," ucap Momo tersenyum manja.
Senja terlihat sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Dia tersenyum?" tanya pria itu dalam hati melihat satu sisi sudut bibirnya naik.
"Senja," ucap Candra dan Senja pun melihat ke arah Candra kembali ke wajah datarnya.
"Kamu bekerja nanti apa bisa tersenyum?" tanya Candra.
"Saya usahakan," jawab Senja enteng.
Tuing!
Serasa di lempar pake dandang gede mendengar jawaban Senja.
"Apa! Usahakan! Senyum itu bukan paksaan yang harus di usahakan, kamu harus tersenyum saat pelanggan datang untuk membayar bill nya, kamu mengerti?" tanya Candra mengangkat alisnya.
"Aku mengerti," angguk Senja.
"Baiklah, kamu silakan pulang dan besok kamu harus bekerja," ucap Candra.
__ADS_1
"Tunggu dulu, kemungkinan aku akan datang sekitar jam 11 siang setiap harinya, karena aku harus kuliah dulu," ucap Senja.
"Kalau kamu kuliah kenapa kamu bekerja?" tanya Candra.
"Jika Anda tidak membutuhkan saya, saya bisa pergi mencari tempat lain yang membutuhkan tenaga saya," ucap Senja berdiri.
"Baiklah, baiklah, kamu boleh datang siang," jawab Candra pasrah.
"Terima kasih," ucap Senja menundukkan kepala dan ia pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
Candra hanya menatap kepergian Senja tanpa berkedip. "Sial! Kenapa aku setuju? Apa aku sudah di hipnotis olehnya? Tapi punya pekerja sepertinya tidak buruk juga," ucap Candra tersenyum mengembang.
Senja dan Momo pun naik mobil dan Senja pun melajukan mobilnya menuju rumah Momo.
"Jangan biarkan sesuatu yang mengatur mu, termasuk waktu," ucap Senja.
"Hm… apa karena pesona guru yang tak biasa ini ya?" tebak Momo sambil tersenyum.
Wusshhhh...
Sebuah mobil melewati mobil Senja. "Aku seperti mengenali mobil itu, lebih baik aku ikutin saja mobil itu," ucap Senja menginjak pedal gas mobilnya dan semakin laju.
Mobil itu pergi ke suatu tempat berbelok ke kanan dan berhenti di sebuah tempat latihan.
Keluarlah 2 orang Senja kenal dari dalam mobil dan masuk ke tempat itu. Dia adalah Miska dan Donal.
__ADS_1
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Senja menatap dari kejauhan.
"Momo, kamu tunggu di sini dulu ya, jangan kemana-mana, di sini tempatnya tidak terlalu aman, aku akan segera kembali," ucap Senja keluar dari mobil dan menutupnya kembali.
"Baik Master," angguk Momo menurut.
Senja mengendap-endap masuk ke sana dan melihat Apa saja yang di lakukan Donal dan Miska.
Senja melompat dan ia mendarat di dinding tempat latihan itu dan kemudian naik ke atas atap dan membaringkan dirinya dia tas atap itu dan mulai mengintip.
Terlihat Donal dan Miska sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya dengan seragam bela dirinya, jika terlihat, pria itu adalah guru di tempat latihan itu.
"Ah tidak mendengar, aku harus sedikit mendekat," ucap Senja merayap di atas atap itu dan mendengarkan percakapan mereka.
"Ha-ha-ha, tidak tahu anak muda berdua datang untuk mengambil alih tempat latihan ku ini dengan cara seperti ini, apa kalian sudah cukup kuat untuk melawan semua anak didik ku, kalian sangat percaya diri," ucap pria paruh baya itu tertawa dengan mendongakkan kepala.
"Heh! Pria tua, kami datang bukan untuk main-main, kami punya kekutan itu, jika kami kalah maka giok lukisan Phoenix ini akan menjadi milikmu," ucap Donal memperlihatkan giok lukisan Phoenix itu.
"Sial! Dia mempertaruhkan giok yang seharusnya milikku itu, lihat saja nanti, aku kan mengambilnya nanti," ucap Senja geram.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen hadiah dan iklan
Terima kasih
__ADS_1